 | About Me | Jun 9, 2007 |
Karya Religius H. Sunaryo AY Jl. Kebon Nanas Selatan II RT 11/08 No.43 No. Telp (021) 8511567 Jakarta Timur Assalamu 'alaikum wr wb. Kumpulan Tulisan ini, sebelumnya hanya di Publikasikan di Masjid Jami Hasbullah Kebon Nanas Jakarta Timur, dan Majlis Ta'lim sekitarnya. Kini, mencoba beramal lebih luas dengan menyerahkan soft copy kepada anda semua. Silahkan download, dan pergunakan hingga bermanfaat setiap baris katanya. Wassalamu alaikum wr wb TTD Ananda Dany Wicaksono About H. Sunaryo A.Y Pengarang H. Sunaryo A.Y Novelis Kontemporer Religius, penulis cerpen terbaik di Zamannya. Seniman berdarah asli Jawa ( Lahir dari bapak dan ibu orang Jawa ), Tetapi yang kelahiran Betawi ( 8 Desember 1943 ) dan besar ( sekolah ) sampai SMA di Betawi dan yang sejak berumur 5 tahun hidup dan dibesarkan (dididik/diasuh) oleh Ibunya yang kedua, yang justru orang Betawi asli (tulen) ini. Ibu kandung beliau meninggal dunia ketika pengarang kita ini masih berumur 5 tahun. Sehingga jadilah H.Sunaryo A.Y Seniman yang berdarah asli Jawa tetapi yang berpenampilan (karakter tulisannya) justru asli Betawi. Pada tahun 1975 tiga buah cerpen tulisannya mendapat Pujian ( Penghargaan ) dari Departemen Penerangan Republik Indonesia dengan suratnya No : 63/Dirjen-PG/K/1975 dan No : 64/Dirjen-PG/K/1975. Surat Pujian ( penghargaan ) ini ditandatangani langsung oleh Bapak Direktur Jendral Pembinaan Pers dan Grafika, Bapak Sukarno, SH. Tulisan-tulisan beliau ( H. Sunaryo A.Y ) sering dimuat pada Majalah dan Surat kabar mingguan, diantaranya Majalah Violeta, Varia, Tropicana, Varia Nada dan Majalah Star Weekly dan Surat Kabar Mingguan Berita Minggu, Warta Berita Minggu, Surat Kabar Merdeka Minggu, Mingguan Angjangsana dan Mingguan Berita Indonesia Minggu, dan lain-lain. Majalah bulanan WBC memuat berbagai judul cerita bersambung (cerbung/cerber) H. Sunaryo A.Y. secara routine sejak tahun 1982 s.d 1992. Kini diusianya yang sudah berangkat senja, Novelis kita ( Pensiunan PNS Bea Cukai DKI ( Gol : III/b ) ) ini adalah penulis buku-buku bernafaskan Islam dan artikel-artikel religius bacaan untuk Syiar Dakwah Islam. Motto beliau : Saya berdakwah lewat tulisan. Buku-buku bernafaskan Islam (untuk syiar dakwah) yang pernah ditulis antara lain berjudul : "Menembus Pintu Pahala Menghapus Dosa", "Meraih Menggapai Pahala", "Hati Tergetar Melihat Ka’bah", "Mencari Malam Lailatul Qadar", "Hadiah Wirid ( Dzikir dan Do’a ) Nabi Khaidir AS", "Mengapa Saya Sholat Tarawih 23 Rakaat Dengan Witir?" dan "Apa Itu Ghibah dan Apa Itu Namimah?" ******************************************************************* Pesan (penulis) kepada saudara-saudara sesama muslim: ******************************************************************* Hayoo.. kita sebar luaskan nilai-nilai Islam dimuka bumi ini, hingga seluruh insan, hingga setiap individu-individu manusia hanya mengabdi kepada Allah SWT dan menyadari akan kekeliruan penghambaan diri kepada selain Allah. Ingat !! Dosa besar yang tidak termaafkan adalah: Menyekutukan Allah SWT. ******************** STOP PRESS !!! ******************** Saudaraku sesama muslim, dimanapun kalian berada. Dikota-kota besar, di Republik tercinta ini. Di Jakarta, Bandung, Medan, Ujung Pandang, dll. Dan bahkan kalian berada di Negara-negara belahan dunia. Seperti di Malaysia, Singapura, India, Negara-negara di Timur Tengah, Arab Saudi, Amerika, dan lain-lain. Anda ingin dan anda butuh tulisan (artikel) religius bacaan untuk Syiar Dakwah Islam yang menyejukkan ? Tepat sekali ! Dapatkan tulisan-tulisan H. Sunaryo A.Y. Puluhan judul tulisan (artikel) religius bacaan khusus untuk Syiar Dakwah Islam tersedia. Disusun oleh H. Sunaryo A.Y dengan apik, penuh ke hati-hatian, bersandar ( berdasarkan ) pada Ayat-ayat suci Al-Qur’an dan ;Hadist-hadist Rosulullah SAW. Caranya ?! * Kunjungi internet ! * Buka Website dengan alamat : www.hajisunaryo.co.nr Terima kasih ! Akhir Muharram 1427 H Doc.EDP-Dany Wicaksono,S.Kom

Artikel : Religius Edisi : Istimewa “BAGAIMANA AJARAN ISLAM TENTANG CINTA KEPADA KEBERSIHAN ? ” Oleh : H. Sunaryo A. Y. Saudaraku, sesama muslim. Alhamdulillah jumpa lagi kita kali ini dengan dakwah saya (lewat tulisan) sesuai judul artikel religius ini tersebut diats, semoga dapat menjadai sebagai penyejuk dan penawar bagi kita pecinta-pecinta tulisan (bacaan) bernafaskan Islam. Saudaraku, kebersihan adalah masalah yang sangat penting dalam ajaran islam. Allah SWT adalah Dzat yang Maha Suci dan mencintai kesucian. Oleh karena itu, sebagai orang yang beriman kepada Allah berarti kita harus membiasakan diri selalu menjaga kesucian. Salah satu cara menjaga kesucian adalah dengan terus berusaha untuk menciptakan kehidupan yang bersih baik lahir maupun bathin. Kenapa kita harus menjaga kebersihan? Karena dengan menjaga kebersihan, hidup kita menjadi sehat. Ingat akan pepatah : Kebersihan pangkal kesehatan. Artinya jika kita ingin sehat, konci utamanya adalah kebersihan diri dan lingkungan kita, sebaliknya jika diri dan lingkungan kita tidak bersih kemungkinan besar kita akan terserang penyakit. Sebab semua sumber penyakit biasanya bersarang di tempat-tempat kotor. Lalu siapa yang bertanggung jawab untuk mewujudkan kebersihan? Menjaga kebersihan bukan tanggung jawab sekelompok orang atau satu orang dan bukan tanggung jawab pemerintah semata-mata, tetapi menjadi tanggung jawab setiap orang. Jadi, semua pribadi harus turut serta dalam upaya menjaga kebarsihan. Lebih-lebih lagi kita orang beriman, karena menjaga kebersihan bagi orang yang beriman adalah ibadah dan merupakan bagian penting dari iman tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : ”Kebersihan itu adalah sebagian dari iman.” Kemudian dimana dan bagaimana cara kita menjaga kebersihan itu ? Saudaraku, simak pembahasan kita berikut ini : I. Islam mengajarkan kebersihan. Apakah kebersihan itu? Secara singkat kebersihan dapat diartikan sebagai sesuatu keadaan yang terbebas dari segala noda dan kotoran, baik yang tampak oleh mata maupun tidak. Oleh karena itu dalam Islam, menjaga kebersihan harus meliputi dua aspek, kebersihan lahir dan kebersihan bathin. Kebersihan lahir meliputi badan, pakaian, tempat tinggal dan lingkungan hidup. Sedangkan kebersihan bathin meliputi usaha untuk menghindarkan bathin kita dari sifat-sifat tercela yang bisa mengotorinya, antara lain : dengki, serakah, sombong, angkuh dan sebagainya. Agama Islam sangat memperhatikan masalah kebersihan. Beberapa buktinya dapat di kemuakakan sebagai berikut : a. Islam memberikan syarat agar ibadah yang dilakukan seseorang seperti shalat di angap syah, maka harus dilakukan dalam keadaan suci, baik badan, pakaian dan tempat b. Masalah kebersihan di hubungkan dengan keimanan, suatu masalah yang paling pokok bagi kehidupan seseorang muslim. Kebersihan dalam Islam merupakan bagian tidak terpisahkan dari iman. · Sesuai Sabda Nabi SAW : ”Kebersihan sebagian dari iman.” (HR. Ahmad) c. Dalam ajaran Islam banyak dibahas masalah kebersihan dan kesucian, misalnya wudhu, mandi, tayamum dan cara-cara menghilangkan hadast dan najis. Berdasarkan bukti-bukti diatas jelaslah bahwa masalah kebersihan mendapatkan perhatian yang besar dalam ajaran Islam. Hal ini berarti, menjaga kebersihan merupakan salah satu bentuk pengamalan ajaran tersebut. Oleh karena itu, wajar apabila orang-orang yang selalu menjaga kebersihan dan kesucian lahir dan bathin, sangat dicintai Allah. · Perhatikan Firman Nya : ”.... Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah : 222) Kemudian perhatikan pula dua buah hadist dari junjungan kita, junjungan umat, Nabi termulia, Rasul paling agung. · Bersabda Rasulullah SAW : ”Islam itu bersih, maka jagalah kebersihan dirimu, sesungguhnya yang akan masuk syorga hanyalah orang-orang yang bersih.” (HR. Baihaqi) · Dan Sabdanya : ”Sesungguhnya Allah SWT itu baik, menyukai hal-hal yang baik. Dia Maha Bersih, menyukai kebersihan. Dia Maha Mulia, menyukai kemuliaan dan Dia Maha Pemurah, menyukai kedermawanan. Karena itu, bersihkanlah tempat-tempatmu.” (HR. Turmudzi). Secara singkat isi kandungan dua buah hadist tersebut diatas sebagai berikut : 1. Kebersihan merupakan esensi ajaran Islam 2. Kebersihan dan kesucian merupakan hal yang sangat dicintai Allah 3. Kebersihan dan kesucian merupakan salah satu syarat masuk syorga 4. Kebersihan dan kesucian adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh orang-orang yang beriman. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa Islam sangat mementingkan masalah kebersihan. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi orang yang mengaku beriman untuk mengabaikan kebersihan dan kesucian. II. Peranan Kebersihan Bagi Kehidupan Pribadi dan Masyarakat : a. Peranan Kebersihan bagi kehidupan pribadi : Manusia mempunyai kewajiban untuk ikut serta dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, sebab manusia adalah makhluk sosial. Salah satu kegiatan kemasyarakatan yang harus didukung bersama adalah menjaga lingkungan agar tetap bersih. Akan tetapi hal itu sulit terwujud jika setiap anggota masyarakat tidak terbiasa menjaga kebersihan. Dengan perkataan lain, kebersihan lingkungan baru akan dapat di wujudkan bila setiap pribadi juga membiasakan diri untuk mewujudkannya. Dengan demikian kebersihan pribadi memberikan pengaruh penting bagi perwujudan lingkungan masyarakat yang bersih. Dalam sebuah pepatah dikatakan : Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Pepatah ini memberi penegasan bahwa guna menciptakan manusia yang memiliki jiwa sehat maka harus di mulai dengan membangun tubuh yang sehat pula. Sedangkan pembentukan tubuh yang sehat sangat bergantung dengan kebersihan setiap orang. Disinilah arti penting kebersihan bagi kehidupan pribadi. Dalam Islam kebersihan pribadi ini juga menjaga perhatian penting. Bila kita melihat kewajiban melakukan thaharah atau bersuci bagi setiap orang sebelum mengerjakan ibadah, berarti sesuatu itu sangat bermanfat bagi orang yang melakukannya. b. Peranan Kebersihan Bagi Kehidupan Masyarakat : Kebersihan lingkungan ini meliputi beberapa tempat, antara lain seperti berikut : 1. Kebersihan lingkungan tempat tinggal Tempat tinggal adalah tempat dimana kita hidup dan berkumpul bersama ayah, ibu, kakak, adik dan lain-lainnya. Di rumah itulah kita tidur, belajar, makan, mandi, berbagi rasa dengan keluarga. Oleh sebab itu agar kita sehat dan betah dirumah maka kebersihan, kenyamanan, kerapian dan keindahan rumah harus selau terjaga dengan baik. Misalnya, kamar tidur kita harus selalu bersih dan rapi, meja belajar dan buku-buku ditata dengan baik agar tidak berserakan disana sini. Halaman rumah, kamar mandi harus selalu diberishkan agar serangga pembawa penyakit seperti lalat dan nyamuk tidak bersarang ditempat – tempat tersebut. Kebersihan tempat tinggal ini sangat penting dan akan memberikan pengaruh positif terhadap keluarga tersebut. Selain untuk menghindari penyakit, kebersihan lingkungan tempat tinggal akan menjadikan penghuninya merasa nyaman, tentram dan damai. Tempat tinggal seperti inilah yang sering dikatakan orang denganungkapan : Rumahku adalah syorgaku. 2. Kebersihan Tempat Ibadah Tempat – tempat ibadah, seperti Masjid dan Musholla adalah tempat untuk melakukan penyembahan kepada Allah SWT dan kegiatan-kegiatan yang bertujuan baik lainnya. Agar tercipta ketenangan dan kekhusu’an dalam beribadah, maka keberihan tempat ibadah juga mutlak diperlukan. Jika tempat-tempat ibadah tidak terjaga kebrsihannya maka ibadah akan terganggu dan menyebabkan orang enggan untuk datang ketempat tersebut. Menjaga kebersihan Masjid atau Musholla menjadi tanggung jawab seluruh Jama’ah dan masyarakat sekitar. Jadi, meskipun di suatu masjid sudah ada petugas kebersihannya, kita tidak boleh membebankan tanggung jawab menjaga kebersihan masjid itu kepadanya. 3. Kebersihan Tempat Umum : Tempat Umum artinya tempat-tempat yang biasa dikunjungi dan dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Tempat tersebut bukan milik pribadi misalnya terminal, pasar, stasiun, halte bus, tempat rekreasi dan sebagainya. Tempat umum ini biasanya terdapat diberrbagai tempat – tempat strategis. Tempat-tempat umum harus dijaga kebersihannya. Jangan sampai kita termasuk orang yang mengotori tempat tersebut. Misalnya, kita tidak membuang sampath sembarangan seperti kertas, puntung rokok, bekas bungkus permen dan sebagainya. Sebab hal itu tidak hanya akan mendatangkan berbagai penyakit yang mengancam kesehatan masyarakat sekitar, tetapi juga menimbulkan bahaya lain seperti banjir, kita mempunyai kewajiban yang sama dengan warga lain untuk mewujudkan tempat umum yang bersih. Bila kewajiban tersebut dapat kita lakukan dengan baik, maka berarti kita telah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain (orang banyak). Dan Allah SWT pasti akan memberikan balasan (pahala) yang setimpat kepada kita yang telah melakukan sesuatu pekerjaan yang baik itu. Kebersihan tempat-tempat umum sangat penting artinya. Hal ini akan memberikan pengaruh terhadap upaya menumbuhkan citra masyarakat yang ertib dan teratur. Pada umumnya setiap orang sudah tahu (menyadari) manfaat kebersihan dalam kehidupan. Namun pada kenyataannya dimana-mana masih saja kita menjumpai tempat-tempat yang kotor bahkan sangat kotor. Kita pun sering endengar dan membaca berita tentang mewabahnya penyakit akibat dari lingkungan yang tidak bersih. Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita, insan-insan beriman bahwa mencintai kebersihan itu adalah suatu keharusan. Bukankah kebersihan itu sebagian dari iman ? • • • * (Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku : Islam Agamaku Tim Penyusun : Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.) * • • • * Tulisan (artikel) Religius ini dapat anda temukan pada website H. Sunaryo A.Y. dengan alamat : http://hajisunaryo.co.nr *
Artikel : Religius Edisi : Istimewa “UNTUK DAPAT SHALAT SECARA KHUSU’ HARUS DITUNJANG DENGAN PEMAHAMAN TERHADAP ARTI BACAAN SHALAT” Oleh : H. Sunaryo A. Y. (Mohon maaf, tidak disertai bahasa arab, dikarenakan kendala teknis) Saudaraku, sidang pembaca yang berbahagia. Sesuai judul artikel (religius) ini tersebut diatas, bahwa shalat adalah ibadah yang paling utama bagi seorang muslim. Selain dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar shalat juga merupakan amal yang akan dihisab pertama kali dan menjadi penentu diterima atau tidaknya amal-amal (ibadah) kita yang lain di akhirat nanti. Oleh karena itu shalat harus dilakukan secara benar dan khusu’. Untuk dapat melakukan shalat secara khusu’ selain memenuhi syarat dan rukunnya juga seyogyanya ditunjang dengan pemahaman terhadap arti bacaan dalam shalat. Saudaraku sesama muslim, berikut ini sedikit ilmu yang penulis miliki akan kami sampaikan kepada sidang pembaca yaitu akan diuraikan bacaan-bacaan shalat berserta artinya masing-masing. 1. Arti Takbir : Lafadz Takbiratul Ihram, adalah sebagai berikut : Artinya : Allah Maha Besar. Takbir Allahu Akbar diucapkan pada setiap perpindahan gerakan, seperti ketika hendak rukuk, sujud, bangun dari sujud atau ketika berdiri dari sujud kedua. · Lafadz niat shalat fardhu : Artinya : ”Saya sengaja shalat (sebutkan shalat apa) dan (sebutkan berapa rakaat) menghadap kiblat (sebagai makmum atau sebagai imam) karena Allah Ta’ala. Allahu Akbar.” Dalam niat shalat harus jelas shalat apa yang hendak kita kerjakan dan juga niat sebagai makmum atau imam. Pada niat shalat fardhu harus disebutkan nama shalat, jumlah rakaat, dan bertindak sebagai imam atau sebagai makmum hanya saja jangan terlalu keras mengucapkannya, cukup terdengar untuk telinga kita saja. 2. Arti do’a iftitah : · Do’a Iftitah yang biasa dibaca ada 2 (dua) macam : - Pertama :
Artinya : ”Allah Maha Besar lagi sempurna kebesaranNya. Dan segala puji bagiNya. Maha Suci Allah sepanjang pagi dan petang. Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan berserah diri dan aku bukanlah dari golongan orang-orang yang musyrikin. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya dan untuk itulah aku diperintahkan dan (semoga) aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (muslimin).” - Kedua :
· Atau ada yang membaca sebagai berikut : Artinya : ”ya Allah, jauhkanlah aku dari kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara barat dan timur. Ya Allah, bersihkanlah aku dari segala kesalahan sebagimana bersihnya kain putih dari kotoran. Ya Allah, sucikanlah segala kesalahanku dengan air, salju dan embun.” 3. Arti Surat Al-Fatihah : ”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Ma Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Mu lah kami menyembah dan hanyak kepada Mu lah kami memohon pertolongan. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah : 1-7) 4. Arti Bacaan Rukuk : · Bacaan yang biasa dibaca pada waktu rukuk ada tiga macam, yaitu : a. ”Maha suci Tuhanku Yang Maha Agung dan hamba memujiNya.” b. ”Maha suci Tuhanku Yang Maha Agung.” c. ”Maha Suci Engkau Ya Tuhan kami dan dengan memuji kepada Engkau Ya Allah aku memohon ampun.” 5. Arti Bacaan I’tidal : · Bacaan Do’a I’tidal yang umum ada dua macam, yaitu : a. ”Allah mendengar orang yang memujiNya.” - ”Allah mendengar orang yang memujiNya Ya Allah Tuhan kami! BagiMu segala puji, sepenuh langit dan bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki sesudah itu.”
6. Arti Bacaan Sujud : · Bacaan waktu sujud ada tiga macam, yaitu : a. Ada yang membaca : ”Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi dan hamba memujiNya.” b. Ada sebagian yang membaca : ”Maha suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.” c. Dan sebagian lagi ada yang membaca : ”Maha suci Engkau Ya Allah Ya Tuhan kami dan dengan memuji kepada Engkau ya Allah aku memohon ampun.” 7. Arti Bacaan Do’a antara Dua Sujud : - Ada yang membaca :
”Ya Tuhanku, ampunilah dosaku, limpahkanlah rahmat kepadaku, cukupilah aku, tinggikanlah derajatku berilah aku rezeki, tunjukilah aku, sehatkanlah aku, dan maafkanlah aku.” - Ada juga yang membaca :
”Ya Allah, ampunilah aku, limpahkanlah rahmat kepadaku. Cukupilah aku, tunjukkan aku dan berikanlah rezeki kepadaku.” - Sebagian lagi ada yang membaca :
”Ya Tuhanku, ampunilah aku, ampunilah aku.” 8. Arti Bacaan Tasyahud Awal dan Akhir : - Yaitu membaca :
”Segala kehormatan, keberkatan dan do’a yang baik-baik adalah milik Allah. Keselamatan atas engkau wahai Nabi, demikian pula rahmat Allah dan KaruniaNya. Keselamatan semoga atas kami dan atas hamba-hamba yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya.” - Atau membaca :
”Segala kehormatan bagi Allah dan do’a yang baik-baik adalah kepunyaanNya. Keselamatan atas engkau wahai Nabi, demikian pula rahmat Allah dan berkahNya. Keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusannNya. Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya.” · Untuk kesempurnaan bacaan saat tasyahud akhir, ditambah dengan : ”Sebgaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan berikanlah keberkahan atas Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikannya kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya diseluruh alam semesta ini, sesungguhnya hanya Engkaulah yang Maha Terpuji Lagi Maha Mulia.” 9. Arti Bacaan Salam : - Ada yang membaca :
As-salaamu’alaikum warahmatullaah. ”Keselamatan dan rahmat Allah semoga tetap pada kamu sekalian.” - Atau ada yang membaca :
As-salaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh. ”Keselamatan dan rahmat Allah serta keberkatan semoga tetap bagimu sekalian.” 10. Arti Do’a Qunut : · Do’a Qunut adalah do’a yang dibaca pada waktu shalat subuh setelah rukuk pada rakaat kedua, sebagai berikut : ”Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk. Dan sehatkanlah aku sebagaimana orang yang telah Engkau beri kesehatan. Dan tolonglah aku sebagaimana orang yang telah Engkau beri pertolongan. Dan berikanlah aku keberkahan sebagiamana orang yang telah Engkau berkahi. Dan jagalah aku dengan rahmatMu dari keburukan sesuatu yang telah Engkau pastikan. Sesungguhnya Engkau Maha Menentukan dan tidak ada yang menentukan atasMu. Sesungguhnya tidak akan hina orang-orang yang telah Engkau beri kekuasaan dan tidak akan mulia orang-orang yang telah Engkau musuhi. Maha Suci Engkau, Maha Luhurlah Engkau. Segala puji bagiMu atas yang telah Engkau pastikan. Aku mohon ampun dan kembali (tobat) kepadaMu. Semoga Allah memberi rahmat, berkah dan keselamatan atas Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya.” • • • ( Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku: Islam Agamaku oleh : Tim Penyusun Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Dan buku : Risalah Tuntunan Shalat Lengkap oleh : Drs. Moh. Rifa’i.) • • • * Tulisan (artikel) Religius ini dapat anda temukan pada website H. Sunaryo A.Y. dengan alamat : http://hajisunaryo.co.nr * • • •
Artikel : Religius Edisi : Istimewa “DETIK–DETIK TERAKHIR WAFATNYA RASULULLAH SAW.” Oleh : H. Sunaryo A. Y. Saudaraku, sidang pembaca yang budiman. Sebagai muslim, siapa yang tidak kenal kepada Nabi Muhammad SAW ? Rasulullah SAW tercatat sebagai pemimpin yang handal dan sukses. Handal sebagai pemimpin umat, sukses didalam melaksanakan tugas kenabian. Saat itu di tengah-tengah kebiadaban kekejaman dan kebobrokan akhlak masyarakat jahiliyah di kota Mekkah lahirlah seseorang yang nantinya akan menjadi utusan Allah dari bangsa Quraisy. Bernama Muhammad putra Abdullah, ibunya bernama Siti Aminah. Terlahir pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah bertepatan dengan tanggal 20 April tahun 571 M. Tidak dapat dipungkiri, kehadiran Nabi SAW telah berhasil mengikis habis prilaku jahiliyah dan mengubahnya dengan keimanan kepada Allah SWT. Beliau berjuang mengembangkan agama Islam selama 23 tahun di dua tempat yaitu kota Makkah selama 13 tahun dan kota Madinah selama 10 tahun. Selama 23 tahun perjuangan beliau melaksanakan tugas mulia dari Allah SWT dengan sikap jujur, memelihara amanah, rajin, ulet, mandiri, bertanggung jawab, berani memikul risiko dan berkeperibadian yang baik serta berbudi pekerti yang patut diteladani dan Nabi SAW telah berhasil menegakkan agama Allah, menyampaikan (Syiar dakwah Islam) ajaran agama yang berharga itu kepada umat manusia. Saudaraku, sejarah kehidupan Rasulullah SAW memang merupakan hal yang sangat penting diketahui setiap muslim. Darinya seseorang akan mendapatkan gambaran utuh tentang kehidupan seorang muslim yang ideal dalam semua sisi dan fase kehidupannya. Hal tersebut tidaklah berkelebihan, karena Allah SWT memang telah menyiapkan kepribadian Rasulullah SAW sebagai panutan utama kaum muslimin. ”Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah SAW itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab : 21) Dan yang harus diketahui adalah Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul terakhir. - Sesuai Firman Allah SWT yang termaktub didalam kitab suci Al-Qur’an :
”Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu tetapi ia adalah Rasul Allah dan Penutup para Nabi ...” (QS. Al-Ahzab : 40) Sekarang ini memang sedang maraknya bermunculan bagai jamur Nabi-nabi palsu. Sungguh suatu kebodohan yang terlalu naif bagi mereka yang mengikuti (mengakui) pendusta – pendusta itu sebagai seorang Nabi dan Rasul. Naudzu billah! Summa Naudzu billah. (Ket. : Setentang Nabi-nabi palsu, seperti Mirza Ghulam Ahmad, Musailamah al Khadzdzab, Ahmad Musaddeq, Lia Eden, dan lain-lain lagi dapat pembaca ikuti lewat tulisan H. Sunaryo A.Y. berjudul : Nabi Muhammad SAW Sebagai Nabi dan Rasul Terakhir.) Saudaraku, sidang pembaca. Sesuai judul tulisan (artikel) religius ini tersebut diatas, kita simak sebuah kematian terindah dalam sejarah manusia. Yaitu detik-detik terakhir wafatnya Rasulullah SAW, sebuah kisah nyata yang begitu mengagumkan sekaligus mengharukan serta menggetarkan dada setiap insan-insan beriman seperti berikut ini. Ketika dakwah sudah semakin sempurna dan Islam sudah mengendalikan keadaan, mulailah tampak tanda-tanda perpisahan Rasulullah SAW dengan kehidupan. Hal tersebut tampak dari perasaan, ucapan dan perbuatan beliau (Nabi SAW). Pada tahun 10 H. Rasulullah SAW mengumumkan akan melaksanakan ibadah Haji (Haji Wada’). Pada tanggal 8 Dzulhijjah (hari Tarwiyah) Rasulullah SAW menuju Mina, setelah itu berangkat ke Arofah dan beliau singgah di Namirah lantas berangkat lagi hingga lembah Wadi’ di sana sudah berkumpul sekitar 144.000 manusia. Nabi SAW menyampaikan khotbahnya (Khatbah Wada’ di Arofah). : ”Wahai manusia, dengarlah ucapanku, karena sesungguhnya mungkin aku tidak akan menjumpai kalian lagi setelah tahun ini di tempat wakaf ini selamanya. Sesungguhnya darah dan harta kalian suci, sebagaimana sucinya hari ini dan Negeri ini. Ketahuilah semua perkara-perkara jahiliyah berada dibawah kakiku tidak berlaku, begitu juga dengan darah jahiliyah telah tidak berlaku. Darah pertama yang aku batalkan adalah darah Rabi’ah bin Al-Harist yang dahulu disusui di Bani Sa’ad lalu di bunuh oleh Hudzail. Riba jahiliyah juga telah tidak berlaku dan riba pertama yang aku batalkan adalah ribanya Abbas bin Abdul Muththalib, sesungguhnya semuanya tidak lagi berlaku. Bertawakalah kalian kepada Allah SWT dalam urusan wanita, karena kalian mengambil mereka dengan amanah Allah, kalian halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Untuk itu, hak kalian adalah bahwa istri-istri kalian tidak boleh menghamparkan alasnya kepada orang yang kalian tidak sukai. Jika mereka melakukan hal itu, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Sedang hak mereka yang merupakan kewajiban kalian adalah diberi nafkah dan sandang yang layak. Aku tinggalkan untuk kalian sesuatu yang tidak akan membuat kalian tersesat jika berpegang teguh kepadanya, yaitu Kitabullah. Wahai manusia, sesungguhnya tidak ada Nabi setelahku, tidak ada umat setelah kalian. Maka sembahlah Rabb kalian, shalatlah lima waktu, puasalah di bulan kalian (Ramadhan), tunaikanlah zakat harta kalian yang akan mensucikan diri kalian, tunaikanlah Haji ke Baitullah, ta’atilah pemimpin kalian, kalian akan masuk syorga Tuhan Rabb kalian.” ”Kalian bertanya tentang aku, apa yang akan kalian katakan ?” mereka menjawab : ”Kami bersaksi bahwa engkau telah menunaikan (amanah) dan memberi nasihat.” lalu Rasulullah SAW berkata seraya mengangkat telunjuknya ke langit kemudian mengarahkannya kearah manusia seraya berkata : ”Ya Allah, saksikanlah.” (Nabi SAW mengucapkannya sebanyak tiga kali.) - Diterangkan di dalam riwayat bahwa setelah selesai khutbah, turunlah Firman Allah SWT :
”Pada hari ini telah Ku sempurnakah untuk kamu agamamu dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu,” (QS. Al-Maidah : 3) · Sayyidina Umar Ibnu Khattab r.a. yang mendengar ayat tersebut menangis, ketika ditanya kenapa beliau menangis, beliau (Sayyidina Umar Ibnu khattab r.a. ) menjawab : ”Sesungguhnya sesuatu yang telah sempurna, berikutnya akan berkurang.” · Sementara dalam riwayat yang lain Sayyidina Abu Bakar Shiddiq r.a. menangis. Bersabda Rasulullah SAW kepadanya : ”Apa yang membuatmu menangis dalam ayat tersebut?” Sayyidina Abu Bakar Shiddiq r.a. menjawab : ”Ini adalah berita kematian.” · Kembalilah Rasulullah SAW dari Haji Wada’ dan kurang dari 7 hari wafat beliau SAW turunlah ayat Al-Qur’an paling akhir yaitu surat Al-Baqarah ayat 281 sebagai berikut : ”Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah : 281) · Pada awal-awal bulan Safar tahun 11 Hijriyah Rasulullah SAW mulai menampakkan sakit. Nabi SAW berkata : ”Aku ingin mengunjungi Syuhada Uhud.” Maka beliau pun berangkat pergi menuju Syuhada Uhud dan beliau (Nabi SAW) berdiri diatas makam para Syuhada seraya berkata : ”Assalamualaikum wahai Syuhada Uhud, kalian adalah orang-orang yang mendahului (kami) dan kami insya Allah akan menyusul kalian dan sesungguhnya aku, insya Allah akan menyusul (kalian).” setelah itu Rasulullah SAW menuju mimbar dan berpidato : ”Aku akan mendahului kalian aku akan menjadi saksi bagi kalian, sungguh sekarang aku telah melihat telagaku dan sungguh aku telah diberikan konci-konci bumi dan simpanannya sunguh aku tidak takut kalian berlaku syirik setelahku, akan tetapi yang aku takutkan adalah kalian saling berlomba – lomba terhadap dunia.” Kemudian Rasulullah SAW pulang sambil menangis. Maka para Sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW : ”Apa yang membuat anda menangis, wahai Rasulullah ?” Nabi SAW bersabda : ”Aku merindukan saudara-saudaraku seiman.” Mereka (para sahabat) berkata : ”Bukankah kami adalah saudaramu seiman wahai Rasulullah ?” Beliau SAW bersabda : ”Bukan, kalian adalah sahabat-sahabatku, adapun saudara-saudaraku seiman suatu kaum yang datang setelahku, mereka beriman kepadaku sedang mereka belum pernah melihatku.” Subhanallah! Maha suci Allah! Saya (penulis) berdo’a semoga kita-kita ini (yang hidup di abad 20) adalah orang-orang muslim (saudara seiman) yang dirindukan oleh Rasulullah SAW. Amin! Ya Rabbal Alamin. Pada tanggal 29 Safar tahun 11 H, hari Senin. Rasulullah SAW menderita sakit kepala dan merasakan panas yang teramat sangat. Nabi SAW telah benar-benar sakit dan terus bertambah sakit. Selama sakitnya itu beliau tetap memimpin shalat selama 11 hari dari 13 atau 14 hari masa sakit beliau. Pada hari itu (empat hari sebelum wafat beliau) Nabi SAW masih sempat shalat maghrib sebagai imam dengan membaca surat Al-Mursalat. Namun pada waktu shalat Isya sakitnya semakin berat sehingga beliau tidak kuasa untuk keluar. Aisyah r.a. (radhiallahu ’anha) mengisahkan, saat itu Rasulullah SAW bertanya kepadanya : ”Apakah orang – orang sudah shalat?” Aisyah r.a. menjawab : ”Belum ya Rasulullah, mereka menunggumu.” Rasulullah lalu minta diambilkan air untuk mandi, kemudian beliau mandi, setelah itu beliau pingsan. Setelah sadar beliau bertanya lagi: ”Apakah orang-orang sudah shalat?” Dijawab : ”Belum ya Rasulullah, mereka menunggumu.” lalu beliau mandi lagi, kemudian pingsan lagi, begitu seterusnya hingga terjadi tiga kali. Setelah itu Nabi SAW meminta Abu Bakar Shiddiq untuk menjadi imam shalat. Maka Sayyidina Abu Bakar Shiddiq r.a. mengimami shalat pada hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah SAW sebanyak tujuh belas kali. Tiga hari sebelum beliau (Nabi SAW) wafat, sakit beliau mulai mengeras. Beliau saat itu berada di rumah Sayyidah Maimunah r.a. Beliau SAW bersabda : ”Kumpulkan istri-istriku.” maka berkumpullah istri-istri beliau SAW, beliau bersabda : ”Apakah kalian mengizinkan aku untuk tinggal di rumah Aisyah?” maka mereka menjawab : ”Kami mengizinkan anda wahai Rasulullah.” kemudian beliau berkeinginan untuk berdiri akan tetapi beliau tidak mampu. Datanglah Ali bin Abi Thalib r.a. dan Al-Fadl bin Al-Abbas r.a. maka mereka pun membopong Rasulullah SAW, lalu mereka memindahkan beliau SAW dari kamar Maimunah r.a. menuju kamar Aisyah r.a. Adapun para Sahabat, baru pertama kali ini mereka melihat Rasulullah SAW dibopong diatas dua tangan. Maka berkumpulah para Sahabat dan mereka berkata : ”Apa yang terjadi pada Rasulullah, apa yang terjadi pada Rasulullah ?” mulailah manusia berkumpul di dalam masjid. Masjid pun mulai penuh dengan para sahabat. Nabi SAW dibawa menuju rumah Aisyah r.a. mulailah Rasulullah SAW mencucurkan keringat, berkeringat dan berkeringat. Berkatalah Aisyah r.a. : ”Sungguh belum pernah aku melihat ada seorang manusia yang berkeringat deras seperti ini.” Maka dia mengambil tangan Rasulullah SAW dan dengannya dia (Aisyah r.a.) mengusap keringat beliau. (Mengapakah dia (Aisyah r.a.) mengusap keringat dengan tangan beliau (Nabi SAW) dan tidak mengusapnya dengan tangannya (Aisyah r.a.) sendiri ?) maka Aisyah r.a. berkata : ”Sesungguhnya tangan Rasulullah SAW lebih lembut dan mulia dari pada tanganku, oleh karena itulah aku mengusap keringat beliau dengan tangan beliau dan tidak dengan tanganku.” (Ini adalah sebuah penghormatan terhadap Nabi SAW.) Sehari sebelum Rasulullah SAW wafat, yaitu hari Ahad beliau SAW memerdekakan budaknya. Beliaupun bersedekah sebanyak sembilan dinar, senjatanya dihadiahkan kepada kaum muslimin. Pada malam harinya, Aisyah r.a. meminjam minyak untuk lampu dari tetangganya. Saat itu, baju besinya digadaikan kepada seorang Yahudi untuk mendapatkan tiga puluh Sha’ gandum. - Aisah r.a. berkata : ”Aku mendengar Rasulullah SAW berkata :
”Laa Ilaaha Illallah, sesungguhnya setiap kematian ada sakaratnya.” dan diulangi : ”Laa Ilaaha Illallah, sesungguhnya kematian itu memiliki sakarat.” Mulailah suara-suara didalam Masjid meninggi. Bersabdalah Nabi SAW : ”Apa ini?. Berkata Aisyah : ”Sesungguhnya manusia mengkhawatirkan anda wahai Rasulullah.” Nabi SAW bersabda : ”Bawalah aku kepada mereka.” maka beliau berkehendak untuk bangun, akan tetapi tidak mampu. Maka para sahabat menyiramkan tujuh Qibrah air kepada beliau hingga beliau bangkit dan para sahabat membawa beliau naik di atas mimbar. Jadilah khutbah tersebut adalah khutbah terakhir beliau SAW, menjadi kalimat terakir Rasulullah SAW dan do’a terakhir Rasulullah SAW. Beliau bersabda : ”Wahai manusia, kalian mengkhawatirkan aku?” mereka menjawab : ”Ya, wahai Rasulullah.” Bersabda Rasulullah SAW : ”Sesungguhnya tempat perjanjian kalian dengan aku bukanlah di dunia, tempat perjanjian kalian denganku adalah di haudh (telaga). Demi Allah, sungguh seakan-akan aku sekarang sedang melihat kepadanya di depanku ini. Wahai manusia, demi Allah, tidaklah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi yang aku khawatirkan adalah dibukanya dunia atas kalian sehingga kalian akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Maka dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana dia telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” Kemudian Nabi SAW bersabda : ”Allah – Allah, shalat, Allah-Allah, shalat.” (Maksudnya : Aku bersumpah demi Allah terhadap kalian agar kalian menjaga shalat.) beliau terus mengulang – ulangnya, lantas bersabda : ”Wahai manusia, bertakwalah kalian terhadap kaum wanita, aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik terhadap kaum wanita.” kemudian beliau bersabda : ”Wahai manusia, sesungguhnya ada seorang hamba yang Allah SWT telah memberikan pilihan kepadanya antara dunia dan antara apa yang ada disisi-Nya.” Tidak ada seorangpun yang memahami siapakah yang dimaksud dengan seorang hamba oleh Rasulullah SAW tadi, padahal yang dimaksud oleh Rasulullah SAW adalah diri beliau sendiri. Allah SWT telah memberikan pilihan kepada beliau dan tidak ada seorang pun yang paham selain Abu Bakar Shiddiq r.a. Dan kebiasaan para sahabat adalah bahwa saat Rasulullah SAW berbicara mereka berdiam, seakan-akan ada seekor burung yang bertengger diatas kepala mereka. Maka saat Abu Bakar Shiddiq r.a. mendengar perkataan Rasulullah SAW dia (Abu Bakar Shiddiq) tidak mampu menguasai dirinya, dengan serta merta dia menangis sesenggukkan dan ditengah Masjid dia memotong pembicaraan Rasulullah SAW, dia pun (Abu Bakar Shiddiq) berkata : ”Kami tebus anda dengan bapak-bapak kami wahai Rasulullah, kami tebus anda dengan anak-anak kami wahai Rasulullah, kami tebus anda dengan harta-harta kami wahai Rasulullah.” Abu Bakar Shiddiq mengulang-ngulangnya, sementara para sahabat yang lain melihat kepadanya dengan pandangan heran, bagaimana dia (Abu Bakar Shiddiq) berani memotong khutbah Rasulullah SAW?! Rasulullah SAW bersabda : ”Wahai manusia, tidak ada seorang pun diantara kalian yang memiliki keutamaan disisi kami melainkan Abu Bakar, aku tidak mampu membalasnya, maka aku tinggalkan balasannya kepada Allah SWT. Setiap pintu menuju Masjid ditutup kecuali pintu Abu Bakar r.a. tidak akan ditutup selamanya.” Kemudian mulailah beliau (Nabi SAW) berdo’a untuk mereka dan berkata pada akhir do’a beliau SAW sebelum wafat beliau : ”Mudah-mudahan Allah SWT menetapkan kalian, mudah-mudahan Allah menjaga kalian, mudah-mudahan Allah menolong kalian, mudah-mudahan Allah meneguhkan kalian, mudah-mudahan Allah menguatkan kalian, mudah-mudahan Allah melindungi kalian.” Dan kalimat terakhir yang beliau sampaikan sebelum turun dari atas mimbar adalah : ”Wahai manusia, sampaikanlah salamku kepada orang yang mengikutiku diatara umatku hingga hari kiamat.” Setelah itu beliau pun dibawa kembali kerumah beliau SAW. Datanglah Abdul Rahman Ibnu Abu Bakar dan ditangannya ada sebatang siwak, Nabi SAW terus melihat kearah siwak tersebut tetapi tidak mampu berkata aku menginginkan siwak. Aisyah r.a. berkata : ”Aku paham dari pandangan mata beliau bahwa beliau menginginkan siwak maka aku mengambil siwak itu dari Abdul Rahman Ibnu Abu Bakar. Kemudian aku letakkan di mulutku agar aku melunakkannya untuk Nabi, kemudian aku berikan siwak itu kepada beliau. Maka sesuatu yang paling akhir masuk kedalam perut Nabi SAW adalah air dari mulutku.” Aisyah r.a. berkata : ”Termasuk sebuah keutamaan dari Rabb-ku atasku adalah Dia telah mengumpulkan air dari mulutku dengan ludah Nabi SAW sebelum beliau wafat.” Selesai bersiwak beliau SAW mengangkat tangannya dan jarinya dan matanya memandang langit – langit, bibirnya bergerak perlahan berkata. Aisyah r.a. berusaha mendengarkannya : ”Bersama – sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, para Shiddiqin, orang – orang yang mati syahid dan ornag-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah dan Allah SWT cukup mengetahui.” (QS. An-Nisa : 69-70) Pada hari Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awal 11 H, masuklah kedalam kamar Rasulullah SAW putri beiau, Fathimah r.a. yaitu pada waktu Dhuha dan ia (Fathimah r.a.) menangis. Dia menangis karena biasanya setiap kali dia datang menemuai Rasulullah SAW, maka beliau (Nabi SAW) berdiri dan menciumnya diantara kedua matanya. Akan tetapi sekarang beliau (Nabi SAW) tidak mampu berdiri untuknya. Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya : ”Mendekatlah kemari wahai Fathimah.” Beliau SAW membisikkan sesuatu ditelinganya, maka Fathimah r.a. menangis. Rasulullah SAW bersabda lagi : ”Mendekatlah kemari wahai Fathimah.” Beliaupun membisikkan sesuatu lagi, maka sekali ini Fathimah r.a. tertawa.” (Setelah kematian Rasulullah SAW para Sahabat bertaya kepada Fathimah r.a. setentang apa yang dibisikan ayahanda beliau (Nabi SAW) kepada Fathimah) Dan dijawab oleh Fathimah r.a. sebagai berikut : ”Pertama kali ayahanda (Nabi SAW) berkata kepadaku : ”Wahai Fathimah, aku akan meninggal karena sakitku ini.” maka aku pun menangis. Ketika beliau melihat aku menangis beliau kembali berkata kepadaku katanya : ”Engkau wahai Fathimah, adalah keluargaku yang pertama kali akan bertemu denganku.” itulah maka akupun tertawa.” Rasulullah SAW memanggil kedua cucu beliau, Hasan dan Husain dan Nabi SAW menciumi keduanya serta berwasiat kebaikan kepada mereka berdua. Lalu Nabi SAW memanggil semua istrinya, menasehatinya dan mengingatkan mereka. Beliau berwasiat kepada seluruh manusia yang hadir agar menjaga shalat dan wasiat ini juga teruntuk kepada segenap kaum muslimin : ”Shalat, shalat dan (perhatikanlah) budak – budak kalian yang kalian miliki.” Diulanginya hal tersebut berkali-kali, maksudnya agar memperhatikan kedua hal tersebut. Lalu rasa sakit pun terasa semakin berat maka beliau bersabda : ”Keluarlah siapa saja dari rumahku.” Dan beliau bersabda lagi : ”Mendekatlah kemari wahai Aisyah.” Beliau (Nabi SAW) tidur di dada istri beliau, Aisyah r.a. Aisyah r.a. berkata : ”Beliau SAW mengangkat tangannya seraya bersabda : ”Bahkan Ar-Rafiqul A’la, Bahkan Ar-Rafiqul A’la.” (Maka diketahuilah bahwa di sela-sela ucapan beliau, beliau disuruh memilih diantara kehidupan dunia atau Ar-Rafiqul A’la) Masuklah Malaikat Jibril As menemui Nabi SAW seraya berkata : ”Malaikat maut ada dipintu, meminta izin untuk menemuimu dan dia tidak pernah meminta izin kepada seorangpun sebelummu.” maka beliau (Nabi SAW) berkata kepadanya : ”Izinkan untuknya wahai Jibril.” maka masuklah Malaikat Maut seraya berkata : ”Assalamu’alaika wahai Rasulullah. Allah telah mengutusku untuk memberikan pilihan kepadamu antara tetap tinggal di dunia atau bertemu dengan Allah di akhirat.” maka Rasulullah SAW bersabda : ”Bahkan aku memilih Ar’Rafiqul A’la (teman yang tertinggi), bahkan aku memilih Ar-Rafiqul A’la, bersama – sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para Shiddiqin, orang-orang shaleh. Dan mereka itulah rafiq (teman) yang sebaik-baiknya.” Aisyah r.a. menuturkan bahwa sebelum Rasulullah SAW wafat, ketika beliau bersandar pada dadanya dan dia mendengarkan beliau secara seksama beliau berdo’a : ”Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku dan susulkan aku padanya Ar-Rafiq Al-A’la. Ya Allah (aku minta) Ar-Rafiq Al-A’la, Ya Allah (aku minta) Ar-Rafiq Al-A’la.” Berdirilah Malaikat Maut disisi kepala Nabi yang mulia sebagiamana dia berdiri disisi kepala salah seorang diantara kita dan berkata : ”Wahai Roh yang bagus, roh Muhammad bin Abdullah, keluarlah menuju keriho’an Allah dan menuju Rabb yang ridha dan tidak murka.” (*Dalam riwayat lain diceritakan bahwa ketika Malaikat Izrail (malaikat Maut) meminta izin untuk menemui Nabi SAW atas perintah Allah untuk mencabut nyawa Rasulullah SAW dengan lemah lembut dan Nabi SAW mengizinkannya. Ketika itulah Nabi SAW mendapat berita-berita gembira dari Sahabat beliau, kecintaan beliau, sipembawa wahyu yaitu Malaikat Jibri As sebagai berikut : ”Bahwa pintu-pintu langit telah dibuka, para Malaikat telah berbaris untuk menyambut kedatangan roh Nabi SAW, bahwa pintu-pintu Syorga telah dibuka, para bidadari telah berhias, sungai-sungai telah mengalir dan buah-buahnya telah ranum, semuanya menanti kedatangan rohmu dan tuanlah yang pertama-tama diizinkan sebagai pemberi syafaat pada hari Kiamat nanti.” Untuk semua berita gembira yang disampaikan oleh malaikat Jibril As tersebut disambut oleh oleh Nabi SAW dengan sabdanya : ”Segala puji dan syukur untuk Tuhanku.” Malaikat Jibril As melihat ada kegelisahan diwajah Nabi SAW apalagi bibir itu perlahan bergerak mengucapkan kata-kata : ”Umatii, Umatii.” Malaikat Jibril pun bertanya kepada Nabi SAW : ”Wahai kekasih Allah, apa sebenarnya yang ingin tuan tanyakan?” Rasulullah SAW menjawab : ”Tentang kegelisahanku, apakah yang akan diperoleh orang-orang (umatku) yang membaca Al-Qur’an sesudahku? Apakah yang akan diperoleh orang-orang (umatku) yang berpuasa pada bulan mereka (Ramadhan) sesudahku? Apakah yang akan diperoleh orang-orang (umatku) yang berziarah ke Baitul Haram sesudahku?” Jibril menjawab : ”Saya membawa khabar gembira untuk Baginda. Sesungguhnya Allah SWT telah berfirman : ”Aku telah mengharamkan Syorga bagi semua Nabi dan umat, sampai engkau (Nabi Muhammad SAW) dan umatmu memasukinya terlebih dahulu.” Maka berkatalah Rasulullah SAW : ”Sekarang, tenanglah hati dan perasaanku wahai Jibril.” *) Setelah mendengarkan dengan seksama do’a Rasulullah SAW yang ketika itu tengah bersandar lemah didadanya. Tidak lama kemudian Sayyidah Aisyah r.a. berkata : ”Maka jatuh lemaslah tangan Nabi SAW dan kepala beliau menjadi berat diatas dadaku dan sungguh aku sudah tahu bahwa Rasulullah SAW telah tiada...” Inna Lillahi Wa Innaa Ilaihi Rojiun. Nabi Muhammad SAW, Nabi termulia, Rasul paling agung telah wafat. Telah berpulang kerahmatullah manusia yang paling mulia, seorang Nabi dan Rasul yang sangat mencintai umatnya, seorang bangsawan Quraisy yang handal sebagai pemimpin umat, yang sukses menjalankan tugas kenabian, telah berpulang Nabi dan Rasul terakhir yang kepribadiaannya oleh Allah SWT telah dipersiapkan buat panutan umat, telah berpulang orang yang tidak pernah memakai sutera, telah berpulang orang yang keluar dari dunia dengan perut yang tidak pernah kenyang dari gandum, telah berpulang orang yang lebih memilih tikar dari sebuah singgasana, telah berpulang orang yang jarang tidur diwaktu malam karena takut Neraka Sa’ir. Peristiwa ini terjadi pada waktu Dhuha, hari Senin tanggal 12 Rabbiul Awal tahun 11 H. Tepat pada usia beliau (Rasulullah SAW) 63 tahun lebih 4 hari. Wallahu ’alam Bissawab. • • • ( Bahan-bahan (materi) diambil dari Majalah Islami: Qiblati Edisi 07 Tahun II April 2007 M. – Rabi’ul Awal 1428 H dan buku : Sejarah Hidup Dan Perjuangan Rasulullah SAW. Disarikan dari kitab : Ar-Rahiqul Makhtum Oleh : Syekh Syafiyyur Rahman Mubarakfury. Penterjemah : Abdul Haidir. (Adalah Pemenang Pertama : Lomba Penulisan Sejarah Nabi Yang diadakan oleh : Rabithah Alam Islamy) dan dari Data Internet Http://hanafishahdan.blogsome.com) • • • * Tulisan (artikel) Religius ini dapat anda temukan pada website H. Sunaryo A.Y. dengan alamat : http://hajisunaryo.co.nr * • • •
Beberapa waktu lalu, saya mendapat pesan, sebuah pertanyaan atas arti dari sebuah doa. Namun, saya lupa pesan tersebut berasal dari mana, karena sepertinya Multiply tidak menyediakan penyimpanan atas pesan yang kita dapatkan. Oleh karenanya, saya publish disini, sekaligus saya mohon maaf pada penanya tersebut karena terlalu lamanya saya menjawab pertanyaan ini. Berikut artinya dari doa yang ditanyakan: "Ya Allah, lakukanlah aku dan dengan mereka secara segera dan perlahan dalam agama dan dunia di akhirat. Engkau adalah ahlinya, jangan Kau perbuat kami wahai Tuhan kami. Kami bukan ahlinya. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, yang Maha Baik, yang Maha Bijaksana dan Maha Pengasih."
Artikel : Religius Edisi : Istimewa “BAGAIMANA DAN APA ITU PENGERTIAN, TUJUAN, RUANG LINGKUP SERTA CIRI-CIRI DINUL ISLAM ? ” Oleh : H. Sunaryo A. Y. Saudaraku sesama muslim, sesuai judul artikel ini, tersebut diatas kali ini materi dakwah kita akan membahas setentang dinul islam. Dinul Islam berasal dari bahasa Arab yang jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi agama islam. Sementara agama itu sendiri merupakan suatu peraturan atau pedoman bagi manusia agar tidak kacau. Islam adalah agama Allah untuk seluruh umat yang mengatur hidup dan kehidupannya agar selamat bahagia dunia dan akhirat. Dinul Islam mengandung pengertian yang dalam dan sangat luas. Dengan demikian bagi yang telah memahami dan menghayatinya, diharapkan dapat dengan ikhlas dan sadar mengamalkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Tujuan dinul islam merupakan suatu arah yang harus dicapai oleh setiap muslim dan muslimat. Dengan mengetahui tujuanya maka akan timbul gairah atau semangat mengabdikan diri kepada Allah SWT. Setiap umat harus mengetahui apa yang ada dalam ruang lingkup dinul Islam, seperti pengetahuan yang menjelaskan tentang sarana, amalan, pengabdian dan batas – batas yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan RasulNya.
• Pengertian Dinul Islam dapat dilihat dari segi bahasa (lugat) dan dari segi istilah (terminologi).
1. Dari segi bahasa dinul Islam terdiri atas dua kata : Pengertian ad-din dapat dilihat seperti ini : a. Addin berarti peraturan, undang-undang, pedoman, agama, tata cara dan adat istiadat.
• Firman Allah SWT : ”Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.” (QS. Al-Kafirun : 6) b. Addin yang berarti pembalasan dan kiamat.
• Firman Allah SWT : ”Penguasa hari pembalasan (kiamat)” (QS. Al-Fatihah : 4)
c. Addin yang berarti nasihat.
• Bersabda Rasulullah SAW :
”Dia itu nasihat.” (Al-Hadist)
• Sementara pengertian Islam itu sendiri mempunyai (memiliki) empat arti dalam bahasa Arab.
a. Islam berasal dari kata : Artinya : Selamat, keselamatan atau kesejahteraan.
• Firman Allah SWT : ”Dengan kitab itulah Allah SWT menunjukkan orang-orang yang mengikuti keridhaanNya kejalan keselamatan dan (dengan kitab itu pula) Allah SWT mengeluarkan orang–orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjukkan mereka kejalan yang lurus. (benar)” (QS. Al-Maidah : 16)
b. Islam berasal dari kata : Artinya : Tunduk, menyerah dan pasrah.
• Firman Allah SWT : ”..... Katakanlah : Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan Semesta Alam.” (QS. Al-An-am : 71)
c. Islam berasal dari kata : Artinya : Jenjang atau tangga.
• Firman Allah SWT :
”Ataukah mereka mempunyai tangga (kelangit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)...?” (QS. At-Tur : 38)
d. Islam berasal dari kata : Artinya : Damai atau tentram.
• Firman Allah SWT : ”Masuklah kedalam syorga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.” (QS. Qaf : 34)
2. Dari segi istilah, dinul Islam diartikan seperti berikut ini : Addin atau Din ialah peraturan tau undang-undang yang mengatur hidup dan kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Allah (khalik) dan hubungannya dengan sesama umat manusia (makhluk) agar tidak mengalami kekacauan dan hambatan.
• Firman Allah SWT : ”.... dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah : 5) Dinul Islam berarti peraturan atau pedoman yang datangnya dari Allah berupa wahyu kepada Rasul-Nya untuk seluruh manusia agar memperoleh keselamatan. Dengan tunduk atau pasrah kepada Allah, dinul Islam wajib dilaksanakan menurut tahap kemampuannya sehingga tercapai kedamaian dan kebahagiaan dunia sampai akhirat.
• Firman Allah SWT : ”Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya ditas segala agama-agama meskipun orang musyrik benci.” (QS. As-Saf : 9)
Ulama besar, Syekh Al-Azhar Mesir yaitu Al-Ustadz Mahmud Syaltut, dalam bukunya : Al-Islam Akidah Was Syari’ah memberikan ta’rif (definisi) agama Islam sebagai berikut : ”Islam adalah agama Allah yang diwasiatkan untuk diajarkan prihal pokok-pokok serta peraturan-peraturan kepada Nabi Muhammad SAW dan memerintahkan untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia dan menyerukan agar umat manusia memeluknya.” (Dari buku AL-Islam Akidah Was Syari’ah.)
• Tujuan Dinul Islam : Berupaya mengetahui tujuan dinul Islam merupakan suatu keharusan bagi seorang hamba muslim karena dapat menimbulkan gairah mengamalkannya. Tujuan dinul Islam dapat disimpulkan menjadi empat macam, yaitu seperti berikut :
1. Dinul islam bertujuan agar setiap muslim mentaati peraturan Allah dan RasulNya serta peraturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Peraturan harus ditaati dan dilaksanakan. Hanya dengan mentaati dan melaksanakan peraturan tersebut hidup kita akan selamat di dunia sampai akhiriat.
2. Dinul Islam bertujuan agar setiap muslim beriman kepada Allah dan berakidah secara benar, menghindari kemusyrikan, kekhurafatan dan ketahayulan. Tunduk dan pasrah kepada-Nya untuk memperoleh hidayah dari Allah dengan disertai ikhtiar merupakan wewenang yang dianugerahkan Allah SWT kepada setiap manusia.
3. Dinul Islam bertujuan agar setiap muslim bertakwa, beribadah sesuai dengan tuntunan syariat yang didasarkan atas kemampuannya sebagai muslim. Dinul Islam tidak merupakan beban berat jika dilaksanakan dengan penuh keikhlasan, kesadaran dan pemahaman yang tinggi apalagi pengamalan ibadah mengenai jenjang kesanggupan.
• Mengenai kewajiban seorang mukmin didalam menjalankan ibadah dijelaskan oleh Allah dalam Friman-Nya sebagai berikut : Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan....” (QS. Al-Hajj : 78)
4. Dinul Islam bertujuan agar setiap muslim berakhlak mulia, beramal shaleh, bergaul dan memelihara hubungan dengan semua mahkluk Allah. Selain itu, setiap muslim harus berusaha memelihara lingkungan dan melestarikannya untuk memperoleh kedamaian dan ketentraman. • Perhatikan Hadist Nabi SAW berikut ini : ”Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok pagi.” (HR. Ibnu ’Asakir)
• Ruang Lingkup Dinul Islam Ruang lingkup dinul Islam mencakup sarana dan prasarana, amalan ibadah dan batas-batas dinul Islam. Sarana dan prasarana apa saja yang dibutuhkan, amalan ibadah yang bagaimana yang harus dikerjakan serta batas-batas mana yang wajib dijauhi oleh setiap muslim, inilah ruang lingkup dinul Islam. Untuk mengetahui ruang lingkup dinul Islam, berikut ini diuraikan sebuah Hadist Rasulullah SAW serta sejarah disabdakannya (as babul wurudnya) :
• ”Pada suatu hari, kami (Sayyidina Umar r.a. dan para Sahabat) duduk – duduk bersama Rasulullah SAW, lalu muncul dihadapan kami seroang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda perjalanan. Tidak seorang pun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah dan kedua telapak tangannya diletakkan diatas paha Rasulullah SAW, seraya berkata : ”Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam.” lalu Rasulullah SAW menjawab : ”Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan mengerjakan haji apabila mampu.” Setelah itu dia bertanya lagi : ”Kini beritahu aku tentang iman.” Rasulullah SAW menjawab : ”Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari kiamat dan beriman kepada qadar baik dan buruknya.” orang itu lantas berkata : ”Beritahu aku tentang ikhsan.” Rasulullah menjawab : ”Beribadah kepada Allah seolah-lah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, kerena sesungguhnya Allah melihat anda.” Dia bertanya lagi : ”Beritahu aku tentang Assa’ah (azab kiamat).” Rasulullah menjawab : ”Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” setelah itu dia betanya lagi : ”Beritahu aku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah menjawab : ”Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung – gedung bertingkat.” setelah itu oran gitu pergi menghilang dari padangan mata, lalu Rasulullah SAW bertanya kepada Sayyidina Umar r.a. : ”Hai Umar, tehukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?” lalu aku (Umar r.a.) menjawab : ”Allah dan Rasulnya lebih mengetahui.” Rasulullah SAW lantas berkata : ”Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR. Muslim)
Dari kisah tersebut dapat diketahui bahwa ruang lingkup dinul Islam meliputi rukun Islam, rukun iman dan ihsan. Ihsan merupakan masalah pengabdian, ketaatan kepada Allah, Rasul dan sesama makhluk. Ibadah ’am (umum) atau setiap ibadah termasuk dalam ihsan yang menumbuhkan takwa, keikhlasan dan kesadaran. Peringatan Rasulullah SAW tentang hancurnya lingkungan akibat umat lalai terhadap hari akhir.
• Perhatikan Firman Allah SWT : ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu, (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklat (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuata kerusakan di muka bumi sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas : 77) Adapun yang menjadi batas-batas dinul Islam ialah segala yang berakibat kerusakan, baik terhadap diri sendiri maupun masyarakat dan lingkungan. Demikian juga yang dilarang dan diharamkan sebab semua itu mendatangkan kerusakan.
• Bersabda Rasulullah SAW ” ”..... dan sesungguhnya bagi setiap Raja memiliki batas berupa larangannya. Ingatlah larangan Allah adalah apa-apa yang diharamkan-Nya....” (HR. Bukhari dan Muslim)
• Ciri – Ciri Dinul Islam. Dinul Islam memiliki ciri-ciri khusus yang menunjukkan adanya perbedaan agama Islam dengan agama lainnya di dunia ini. Ciri-cirinya adalah Islam sebagai agama fitrah, penyempurnaan agma lain, pendorong kemajuan dan sebagai pedoman hidup.
a. Islam sebagai Agama Fitrah Agama fitrah artinya agama yang sesuai dengan tuntutan fitrah manusia. Misalnya, tentang kebersihan, Islam memerintahkan agar penganutnya berkhitan untuk menjaga kebersihan dalam ibadah. Menjaga kebersihan itu sendiri merupakan fitrah manusia.
• Sesuai firman Allah SWT ”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) dan (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum : 30)
b. Islam sebagai Penyempurna Agama Lain. Dinul Islam menyempurnakan agama sebelumnya. Syariat dinul Islam sangat luas, apa yang belum pernah diajarkan oleh Nabi-nabi terdahulu, dalam dinul Islam diajarkan, misalnya adanya muamalat, waris dan munakahat dalam Islam yang diatur secara rapi.
c. Islam sebagai Pendorong Kemajuan. Dinul Islam sangat mendorong pemeluknya utnuk menggunakan akal. Al-Qur’an menyebutkan berkali-kali tentang peranan akal pikiran, misalnya :
- Apakah kamu tidak memikirkan ?
- Apakah kamu tidak melihat ?
- Coba perhatikan bagaimana unta diciptakan.
d. Islam sebagai Pedoman Hidup : Syariat dinul Islam memberikan tuntunan cara beriman yang benar dan bertuhan yang jelas. Syariat dinul Islam juga memberikan tuntunan dalam beribadah untuk melakukan pengabdian kepada Allah secara teratur dengan waktu yang teratur pula dan mensucikan harta yang tidak mementingkan diri sendiri, tetapi ada aturannya, seperti zakat, infak dan hadanah (memilhara anak). Demikianlah ciri-ciri dinul Islam yang secara ringkas dan masih perlu dijelaskan lebih luas lagi tentunya.
Saudaraku, sidang pembaca sampai disini saya sudahi dulu dakwah saya (lewat tulisan) semoga bermanfaat. Terima kasih atas segala perhatian dan mohon maaf apabila terhadap kesalahan. Waafwa minkum Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. * Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku : Pendidikan Agama Islam Oleh : Drs. Ahmad Syafi’i Mufid, M.A. Dkk) * * Tulisan (artikel) Religius ini dapat anda temukan pada website H. Sunaryo A.Y. dengan alamat : http://hajisunaryo.co.nr *
Artikel : ReligiusEdisi : IstimewaOleh : H. Sunaryo A. Y. Saudaraku Sidang Pembaca, salah satu dari rukun iman adalah iman kepada Rasul-rasul. Rukun iman ini merupakan rukun iman yang keempat. Iman kepada Rasul mempunyai fungsi yang sangat besar dalam kehidupan manusia, yaitu dapat menjadikan manusia tidak hanya mengikuti kemauan nafsu didalam hidupnya. Dengan iman kepada Rasul, hidup manusia akan terarah dan bahagia. Sedangkan tanpa iman manusia akan berbuat semaunya sendiri. Mereka akan membuat kerusakan di muka bumi dan hidup mereka tidak akan bahagia. Pokok pembahasan materi kita kali ini adalah : Iman kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir. Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul akhir zaman, adalah Nabi pembawa risalah Islam, rasul terakhir penutup rangkaian Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah SWT dimuka bumi. Beliau termasuk salah seorang Rasul yang mendapat gelar Ulul Azmi (yang mempunyai keteguhan hati). Keempat rasul lainnya adalah Nabi Ibrahim As, Musa As, Isa As dan Nabi Nuh As. Nabi Muhammad SAW dilahirkan di Makkah pada hari senen tanggal 12 Robiul Awwal tahun Gajah yang bertepatan dengan tanggal 20 April tahun 571 M. Tahun kelahiran beliau ini lebih dikenal dengan nama Tahun Gajah, karena pada waktu itu terjadi suatu peristiwa besar, yaitu datangnya pasukan bergajah menyerbu Mekkah dengan tujuan menghancurkan Ka’bah. Pasukan gajah itu dipimpin oleh Abrahah. Gubernur Kerajaan Habsyi di Yaman. Tetapi pasukan besar itu akhirnya hancur binasa karena diserang oleh beribu-ribu burung Ababil yang menjatuhkan batu panas di atas mereka. Beberapa bulan setelah sebuah tentara gajah itulah, Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Nabi Muhammad dilahirkan dalam keadaan Yatim karena ayahnya, Abdullah meninggal dunia kira-kira 7 bulan sebelum beliau lahir. Ketika beliau lahir, kakeknya yaitu Abdul Muthalib memberi nama Qustam : Namun ibunya, Aminah, berkata kepada Abdul Muthalib : ”Dalam mimpiku aku diperintahkan untuk memberi nama Muhammad.” maka Abdul Muthalib pun mengumumkan nama cucunya itu dengan nama Muhammad. Masyarakat Arab Quraisy merasa heran karena nama itu tidak lazim dikalangan masyarakat Arab ketika itu. Ketika di tanya tentang hal itu, Abdul Muthalib menjawab : ”Aku berharap agar ia dipuji Tuhan di langit dan dipuji manusia di bumi”. (Dalam bahasa Arab, Muhammad artinya orang yang terpuji (dipuji)). Menurut kebiasaan orang-orang Arab, anak yang baru lahir itu disusui dan diasuh oleh wanita kampung dengan maksud agar mendapat udara segar, udara desa yang bersih serta pergaulan masyarakat desa yang sangat baik bagi pertumbuhan anak-anak. Selain itu agar dapat berbicara bahasa Arab dengan fasih, karena bahasa arab yang digunakan dikalangan masyarakat desa masih murni. Nabi Muhammad yang masih bayi pun diserahkan perawatannya kepada Halimah binti Abi Dhu’aib (Halimatus Sa’diah) seorang ibu susu yang berasal dari Bani Sa’ad. Halimah merupakan satu-satunya wanita (ibu susu) yang bersedia membawa Muhammad, ibu-ibu susu yang lain tidak mau membawanya karena ia anak yatim, dianggap tidak mempunyai ayah yang dapat diharapkan uangnya.Halimah mau membawa Muhammad dengan harapan medapatkan berkah dari Allah karena ia menolong anak yatim. Dan benar saja, berbagai keajaiban ditemuinya setelah Muhammad bersamanya. Misalnya : Air susu Halimah yang tadinya sudah kering menjadi deras, keledai yang lemah berubah menjadi kuat dan unta yang sudah tua dan kurus ternyata mampu memberikan banyak susu. Nabi Muhammad tinggal dilingkungan Bani Sa’ad selama 5 tahun. Setelah itu Halimah menyerahkannya kembali kepada ibunya. Kemudian, ketika Muhammad berusia 6 tahun, ibunya mengajak ke Madinah untuk diperkenalkan dengan sanak saudaranya. Sesampainya di Madinah, ibunya mengajak berziarah ke makam ayahnya. Tetapi ketika sampai di desa Abwa, ibunya jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Kemudian beliau (Muhammad) dibawa pulang ke Mekkah oleh Ummu Aiman, budak yang dengan setia menemani dan turut mengasuh Muhammad. Setelah itu Nabi Muhammad berada dibawah pengasuhan kakeknya selama 2 tahun. Kakeknya meninggal dunia ketika beliau berusia 8 tahun. Kemudian pengasuhan beliau beralih kepada pamannya, Abu Thalib. Ketika diasuh oleh Abu Thalib itulah Nabi Muhammad terbiasa bekerja keras seperti mengembala kambing, sebab pamannya itu termasuk golongan ekonomi pas-pasan. Sejak masih bayi, Nabi Muhammad sudah memperlihatkan keistimewaan-keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bayi-bayi lain. Keistimewaan-keistimewaan itu merupakan sebagian dari tanda-tanda kenabian Muhammad. Tanda-tanda kenabian itu antara lain sebagai berikut : 1. Keajaiban - keajaiban yang menimpa Halimah ketika membawanya untuk disusui dan diasuh. 2. Pertumbuhan badan yang sangat cepat, yaitu pada usia 5 bulan Muhammad sudah pandai berjalan, usia 9 bulan sudah pandai berbicara dan pada usia 2 tahun ia sudah bisa dilepas bersama anak-anak Halimah mengembala kambing. 3. Anak-anak Halimah sering mendengar suara-suara yang memberikan salam kepada Muhammad SAW dengan ucapan : ”Assalamualika ya Muhammad”, padahal mereka tidak melihat seorangpun. 4. Anak Halimah, yaitu Dimrah, pernah melihat Muhammad didatangi dua orang (Malaikat) yang kemudian membelah dadanya dan mencucinya dengan air yang mereka bawa. 5. Ketika berusia 12 tahun, Abu Thalib mengajak Muhammad berdagang ke Negeri Syam (Suriah). Kafilah (rombongan) mereka selalu dinaungi oleh awan, sehingga terhindar dari terik matahari yang menyengat. Awan itu menarik perhatian seorang pendeta kristen bernama bahira (Buhaira) yang kemudian setelah bertamu, ia meyakini Muhammad sebagai calon Rasul terakhir dan berpesan kepada Abu Thalib agar hati-hati menjaganya. Ketika Muhammad berusia 12 tahun, terjadi peperangan besar antar suku Arab yang dikenal dengan perang Fijar. Beliau ikut dalam perang tersebut sebagai pengumpul mata panah yang dilemparkan oleh musuh, kemudian menyerahkannya kepada pamannya. Pada perang itulah beliau menyaksikan banyak korban berjatuhan, sehingga muncul inisiatif dalam dirinya untuk membentuk komite perdamaian. Maka, ketika beliau berusia 20 tahun beliau memperkasai berdirinya komite perdamaian yang dinamakan Hilful Fudhul, Melalui Hilful Fudhul ini, sifat kepemimpinannya mulai tampak dan namanya makin harum dikalangan masyarakat Mekkah. Beliau kemudian terkenal sebagai orang yang terpercaya karena kejujurannya, sehingga beliau mendapat gelar Al-Amin (orang yang terpercaya) Nabi Muhammad menikah dengan Khadijah seorang janda kaya pada usia 25 tahun, sementara Khadijah berusia 40 tahun. Kemudian menjelang usianya yang ke 40 tahun, Nabi SAW sering berkhalwat (menyepi) di goa Hira yang terletak disebuah bukit bernama Jabal Nur (sekitar 6 km di sebelah timur laut kota Makkah). Beliau melakukan ini karena merasa sangat prihatin dengan keadaan masyarakat Arab yang menyembah berhala. Pada tanggal 17 Ramadhan (6 Agustus 611 M) ketika Nabi SAW sedang berkhalwat di Goa Hira, datanglah malaikat Jibril membawa wahyu dari Allah SWT. Wahyu yang pertama kali turun ini adalah Qur’an surat Al-Alaq ayat 1-5 yang menandai pengangkatan Muhammad sebagai Rasul (utusan) Allah. · Adapun surat AL-Alaq ayat 1-5 sebagai berikut :”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq : 1-5) Dibandingkan dengan para Nabi dan Rasul pendahulunya, Nabi Muhammad SAW memiliki beberapa keistimewaan yang tidak mereka miliki. Adapun keistimewaan – keistimewaan tersebut sebagai berikut : 1. Nabi Muhammad SAW disebut dalam Al-Qur’an sebagai Khatamun Nabiyyin atau Nabi Penutup. Ini artinya, tidak akan ada lagi sesudah beliau (Nabi Muhammad SAW) seorang Rasul (Nabi) pun. Tepatnya, tidak ada lagi Nabi dan Rasul sesudah Nabi Muhammad SAW karena beliau adalah Nabi dan Rasul terakhir. · Perhatikan Firman Allah SWT :”Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu tetapi ia adalah Rasul Allah dan Penutup para Nabi... ”(QS. AL-Ahzab : 40) · Hadist Nabi SAW :”Akan muncul dari tengah umatku 30 pendusta semuanya mengaku menjadi Nabi, padahal aku adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi (baru) sesudahku. Dan akan senantiasa ada sekelompok dalam umatku yang berada diatas kebenaran.” (HR. Abu Daud dan Ahmad) · Dan hadist Nabi dari Abu Hudzaifah berikut ini, bersabda Rasulullah SAW : ”Dalam umatku ada 27 pendusta dan pembohong, 4 diantara mereka adalah perempuan. Dan sesungguhnya aku adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi sesudah ku.” (HR. Thahawi) Jadi, kalau ada orang-orang, kelompok, golongan yang ngotot mengatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang Nabi. Dan Ahmad Musaddaq al Khadzdzab adalah seorang Nabi, apakah mereka tidak pernah membaca Qur’an khususnya surat AL-Ahzab ayat empat puluh? Dan Hadist – hadist Nabi tersebut diatas yang cukup populer yang diriwayatkan oleh Imam – imam ahli hadist yang keshahihan hadistnya tidak diragukan yaitu Imam Abu Daud, Imam Ahmad dan Imam Thahawi? Sungguh, penulis tidak habis mengerti dengan jalan pikiran orang-orang itu. Pinter, kebelinger, pendusta ! Tetapi justru dengan munculnya para Nabi palsu adalah merupakan suatu bukti akan kebenaran Nabi Muhammad SAW dan adalah suatu bukti kedustaan Nabi-nabi palsu tersebut. · Perhatikan Hadist Nabi SAW berikut ini :”Tidak akan terjadi kiamat hingga muncul para pendusta dan pembohong sekitar 30 orang, semuanya mengaku bahwa dirinya adalah utusan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Diantara Nabi –nabi palsu tersebut adalah : Musailamah al Kadzdzab dari Yamamah yang dibunuh oleh pasukan Abu Bakar r.a. Al-Aswad al Ansi di Yaman yang juga dibunuh oleh para Sahabat r.a. Thulaihah Ibnu Khuwailid yang kemudian rujuk kembali kepangkuan Islam. Sajjah seorang dukun wanita yang dinikah oleh Musailamah dan bertobat setelah terbunuhnya Musailamah. Di zaman Tabi’in muncul al-Mukhtar al Tsaqafi. Kemudian di zaman akhir muncul di Iran Mirza Abbas yang mati tahun 1309 H. Di India Mirza Ghulam Ahmad yang mati mengenaskan setelah mubahalah dengan seorang ulama ahlu sunnah. Di Indonesia muncul hia Eden dan Ahmad Musaddeq. (Nama-nama Nabi palsu tersebut di kutip dari majalah Islam Qiblati, edisi 03 tahun III 12-2007 (11-1428 H) halaman 12.) 2. Ajarannya bersifat universal. Artinya, ajaran yang beliau (Nabi SAW) bawa berlaku sepanjang masa dan tidak terbatas untuk kaum atau bangsa tertentu seperti Rasul-rasul yang lain. · Firman Allah SWT :”Katakanlah hai Muhammad, ”Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.....” (QS. Al-A’raf : 158) · Dan Firman-Nya :”Tidaklah Aku (Allah) mengutus (Muhammad) kecuali untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya : 107) 3. Nabi Muhammad SAW mendapat mu’jizat terbesar, yaitu Kitab suci Al-Qur’an. 4. Selain itu beliau juga memiliki beberapa mu’jizat lain, antara lain sebagai berikut : a. Dapat memanggil pohon sehingga pohon itu berjalan mendekat. b. Dapat membelah bulan c. Dapat mengeluarkan air dari jari jemarinya. d. Dapat memberi makan orang banyak dengan makanan yang sedikit. (Untuk beberapa mu’jizat Nabi SAW penulis sedang menyusun tulisan tersendiri dan Insya Allah dalam waktu yang tidak terlalu lama sudah dapat beredar kehadapan sidang pembaca) Saudaraku, sidang pembaca. Sebelum saya akhiri tulisan ini ingin saya menyampaikan sebuah Hadist Nabi SAW setentang dzikir yang diwasiatkan oleh Rasulullah SAW kepada Sayyidina Ali Bin Abi Thalib r.a. seperti berikut ini : ”Hai Ali, barangsiapa yang tiap-tiap hari membaca : Allahumma baarikli fil mauti wa fiimaa ba’dal mauti, artinya : ”Wahai Allah berikanlah berkah kepada saya pada waktu mati dan didalam sesuatu sesudah mati.” Maka Allah tidak akan menghisab (memperhitungkan) apa-apa yang ia kerjakan di dunia. Dan barangsiapa yang membaca takbir seratus kali sebelum matahari terbit dan seratus kali sebelum terbenam, maka Allah menulis baginya pahala seperti seratus orang yang beribadah dan seratus orang yang berjuang di jalan Allah. Dan barangsiapa membaca shalawat untuk aku tiap-tiap hari dan tiap-tiap malam seratus kali maka wajib (pasti) baginya syafaat dari kami dan banyak istighfar itu bagaikan benteng bagi orang-orang taubat dari Neraka. (Dikutip dari Buku : Wasiat Rasulullah SAW kepada Ali Bin Abi Thalib r.a. Alih bahasa : Abdullah Shonhadji hal. 36 dan 37.) Sampai disini saya sudahi dakwah saya (lewat tulisan) jangan lupa, bentengi Iman kita dengan aqidah, usahakan hadir di Majlis Taklim – majlis taklim. Orang yang mengaji, insya Allah selamat dari para dajjal, selamat dari fitnah maraknya aliran sesat, faham sesat dan kelompok sesat yang akhir-akhir ini tambah subur di Negeri kita. Insya Allah! Wallahul Musta’an. Terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Wa’afwa minkum Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. * Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku : Islam Agamaku Oleh : Tim Penyusun Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta dan Majalah Islam Qiblati Edisi 03 Tahun III 12-2007 (11-1428 H) * • • •
* Tulisan (artikel) Religius ini dapat anda temukan pada website H. Sunaryo A.Y. dengan alamat : http://hajisunaryo.co.nr *
• • •
Artikel : ReligiusEdisi : Istimewa Oleh : H. Sunaryo A. Y. Saudaraku, sidang pembaca yang berbahagia, Assalamualaikum, apa khabar? Alhamdulillah, jumpa lagi kita (lewat tulisan) kali ini dakwah saya setentang Iman Kepada Hari Kiamat. Di dalam kitab suci Al-Qur’an surat An-Naml ayat 87, Allah SWT berfirman : ”Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikendaki Allah.” (QS. An-Naml : 87) Saudaraku, ketika Malaikat Israfil sudah meniup sangkakalanya sebagai pertanda datangnya hari kiamat, bumi bergoncang hebat, mengeluarkan segala isinya, langit terbelah dan hancur, matahari digulung dan bintang-bintang berjatuhan. Saat itulah manusia terkejut, sadar dan menyesali dirinya yang tidak mengimani datangnya hari yang dijanjikan itu. Hanya orang-orang beriman saja yang tidak menyesali dirinya karena mereka sudah memiliki bekal untuk menempuhnya. Kita saudaraku, tentunya tidak ingin termasuk golongan orang-orang yang menyesali itu (Na’udzubillah!). Karena itulah Saudaraku, sidang pembaca yang budiman. Kita akan membahas materi sesuai judul artikel religius ini tersebut diatas agar kita bisa memahami bagaimana mengimaninya, agar kita termasuk golongan orang-orang beriman. Insya Allah. Amin!. Iman kepada datangya hari yang dijanjikan, itu artinya iman kepada hari kiamat. Apa itu iman kepada hari kiamat? Menurut bahasa kiamat memiliki dua arti, yaitu kebangkitan dan akhir. Adapun menurut istilah kiamat berarti : Hari kebangkitan manusia dari alam kubur ke alam akhirat untuk menerima pengadilan dari Allah. Atau hari saat berakhirnya alam semesta dan seisinya. Jadi, beriman kepada hari kiamat maksudnya kita meyakini dengan sunguh-sungguh bahwa pada suatu saat nanti alam semesta dan isinya ini akan berakhir dan menusia pasti akan dibangkitkan dari alam kuburnya menuju ke alam akhirat untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya dan menerima pangadilan dari Allah SWT atas semua perbuatannya di alam dunia. Mempercayai dan meyakini hari kiamat termasuk sendi-sendi keimanan yang sangat mendasar didalam akidah islam. Oleh karena itu orang yang tidak mempercayai hari kiamat berarti termasuk orang yang tidak beriman. Di Dalam kitab suci Al-Qur’an Allah SWT menerangkan akan kepastian datangnya hari kiamat, sesuai firman-Nya :”Dan bahwa sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tidak ada keraguan didalamnya dan sungguh Allah akan membangkitkan siapa saja yang didalam kubur.” (QS. Al-Hajj : 7) Berdasarkan ayat tersebut diatas, maka jelaslah bahwa hari kiamat pasti terjadi. Saudaraku, tahukah antum (sidang pembaca) bagaimana pemandangan hari kiamat itu? Didalam kitab suci AL-Qur’an terdapat beberapa surat yang menggambarkan bagaimana pemandangan bila kiamat itu terjadi, misalnya didalam surat-surat : Surat Al-Hajj ayat 1-2”Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian, sesungguhnya goncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar. Ingatlah pada hari ketika kalian melihat goncangan itu, semua wanita yang menyusui lalai terhadap anak susuannya, gugurlah kandungan semua wanita yang hamil, kalian lihat manusia dalam keadaan mabuk padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat pedih.” (QS. Al-Hajj : 1-2) Surat Az-Zalzalah ayat 1-2”Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat dan bumi telah mengeluarkan yang dikandungnya.” (QS. Az-Zalzalah : 1-2) Surat AL-Haqqah ayat 14-15”Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung kemudian dibenturkan keduanya sekali bentur, maka pada hari itu terjadilah kiamat.” (QS. Al-Haqqah : 14-15) Surat AL-Waqi’ah ayat 4-5”Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya dan gunung-gunung di hancur luluhkan sehancur-hancurnya....” (QS. Al-Waqi’ah : 4-5) Surat Al-Qari’ah ayat 1-5”Hari kiamat. Apakah hari kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertaburan. Dan gunung-gunung seperti bulu yang berhamburan-hamburan.” (QS. Al-Qari’ah : 1-5) Saudaraku, jika kita memperhatikan penjelasan Al-Qur’an tentang kejadian hari kiamat tersebut diatas dan kalau sekarang ini kita sering menyaksikan bencana alam yang ada disekeliling kita (akhir-akhir ini) seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor, dan gunung meletus dan lumpur yang keluar dari dasar bumi secara terus menerus (tidak bisa berhenti) kendati sudah dibendung (ditutup) dengan berbagai cara dan berbagai usaha namun lumpur tetap terus keluar membentuk sebuah danau besar, maka kita (jadi) pasti mempercayai dan meyakini bahwa kiamat itu pasti akan terjadi. Ada dua macam kiamat yaitu kiamat sugro dan kiamat kubroKiamat Sughro artinya kiamat kecil, yaitu peristiwa matinya seseorang dan rusaknya sebagian alam seperti tanah longsor, gunung meletus, banjir, gempa bumi dan sebagainya. Nabi SAW bersabda :”Dari Anas r.a. Rasulullah SAW bersabda : Orang yang mati telah datanglah kiamatnya.” (HR. Ibnu Abid-Dunya) Kiamat Kubro artinya kiamat besar, yaitu hancurnya seluruh alam raya dan isinya. Didalam kitab suci Al-Qur’an terdapat 29 (dua puluh sembilan) nama lain dari hari kiamat, yaitu: Yaumul Qiyamah, Yaumul Mashar, Yaumul Hisab, Yaumul Zilzalah, Yaumul Sa’iqoh, Yaumul Waqi’ah, Yaumul Qari’ah, Yaumul Ghasyiyah, Yaumul Rasifah, Yaumul Haqqah, Yaumul Tammah, Yaumul Thalaq, Yaumul Tanad, Yaumul Jaza, Yaumul Wa’id, Yaumul Ard, Yaumul Mizan, Yaumul Fashl, Yaumul Jami’, Yaumul Taghabun, Yaumul Ba’ts, Yaumul Khizyi, Yaumul Asir, Yaumud Din, Yaumun Nusyur, Yaumul Khulud, Yaumun la raibafihi, Yaumul Akhir dan Yaumun la tajzi mafsun an nafsin syaian. Sementara dalam sudut pandang ilmu pengetahuan setentang kiamat dikatakan bahwa berangkat dari penelitian dengan metode ilmiah, ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa kiamat itu akan terjadi adanya. Hasil penelitian ilmiah menyebutkan sebagai berikut : Alam semesta dalam tata surya, dengan segala faktor kehidupan dan kestabilan alam, tergantung dari adanya energi matahari yang dalam setiap detiknya mengeluarkan energi panas sebanyak 950 triliun atau 93 x 10 kalori. Energi panas matahari dalam jumlah tersebut, pada saatnya akan habis. Hal itu dikarenakan tidak seimbangnya produksi energi dengan energi yang dikeluarkan, sehingga pada akhirnya akan padam. Dengan padamnya matahari, unsur kehidupan di bumi yang tergantung dengan energi matahari akan mengalamai kepunahan. Dengan demikian kestabilan akan terganggu, sehingga tidak menutup kemungkinan akan terjadi pembekuan suhu dan perubahan gravitasi dari masing-masing planet dan hancurlah alam semesta. Sebuah teori menyatakan bahwa alam raya ini berawal dari suatu ledakan besar. Artinya alam raya ini berpemulaan. Karena berpemulaan maka pada suatu saat kelak pasti akan berakhir. Sebagai contoh, kita ambil tentang asal kejadian alam raya. Dari gerakan menjauhnya galaksi – galaksi dan quasar-quasar, kita dapat memperkirakan proses pembentuakannya. Pada masa silam tentunya keadaan mereka dengan merapat antara yang satu dengan yang lainnya. Karena kekuatan gravitasi yang mengontrol mereka sekarang semakin berkurang, maka mereka bergerak semakin menjauh dengan gerakan semakin cepat. Mengingat alam raya ini dikontrol oleh gaya gravitasi, maka pengembangan itu tidak mungkin terjadi kalau tidak didorong oleh suatu kekuatan maha dahsyat. Apabila melihat proses pembentukan alam raya ini ada dua kemungkinan, pertama mengingat pengembangan itu bermula dari suatu ledakan besar, maka pada suatu saat nanti setelah daya dorong ledakan itu habis semua benda langit akan berhenti mengembang. Pada saat itu gravitasi yang mengontrol alam raya akan menariknya kembali. Mereka akan bergerak mundur saling mendekat. Sama seperti waktu mereka mengembang, gerakan menyurutnya pun semakin cepat, karena tarikan gravitasi dari pusat alam raya semakin kuat. Penyusutan ini tidak akan berhenti sampai akhirnya mereka bertubrukan satu sama lain dan menimbulkan ledakan besar sebagaimana awal kejadian. Ketika itulah kiamat terjadi. Demikian dikatakan setentang kiamat menurut (penelitian ilmiah) dalam sudut pandang ilmu pengetahuan. Kesimpulan, bahwa tidak dapat dipungkiri lagi hari kiamat itu pasti terjadi karena agama dan ilmu pengetahuan telah membuktikannya. Jadi, bagi insan beriman, kita yakin, haqul yakin kita beriman kepada datangnya hari yang dijanjikan itu. Saudaraku, sidang pembaca yang berbahagia saya akhiri dulu dakwah saya (lewat tulisan) kali ini semoga tulisan ini bermanfaat, jumpa lagi kita insya Allah pada tulisan saya mendatang tentu saja dengan judul yang berbeda dan materi yang lain. Wa’afwa minkum wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. • • • * Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari Islam Agamaku oleh: Tim Penyusun Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kali Jaga Jogyakarta * • • • * Tulisan (artikel) Religius ini dapat anda temukan pada website H. Sunaryo A.Y. dengan alamat : http://hajisunaryo.co.nr * • • •
Artikel : ReligiusEdisi : IstimewaOleh : H. Sunaryo A. Y.Saudaraku, sidang pembaca yang budiman. Jumpa lagi kita, alhamdulillah kali ini dengan dakwah saya (lewat tuisan) sesuai judul artikel religius ini tersebut diatas. Semoga tulisan ini mendapat tempat direlung dada, di lubuk hati sidang pembaca sehingga kita yang cinta kepada bacaan bernuansa syiar dakwah Islam akan banyak mendapat manfaat dari padanya. Insya Allah! Amin ya Rabbal Alamin. Saudaraku, infak di dalam bahasa Arab artinya menafkahkan atau membelanjakan harta. Sementara lapangan infak itu sendiri luas jangkauannya, karena pengertian berinfak itu berarti membelanjakan harta sesuai dengan tuntunan agama dan termasuk didalamnya adalah wakaf, hadiah dan hibah. Didalam kitab suci Al-Qur’an terdapat surat bernama Ath-Thalaq khususnya ayat tujuh dan Allah SWT berfirman dalam surat ini ayat tujuh. • Perhatikan Firman-Nya :”Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah SWT kepadanya. Allah SWT tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah SWT berikan kepadanya. Allah SWT kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” Berdasarkan ayat tersebut diatas, yang diperintahkan untuk berinfak bukan hanya orang-orang kaya saja tetapi juga orang –orang yang bukan orang-orang kaya. Artinya semua orang diperintahkan untuk berinfak sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sidang pembaca, antum pernah mengeluarkan uang untuk membeli (belanja) sesuatu? Apa yang antum dapat dari uang yang (misalnya) Rp. 1.000,- tentu sesuatu (barang) yang didapat adalah benda yang senilai (seharga) Rp. 1.000- itu juga bukan? Tidak mungkin dengan uang yang Rp. 1.000,- akan mendapat barang (ditukar) dengan yang lebih tinggi nilainya dari Rp. 1.000,- Tetapi sidang pembaca, tahukah antum bahwa ada barang (benda) seharga Rp. 700.000,- (tujuh ratus ribu rupiah) yang dapat kita beli hanya dengan uang Rp. 1.000,- saja. Atau barang (benda) senilai Rp. 350.000,- (tiga ratus lima puluh ribu rupiah) dapat kita beli dengan hanya mengeluarkan uang sebesar Rp. 500,- saja. Dan yang menakjubkan adalah bahwa justru yang menghendaki transaksi seperti itu adalah sipemilik barang itu sendiri. Tidak percaya? Baca Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 261 • Firman Allah SWT :”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai pada tiap-tiap tangkai seratus biji ....” (QS. Al-Baqarah : 261) Betulkan? Bahwa Allah SWT sendiri (sebagai pemilik barang yang bernama pahala itu) yang berjanji akan melipatgandakan pahala orang yang berinfak sebanyak 700 (tujuh ratus) kali lipat. Saudaraku, setelah kita mengetahui setentang apa itu pengertian infak. Mari kita mulai lagi pembahasan materi yaitu setentang apa itu pengertian wakaf. Wakaf adalah memberikan harta yang bersifat kekal (tahan lama) dan bermanfaat untuk kepentingan umum di jalan Allah. Misalnya memberikan sebidang tanah untuk pembangunan sebuah Masjid, Musholla, Madrasah, Panti Asuhan, Pondok Pesantren, Jalan-jalan untuk kepentingan umum dan lain-lain.Hukum wakaf adalah Sunnah, yaitu berpahala bagi yang melakukannya dan tidak berdosa bagi yang tidak melakukannya. Diantara dalil-dalil yang mendasari ibadah wakaf adalah : • Firman Allah SWT :”Kamu sekali-sekali tidak sampai pada kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imron : 92) Wakaf merupakan salah satu ibadah yang pahalanya tidak akan putus selama manfaat harta yang di wakafkan itu masih bisa diambil, meskipun sipelaku wakaf sudah meninggal dunia. Oleh karena itulah wakaf tergolong kedalam kelompok amal jariyah (yang mengalir). • Perhatikan Sabda Nabi Muhammad SAW :”Apabila anak Adam (manusia) meninggal, putuslah amalnya kecuali tiga perkara : yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendo’akan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim) • Wakaf memiliki syarat dan rukun yang akan menentukan syah atau tidaknya ibadah tersebut. Adapun rukun wakaf, menurut Jumhur ulama adalah :a. Orang yang memberi wakaf b. Pihak yang menerima wakaf c. Barang yang hendak diwakafkan d. Akad wakaf (lafadz serah terima) Selain beberapa rukun wakaf tersebut ada syarat tertentu yang harus dipenuhi agar wakaf dipandang syah. 1. Syarat orang yang berwakaf :a. Merdeka, tidak berada dibawah pengaruh orang lain b. Sudah dewasa atau baligh c. Berakal sehat d. Harta yang diwakafkan benar-benar miliknya sendiri. 2. Syarat orang yang menerima wakaf :a. Harus jelas penerimanya b. Harus jelas penggunaannya, yakni kebajikan serta mendekatkan diri kepada Allah SWT c. Cakap 3. Syarat harta yang diwakafkan :a. Milik syah pewakaf b. Tertentu dan jelas c. Dapat dimanfaatkan secara terus menerus d. Tidak dibatasi waktunya. Dalam prakteknya, wakaf terbagi menjadi dua yaitu wakaf ahli (wakaf keluarga) dan wakaf khairi (wakaf umum). Wakaf ahli yaitu wakaf yang diberikan kepada orang-orang tertentu, seorang atau lebih. Misalnya mewakafkan sebidang tanah kepada seorang kyai. Sedangkan wakaf khairi yaitu wakaf yang ditujukan untuk kepentingan umum (orang banyak) misalnya mewakafkan tanah untuk membangun musholla, masjid atau madrasah. Manfaat yang diperoleh dari ibadah wakaf ini sangat besar, baik bagi diri yang mewakafkan maupun terutama bagi masyarakat dan agama. Bagi diri pewakafnya, manfaat dari wakaf antara lain dapat mengangkat derajat ketakwaannya disisi Allah SWT. Adapun bagi masyarakat, manfaat wakaf antara lain : 1. Sebagai sumber dana untuk kepentingan umat Islam 2. Mempermudah kesulitan yang dihadapi dalam membangun sarana dan prasarana yang bersifat sosial dan keagamaan. 3. Meningkatkan syiar Islam. • Barang yang diwakafkan dapat diganti dengan yang lebih baik. Penggantian barang dalam wakaf ada dua macam :1. Penggantian karena kebutuhan, misalnya barang wakaf berupa Masjid dan tanahnya, apabila telah rusak dan tidak mungkin lagi digunakan, maka tanahnya di jual untuk menggantikannya. Hal ini diperbolehkan karena apabila barang asal sudah tidak dapat lagi digunakan sesuai tujuan, maka dapat diganti dengan barang lainnya. 2. Penggantian karena kepentingan yang lebih kuat. Hal ini diperbolehkan menurut Imam Ahmad dan Ulama lainnya. Imam Ahmad beralasan bahwa Umar bin Khattab r.a. pernah memindahkan Masjid Kufah yang lama ketempat yang baru dan tempat yang lama itu dijadikan pasar bagi penjual tamar (ini adalah contoh penggantian barang wakaf yang berupa tanah) Adapun penggantian barang wakaf yang berupa bangunan, Khalifah Umar bin Khattab dan Usman bin Affan pernah membangun Masjid Nabawi tanpa mengikuti bentuk (bangunan) pertama dan memberi tambahan bentuk bangunannya. Oleh sebab itu, diperbolehkan mengubah bangunan wakaf dari bentuk lama ke bentuk yang baru asalkan menjadi lebih baik. • Sementara pengertian Hadiah adalah :Hadiah adalah suatu pemberian kepada orang lain, baik dimaksudkan untuk cenderamata, ungkapan terima kasih maupun sebagai penghargaan atas suatu prestasi. Hadiah tidak harus berbentuk benda. Melainkan juga bisa berupa tenaga, pikiran atau sikap dan tingkah laku yang menyenangkan. Sebab tujuan dari hadiah itu sendiri adalah untuk menyenangkan orang lain, sebagai ungkapan rasa ikut senang atas apa yang diraihnya. Karena itulah orang bisa memberikan hadiah pada saat pesta ulang tahun, perta perkawinan atau ketika orang terdekatnya meraih suatu prestasi tertentu. • Rasulullah SAW bersabda :”Memberikan senyuman kepada saudaramu termasuk shadaqah.” (HR. Bukhari) Hadiah hukumnya mubah (dibolehkan) dan bahkan dianjurkan (mandub, sunnah.) • Sebuah Hadist dari Abu Hurairah r.a. :”Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda : Saling memberilah kamu, niscaya kamu akan saling kasih mengasihi.” (HR. Malik) Saudaraku, perbedaan antara hadiah dan risywah (sogok, suap) adalah sangat kecil sekali. Oleh karena itulah, dalam perjalanan sejarah, Sayyidina Umar bin Abdul Aziz pernah mengharamkan hadiah. Karena pada masa itu Sayyidina Umar bin Abdul Aziz melihat bahwa gejala yang terjadi ditengah masyarakat dalam pemberian dan penerimaan hadiah tidak lagi murni sebagai sebuah hadiah tetapi sudah mengarah kepada suap (risywah). Lantas bagaimana dan apa yang harus kita lakukan (perbuat) jika kita oleh seseorang diberi hadiah? Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk menerima hadiah yang diberikan seseorang dan tidak menolaknya. Bahkan jika mungkin kita di anjurkan untuk membalas pemberian itu. • Nabi SAW bersabda :”Barangsiapa diberi hadiah oleh saudaranya dengan tidak berlebihan dan tidak mendatangkan masalah, hendaknya menerimanya dan tidak menolaknya. Karena sesungguhnya itu adalah rezeki yang dikirimkan Allah kepadanya.” (HR. Ahmad) Kemudian bagaimana mengenai pemberian balik kepada orang yang memberi kita hadiah? Dalam sebuah hadist disebutkan sebagai berikut : • Dari Aisyah r.a. dia berkata :”Dari Aisyah r.a. dia berkata : Adalah Rasulullah SAW menerima hadiah dan membalasnya pula.” (HR. Bukhari) • Sekarang pengertian setentang hibah dan apakah itu? Apabila seseorang memberikan harta miliknya kepada orang lain, berarti ia menghibahkan miliknya itu. Sebab itulah, kata hibah sama artinya dengan istilah pemberian. Adapun secara istilah, hibah berarti memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan apa-apa. Jika seseorang menghibahkan sesuatu kepada orang lain, itu artinya ia bersedia melepaskan hak miliknya atas benda yang dihibahkan itu. Jadi, ketika akad hibah sudah dilangsungkan, pihak penerima sudah mempunyai hak penuh atas harta itu sebagai hak miliknya sendiri. Hibah hukumnya sunnah (dianjurkan). Karena itulah, Islam menganjurkan umatnya agar melatih diri memberi kepada orang lain, lebih-lebih kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Dan, bahkan didalam surat Al-Baqarah ayat 177 dikatakan bahwa diantara perbuatan yang termasuk kebajikan adalah memberikan harta yang dicintai kepada orang lain. • Firman Allah SWT :”..... dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta – minta.” (QS. Al-Baqarah : 177) Menurut ajaran Islam, hibah meskipun hanya merupakan suatu akad permberian dan yang bersifat untuk mempererat silaturrahmi tetapi tetap memiliki syarat dan rukun yang harus dipenuhi. Karena bagaimana pun juga hibah merupakan suatu tindakan hukum sebab berkaitan dengan pemindahan hak milik seseorang. • Adapun rukun hibah adalah :
1. Orang yang menghibahkan 2. Orang yang menerima hibah 3. Akad (Ijab Qabul) 4. Harta yang akan dihibahkan Apabila seseorang sudah menghibahkan harta miliknya kepada orang lain, maka ia tidak boleh menariknya kembali, kecuali hibah seorang ayah kepada anaknya. • Perhatikan Hadist dari Ibnu Abas r.a. berikut ini :”Dari Ibnu Abas, Rasulullah SAW bersabda : Orang yang meminta kembali sesuatu yang dihibahkannya, ibarat anjing yang menelan kembali muntahnya.” (HR. Bukhari Muslim, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad.) Dalam sebuah Hadist lain Rasulullah SAW bersabda : ”Tidak seorangpun boleh menarik kembali pemberiannya, kecuali pemberian ayah terhadap anaknya.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Turmudzi dan Nasa’i.) Hibah memiliki kesamaan dengan wakaf dan hadiah dalam hal tidak adanya batasan waktu, yakni boleh dilaksanakan kapan saja. Adapun perbedaan ketiganya antara lain sebagai berikut : 1. Dalam wakaf, harta yang diwakafkan harus bersifat permanen (kekal) dan dapat dimanfaatkan terus menerus, sedangkan dalam hibah dan hadiah tidak. 2. Wakaf biasanya dilakukan semata-mata untuk mencari keridhoan Allah SWT, sedangkan hadiah sebagai rasa ikut senang atau sebagai penghargaan. Adapun hibah merupakan pemberian biasa yang dilandasi oleh rasa kasih sayang. Saudaraku sesama muslim, sidang pembaca yang berbahagia. Saya akhiri sampai disini dakwah saya (lewat tulisan) kali ini. Insya Allah jumpa lagi kita dikesempatan lain dalam tulisan dan materi yang berbeda. Terima kasih atas segala perhatian dan mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Wa’afwa minkum Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. ∙ ∙ ∙ * (Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku Islam Agamaku Oleh: Tim Penyusun Fakultas Tarbiyah IAIN Kalijaga Jogyakarta)* ∙ ∙ ∙ *Artikel religius ini dapat anda temukan pada website H. Sunaryo A.Y. dengan alamat : Http://www.hajisunaryo.co.nr*
Artikel : Religius Edisi : Laporan Khusus Oleh : H. Sunaryo A.Y. (Penulis artikel–artikel religius bacaan untuk syiar dakwah Islam)
Kiranya belum lagi kesedihan dan rasa duka kita lenyap karena kepergian Al Walid Bapak Hasbullah bin Moh. Hasan sebagai Ketua II Masjid Jami’ Hasbullah yang berpulang pada hari Kamis tanggal 13 Desember 2007 (bertepatan dengan tanggal 3 Dzulhijjah 1428 H) yang baru lalu. Hari Senen tanggal 17 Maret 2008 (bertepatan dengan tanggal 9 Rabi’ul Awwal 1429 H) siang hari (ba’da Dzuhur) terdengar khabar bahwa Al walid AL-Ustad Bapak H. Abdul Rachman Ketua I Masjid Jami’ Hasbullah meninggal dunia. Berita ini begitu mengejutkan, bagai petir yang menyambar disiang hari yang terik khususnya bagi Jama’ah masjid Jami’ Hasbullah dan umumnya bagi warga Rw. 08 kelurahan Cipinang Cempedak. Meninggalnya Al walid begitu tiba-tiba (sehari sebelumnya masih terlihat segar bugar) Bahkan beberapa hari sebelumnya, pada pengajian routine (Taklim) hari Rabu malam Kamis di masjid Jami’ Hasbullah yang dipimpin langsung oleh Ketua umum masjid Jami’ Hasbullah (Bapak KH Musa Wahid) Al walid masih sempat hadir dan duduk dekat (berdampingan) dengan penulis. Siapa yang menduga, kini beliau sudah tiada. Inalillahi wainailaihi rojiun! Kita memang kehilangan dan sebagaimana kita tahu sosok Bapak H. Abdul Rachman adalah sebagai ketua I Masjid Jami’ Hasbullah terkenal dengan ide-ide cemerlangnya, pemikiran-pemikirannya (program masjid, kerja, aktivitas dan kegiatan-kegiatan sosial) kesemuanya ditujukan, dipersembahkan untuk Masjid Jami’ Hasbullah, ciri khas beliau pendiam tetapi bekerja, bekerja dan bekerja dan tidak banyak bicara. Kita tahu beberapa tahun yang lalu, Masjid kita ini (Masjid Jami’ Hasbullah) masih berstatus sebuah Musholla bernama Musholla Hasbullah dan bangunan Musholla ini masih sangat sederhana sekali. Kini kita lihat Musholla kita ini sudah berubah status dan menjadi sebuah Masjid permanen (kokoh) cukup megah dan artistik, berlantai dua lengkap dengan alat pendingin (AC) berkantor, telepon, microfon sound system (teknologi) tercanggih serta perlengkapan lainnya. Diberinama Masjid Jami’ Hasbullah disyahkan (diresmikan) oleh Kepala Kantor Departemen Agama Kota Madya Jakarta Timur yaitu Bapak Drs. H. Sutami pada tanggal 5 Oktober 2003 dan dihadiri antara lain oleh Bapak Camat, Bapak Lurah, ketua Rw.08 dan para ulama setempat. Kesemuanya ini tidak terlepas dari andil (kriteria) kerja Al Walid Bapak H. Abdul Rachman dan Al walid Bapak Hasbullah bin Moh. Hasan. Sekali lagi kita memang sekaligus kehilangan Ketua I dan Ketua II Masjid Jami Hasbullah dan kita bersedih, kita berduka, tetapi sebagai insan beriman kita tidak boleh larut dengan kesedihan dan kedukaan karena kita tahu didalam kitab suci AL-Qur’an terdapat Firman Allah SWT : “Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan maut.” (QS. Al-Imron : 185) • Dan Firman-Nya : “Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mendahulukannya.” (QS. An-Nahl : 61) • Kemudian perhatikan Hadist Nabi SAW berikut ini : “Mati mendadak, menjadikan kesenangan bagi orang mukmin dan kesusahan bagi orang yang durhaka.” (HR. Ahmad) Al Walid, Al-Ustad Bapak H. Abdul Rochman sebagai Ketua I Masjid Jami’ Hasbullah yang notabene sebagai Kepala Sekolah SMU I Cawang Timur dan Al Walid Bapak Hasbullah bin Moh. Hasan adalah orang-orang mukmin yang taat. Kedua almarhum adalah orang baik, selamat jalan Sahabat, selamat jalan orang tua kami, selamat jalan, kami akan meneruskan cita-cita kalian memakmurkan Masjid Jami’ Hasbullah, sekali lagi selamat jalan, teriring do’a kami : “Ya Allah ampuni mereka, kasihanilah mereka, sejahterakanlah mereka, maafkanlah kesalahannya, hormatilah kedatangannya, lapangkanlah tempat masuknya dan cucilah mereka dengan air es dan embun serta bersihkanlah mereka dari dosa sebagaimana kain putih yang dibersihkan…. Amin!” (HSAY. Awal Maret 2008)
Artikel : Religius Edisi : Istimewa Oleh : H. Sunaryo A. Y.
Saudaraku sesama muslim, sidang pembaca yang terhormat, kembali AL-Fakir berdakwah (lewat tulisan) kali ini sesuai judul artikel religius ini tersebut diatas. Namun sebelum membahas materi, ingin saya mengingatkan bahwa dalam shalat berjama’ah ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya persoalan Imam, cara menegur Iman (sebab bukan mustahil seorang Imam dalam melaksanakan tugasnya bisa saja berlaku khilaf bukan ?), cara mengganti Imam dan apa syarat-syarat tertentu bagi seorang makmum menurut yang diajarkan syariat? Kenapa? Karena yang akan kita bahas kali ini adalah masalah yang ada kaitannya dan tidak terlepas dari pengertian yang namanya shalat berjama’ah. Sementara shalat berjama’ah itu sendiri mempunyai keistimewaan yaitu lebih baik 27 (dua puluh tujuh) derajad dari shalat sendiri. • Sesuai Hadist Nabi SAW : ”Dari Ibnu Umar r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: Shalat berjama’ah itu lebih baik daripada shalat sendiri dengan 27 (dua puluh tujuh) derajad.” (HR. Bukhari dan Muslim). Baiklah, Sekarang kita mulai dengan pembahasan kita. Siapa yang disebut Imam? Imam adalah orang yang memimpin shalat, baik shalat wajib (fardhu) maupun shalat sunnat (mafilah). Imam akan selalu diikuti gerak-geriknya dalam shalat oleh Jama’ah yang lain. Untuk menjadi seorang Imam harus mempunyai syarat-syarat diantaranya seperti berikut ini : - Sehat akalnya
- Lebih fasih bacaannya.
• Sesuai sabda Rasulullah SAW : ”Jika bertiga maka hendaklah mereka dijadikan Imam salah seorang dari mereka, dan yang lebih berhak diantara mereka untuk menjadi Imam adalah orang yang lebih fasih bacaannya.” (HR. Muslim) c. Harus laki-laki jika salah satu makmumnya terdapat laki-laki (tidak boleh perempuan menjadi Imam laki-laki) d. Yang lebih tua umurnya dan atau lebih tampan wajahnya. • Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW : ”Jika mereka sama bacaannya maka pilihlah yang lebih tua dan jika umurnya sama mereka pilihlah diantara mereka yang lebih tampan (ganteng) wajahnya.” (HR. Baihaqi) Saudaraku, ada orang-orang yang tidak boleh dijadikan Imam. Siapa-siapa saja mereka itu ? - Perempuan bagi makmum laki-laki
- Banci bagi makmum laki-laki
- Banci bagi makmum banci
- Perempuan bagi makmum banci
- Orang yang pandai membaca Al-Qur’an menjadi makmum kepada orang yang tidak dapat membaca Al-Qur’an.
Sebagai manusia, Imam dalam shalat dapat saja berlaku khilaf dalam melaksanakan tugasnya. Untuk itu didalam syariat Islam sudah diatur tata cara bagaimana menegur Imam dan tata cara menegurnya adalah sebagai berikut: 1. Apabila Imam dalam melakukan gerakan shalat salah maka makmum berkewajiban memperbaiki kesalahannya. 2. Cara memperbaiki kesalahan, untuk laki-laki dengan mengucapkan Subhanallah, sedangkan makmum perempuan dengan cara : bertepuk tangan (yakni memukulkan tangan kanannya ketangan kiri bagian atas)Kemudian bagiamana kalau sekiranya didalam shalat berjama’ah, Imam secara tidak sengaja mengalami hal yang membatalkan shalat, maka makmum yang dibelakangnya (berdiri dibelakang Imam) maju kedepan sebagai pengganti Imam dalam memimpin shalat sampai shalat selesai. • Perhatikan riwayat yang diceritakan Said bin Mansyur dari Abu Razin yang artinya: ”Pada suatu hari Ali bin Abu Thalib sedang shalat, tiba-tiba keluar darah dari hidungnya. Kemudian ia (Sayyidina Ali bin Abi Thalib) segera menarik tangan seorang makmum dibelakangnya maju kedepan untuk menggantikannya.” (Dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam Oleh: Drs. Ahmad Syafi’i Mufid, M.A.) Sementara makmum adalah orang yang mengikuti Imam dalam shalat. Makmum dalam shalat berjama’ah hendaknya memiliki perasaan senang dan ikhlas kepada Imam. Untuk menjadi seorang makmum maka diperlakukan syarat-syarat tertentu diantaranya seperti berikut : 1. Makmum wajib niat mengikuti Imam dan Iman disunnahkan berniat menjadi Imam.• Perhatikan Hadist Nabi SAW : ”Sesungguhnya syahnya sesuatu perbuatan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari) 2. Makmum harus mengikuti segala gerak shalat yang dikerjakan oleh Imam, seperti rukuk dan kembali dari rukuk, dengan cara melihat Imam langsung atau melihat makmum yang ada didepannya.• Perhatikan pula Hadist Muttafaqun ’Alaih ini : ”Rasulullah SAW bersabda : ”Bahwasanya dijadikannya seorang Imam adalah untuk diikuti maka apabila dia bertakbir, bertakbirlah dan jika rukuk, rukuklah.” (HR. Muttafaqun ’Alaih.) 3. Tidak boleh mendahului Imam atau melambatkan diri dari dua rukun Fi’li (perbuatan).
4. Laki-laki tidak syah mengikuti Imam perempuan
5. Berada disuatu lingkungan tempat yang sama dan tidak ada batas yang menghalangi antara Imam dan Makmum.
6. Makmum dan Imam hendaklah dalam satu tempat, misalnya dalam satu Masjid atau Mushola, meskipun ini bukan termasuk syarat Jama’ah, tetapi hukumnya sunnat karena makmum perlu mengetahui gerakan Imam di depan.
7. Makmum jangan mendahului Imam atau memperlambat diri dengan gerakan shalat Imam, seperti Imam belum takbir makmum sudah takbir atau Imam sudah sujud makmum baru rukuk. 8. Makmum dengan Imam hendaklah sama-sama shalatnya, apabila shalat Ashar dengan shalat Ashar. Namun, hal itu untuk mencari keutamaan jama’ah. Tetapi jika tidak bersamaan dengan orang yang shalat maktubah (shalat fardhu), maka tidak boleh mengikuti (menjadi makmum) dengan orang yang sedang shlat mafilah (sunnat).
Seperti orang yang sedang shalat Ba’diyah Isya tidak boleh diikuti oleh orang yang akan shalat fardhu. Cara memberitahukan bahwa kita sedang shalat sunnat agar tidak diikuti oleh orang yang akan shalat fardhu adalah dengan menghentakkan tangan kanan kita dan kalau melihat kode (hentakan tangan) tersebut hendaknya orang yang berniat menjadi makmum itu mengurungkan niatnya mengikuti untuk (bermakmum) kepadanya. Begitu juga orang yang shalat fardhu tidak boleh mengikuti (menjadi makmum) kepada orang yang sedang shalat gerhana atau shalat jenazah karena aturannya tidak sama. Tetapi sebagian Ulama berpendapat orang yang sedang shalat sunnat (misalnya shalat Ba’diyah Isya, dll) boleh diikuti oleh orang yang berniat akan shalat fardhu karena aturannya sama. Misalnya kita sedang shalat sunnat (Ba’diyah Maghrib) tiba-tiba pundak (bahu) kita dicolek (sebagai tanda) seseorang akan mengikuti shalat (menjadi makmum) dengan shalat kita, boleh saja dan kita tidak usah (tidak perlu) memberi kode dengan cara menghentakkan tangan kanan kita. Wallahu a’lam bishawaab!. 9. Makmum tidak boleh mengikuti Imam jika Wudhu Imam tersebut sudah batal atau berhadast, seperti Imam yang buang angin (kentut) atau Imamnya bukan orang Islam.
10. Makmum yang datang terlambat atau masbuk sementara Imam sudah rukuk atau sujud, maka makmum masbuk membaca takbiratul ihram dengan niat mengikuti Imam.
Selanjutnya makmum masbuk mengikuti apa yang sedang dikerjakan oleh Imam. Jika Imam sudah duduk tawaruk (bersimpuh) waktu bertasyahud atau duduk Iftirasy makmum mengikutinya tanpa membaca Al-Fatihah sebab bacaan Al-Fatihah bagi makmum masbuk sudah ditanggung oleh Imam. • Perhatikan Sabda Rasulullah SAW : ”Jikalau kamu datang untuk shalat dan kami sedang sujud maka sujudlah, tetapi jangan dimasukkan hitungan. Barangsiapa yang mendapat rukuk berarti ia mendapatkan shalat.” (HR. Abu Daud) Saudaraku, dengan perkataan lain bahwa kalau makmum masbuk dapat mengikuti rukuk bersama-sama Imam walaupun makmum belum sempat membaca Al-Fatihah, makmum masbuk itu mendapat satu raka’at. Sebaliknya makmum masbuk kalau tertinggal rukuk bersama Imam maka apabila Imam salam, ia berdiri lagi untuk menyelesaikan raka’atnya yang tertinggal. Sidang pembaca, ketika saya menulis artikel ini (saya beserta keluarga sedang berlibur di luar Jakarta) ada yang bertanya kepada saya (Seorang anak muda, yang belakangan saya tahu dia seorang aktivis masjid dan siswa kelas III salah satu SMU Negeri Unggulan): ”Ustad, saya mau tanya.” katanya kepada saya : ”Kasus ini baru kira-kira dua minggu lalu saya alami, saya shalat berjama’ah di Masjid dan mula-mula sih shalat berjalan baik artinya bacaan fatihah Imam bagus, bacaan suratnya bagus, tu’maninahnya juga baik bahkan rukun dan sunnat-sunnatnya shalat dikerjakan dengan baik oleh Imam di raka’at pertama. Hanya saja baru pada raka’at kedua Imam berlaku khilaf, pada waktu Imam duduk diantara dua sujud, setelah sujud kedua semestinya Imam duduk untuk tahiyat (tasyahud) awal, tetapi Imam lupa dan langsung berdiri tegak, makmum yang melihat ini spontan mengucap Subhanallah. Imam yang mendengar peringatan ini, sadar akan kesalahannya dan cepat-cepat duduk lagi untuk tahiyat (tasyahud) awal. ”Saya, Ustad.” kata anak muda itu kepada saya: ”Ketika melihat Imam yang sudah berdiri, kemudian duduk lagi saya berpendapat Imam sudah batal shalatnya dan saya munfarid (saya niat keluar dari berjama’ah, pisah dari Imam) saya shalat sendiri sampai selesai (mengucap salam) : ”Tindakan saya itu salah atau benar ustad ? Kemudian apakah saya yang sempat mengikuti shalat bersama Imam (berjama’ah) di raka’at pertama itu masih mendapat berjama’ah (mendapat pahala 27 (dua puluh tujuh) derajat atau hanya mendapat ganjaran 1 (satu) derajat saja. Dan makmum yang mengikuti Imam dan Imam sebelum shalat melakukan sujud sahwi, bagaimana itu Ustad ?” Saya menjawab : ”Tindakan kamu munfarid itu benar dan Imam yang keliru. Dan karena kamu sempat berjama’ah dan mendapat satu raka’at di raka’at pertama maka Allah SWT tidak menghilangkan pahala berjama’ah kamu, itu artinya kamu tetap mendapat ganjaran pahala yang 27 (dua puluh tujuh) derajat. Sedangkan shalat Imam dan makmum yang mengikuti Imam tetap tidak syah (batal) walaupun Imam melakukan sujud sahwi sekalipun dan shalat mereka harus di ulang.” Saudaraku sesama muslim, sidang pembaca yang terhormat. Kenapa saya membenarkan tindakan anak muda itu ? Dan kenapa saya mengatakan Imam yang keliru dan shalat mereka tidak syah (batal) dan mereka harus mengulang shalat? Sidang pembaca, didalam shalat ada syarat, rukun dan ada sunnat-sunnat shalat yaitu sunnat Ab’adl dan sunnat Hai’at. Kasus anak muda tadi, berdiri tegak didalam shalat fardhu adalah rukun sedangkan duduk Iftirasy untuk tasyahud awal hukumnya adalah sunnat Hai’at. Jadi Imam dalam kasus ini sudah mendahulukan yang sunnat daripada yang rukun dan menjadilah shalatnya batal dan meskipun Imam melakukan sujud sahwi, tetap shalatnya tidak syah dan harus diulang shalatnya. Tinggal lagi bagaimana cara memberitahukannya itu (kepada Imam dan makmum) memang memerlukan kebijaksanaan serta kearifan agar tidak menimbulkan kegaduhan (fitnah). Yang utama harus diberitahukan kepada mereka apapun resikonya, sesuai ajaran agama : Sampaikan yang hak walaupun pahit. Saudaraku, sampai disini saya sudahi dakwah saya (lewat tulisan) semoga bermanfaat, terima kasih atas segala perhatian dan mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Wa’afwa minkum wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. • • • (Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari Pendidikan Agama Islam oleh: Drs. Ahmad Syafi’i Mufid, M.A.Dkk., dari buku Catatan Taklim Penulis dan buku Risalah Tuntunan Shalat Lengkap oleh: Drs. Moh. Rifai.) • • • * Tulisan (artikel) Religius ini dapat anda temukan pada website H. Sunaryo A.Y. dengan alamat : http://hajisunaryo.co.nr * • • •
Artikel : Religius Edisi : IstimewaOleh : H. Sunaryo A. Y.
”Saudaraku sesama muslim, sidang pembaca yang budiman, awal dari dakwah saya (lewat tulisan) kali ini sesuai judul tersebut diatas saya sampaikan tiga buah Hadist sebagai berikut : ”Demi Allah , Sungguh aku telah berniat akan menyuruh mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku menyuruh mendirikan shalat, lalu dikumandangkan Adzannya. Setelah itu aku menyuruh seseorang untuk mengimami jama’ah. Sementara itu aku menyelinap menuju orang-orang yang tidak suka pergi shalat berjama’ah, kemudian aku bakar rumah beserta mereka didalamnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) • Sebuah Hadist serupa dengan sedikit perbedaan susunan redaksinya diriwayatkan Imam Bukhari : ”Dari Abu Hurairah : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : ”Demi Allah yang diriku ditangan-Nya, sesungguhnya aku ingin menyuruh mengumpulkan kayu api, kemudian kusuruh mengerjakan sembahyang, lalu orang Bang (Adzan) untuk sembahyang itu. Sesudah itu ku suruh seorang laki-laki menjadi Imam bagi orang banyak. Kemudian aku pergi kepada orang-orang (yang tidak sembahyang berjamaah) lalu aku bakar rumahnya. Demi Allah yang diriku dalam genggaman-Nya, kalau sekiranya orang mengetahui bahwa ia akan mendapat daging gemuk yang baik niscaya mereka datang menghadiri sembahyang Isya’ secara berjamaah.) (HR. Bukhari) • Dan Hadist dari Sahabat Abu Hurairah ra berkata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : ”Sungguh saya ingin memerintahkan para pemuda untuk mengumpulkan kayu bakar yang banyak, kemudiaan saya akan mendatangi orang-orang yang shalat dirumahnya tanpa udzur dan saya bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah dan Turmudzi). Saudaraku ketiga Hadist Shahih tersebut diatas mengatakan bahwa Rasulullah SAW mengancam akan membakar rumah berserta penghuninya (lantaran) karena mereka tidak suka pergi ke Masjid untuk shalat berjama’ah. Meskipun dalam (pada) kenyataannya tidak ada satu rumah pun yang dibakar oleh Rasul, namun dari ancaman itu kita tahu bahwa Rasulullah SAW sangat kecewa terhadap mereka yang tidak suka pergi ke Masjid padahal rumah mereka itu tidak jauh dari Masjid. Dan kekecewaan itu dapat dimaklumi sebab sejak semula Rasulullah telah menekankan agar shalat lima waktu dilaksanakan oleh mereka yang dekat dengan rumah Allah (Masjid) itu. • Perhatikan Hadist berikut ini : ”Barangsiapa mendengar seruan Adzan, namun tidak mau memenuhinya, maka tidak ada shalat baginya.” (HR. Abdul Muadzir) Kata-kata tidak ada shalat baginya menunjukkan betapa ada Rasulullah menekankan agar shalat fardhu dilaksanakan secara berjamaah di Masjid. Demikian pentingnya shalat berjama’ah ini, sehingga tatkala (didalam sebuah riwayat) ada seorang yang buta kedua matanya bernama Abdullah bin Ummi Maktum menghadap beliau seraya berkata : ”Ya Rasulullah, tidak ada orang yang membimbing saya pergi ke Masjid.” Rasulullah SAW bertanya: ”Apakah kamu mendengar panggilan shalat (Adzan) ? Dia (Abdullah bin Ummi Maktum) menjawab : ”Ya, Saya mendengarnya.” Rasulullah SAW menetapkan : ”Penuhilah panggilan itu.” Akhirnya Abdullah bin Ummi Maktum yang buta itu selalu hadir di Masjid untuk shalat berjama’ah, sehingga akhirnya dia ditetapkan sebagai muadzin bersama Sahabat Bilal bin Rabah. Di dalam buletin Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII) no : 28 Thn ke XXI bulan Juli 1994 diterangkan bahwa setentang shalat berjama’ah bagi mereka yang jauh dari Masjid memang tidak ada salahnya melaksanakan shalat dirumah masing-masing. Namun bila menyempatkan diri untuk mengikuti shalat berjama’ah di Masjid, sungguh merupakan keuntungan tersendiri yang diperoleh itu bukan hanya 27 (dua puluh tujuh) derajat keutamaan shalatnya, tetapi akan diperolehnya pula keutamaan dari langkah – langkahnya menuju Masjid tersebut. • Sesuai Hadist Rasulullah SAW : ”Sesungguhnya apabila salah seorang diantara kamu berwudhu dengan baik, kemudian pergi ke Masjid dengan tujuan shalat berjama’ah, maka setiap langkahnya akan dihitung satu derajat pahala, sekaligus di hapuskan satu dosanya.” (HR. Muttafaq’alaih) Selanjutnya Rasulullah SAW menyatakan bahwa orang yang datang ke Masjid dengan tujuan shalat berjama’ah akan memperoleh keuntungan lain, yaitu akan di do’akan oleh para malaikat selama orang tersebut berada didalam Masjid dan tidak berhadast. • Adapun do’a para Malaikat itu sebagai berikut : ”Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, kasihanilah dia.” (HR. Muttafaq’alaih) Didalam buku Konci Ibadah Oleh : S.A. Zainal Abidin diterangkan bahwa Shalat berjama’ah itu hukumnya sunnat muakad pada shalat fardhu yang lima waktu dan shalat yang bukan shalat Jum’at, pahalanya (ganjarannya) itu 27 (dua puluh tujuh) derajat dari shalat sendiri (Dalam Hadist lain 25 (dua puluh lima) derajat.) Adapun hikmah shalat berjama’ah antara lain : Memupuk rasa persaudaraan dan kesatuan umat Islam atau ukhuwah Islamiah, menumbuhkan rasa sosial dan hidup kebersamaan, memupuk dan meningkatkan sikap disiplin. Hal ini sangat memungkinkan karena para anggota Jama’ah harus hadir di Masjid tepat pada waktu yang sama dan bagi orang yang tidak disiplin akan ketahuan karena mereka tidak akan betah berjamaah. Shalat berjama’ah mempertunjukkan bagaimana sikap kepemimpinan dalam Islam yang memperlihatkan sikap persamaan derajat dari pada perbedaannya dan juga memberikan gambaran tanggung jawab, dimana imam sebagai pemimpin dipilih yang paling layak diantara Jama’ah. Sementara didalam buku Pendidikan Agama Islam Oleh : Drs. Ahmad Syafi’i Mufid, M.A. Dkk diterangkan bahwa shalat berjama’ah ialah shalat yang dikerjakan secara bersama-sama, paling sedikit dikerjakan oleh 2 (dua) orang, seorang bertindak sebagai imam dan seorang lagi menjadi makmum, sedangkan paling banyak tidak terbatas. Pelaksanaannya boleh di rumah bersama keluarga, seperti suami istreri, anak-anak, pembantu atau Saudara sanak famili. Namun yang paling afdol (baik) shalat berjama’ah itu dikerjakan di Masjid. Dan shalat berjama’ah mempunyai keutamaan yaitu pahalanya 27 (dua puluh tujuh) derajat lebih tinggi jika dibandingkan dengan shalat sendirian. • Sesuai Hadist yang diriwayatkan oleh Muttafaq’Alaih tersebut ini : ”Dari Ibnu Umar ra bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, shalat berjama’ah itu lebih baik daripada shalat sendiri dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim) • Di dalam kitab Terjemah Hadist Shahih Bukhari Oleh : Peterjemah : H. Zainuddin Hamidy, Faahruddin HS, Nasaruddin Thaha dan Djohar Arifin yang ditulis pada tahun 1956 dan diterbitkan oleh Penerbit Widjaya Jakarta Jilid I dan II pada tahun 1964 terdapat beberapa Hadist setentang shalat berjama’ah sebagai berikut : • Nabi SAW bersabda : ”Dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW sabdanya : ”Sembahyang berkaum-kaum (berjama’ah) di Masjid melebihi sembahyang di rumah dan di pasar 25 (dua puluh lima) derajat. Sesungguhnya apabila seseorang berwudhu serta disempurnakannya wudhunya dan dia datang ke Masjid dengan sengaja hanyalah buat mengerjakan sembahyang, setiap langkah yang dilangkahkannya, dinaikkan Allah derajatnya dan dihapuskan kesalahannya, sehingga ia masuk Masjid. Setelah ia masuk Masjid selama ia bertahan mengerjakan sembahyang itu, Malaikat mendo’akannya dengan do’a : ”Ampunilah dosanya dan berilah dia rahmat! Hal ini selama dia masih duduk dan belum berhadast.” (HR. Bukhari). • Bersabda Rasulullah SAW : ”Kata Abu Hurairah : Rasulullah SAW bersabda : Sembahyang dengan berkaum-kaum (berjama’ah) berlipat ganda (pahalanya) dari sembahyang di rumah dan di pasar, dua puluh lima kali lipat. Hal itu karena, apabila seseorang berwudhu dan disempurnakannya wudhunya sesudah itu dia pergi ke Masjid dengan maksud hanya untuk mengerjakan sembahyang. Dia melangkah barang selangkah, ditinggikan oleh Allah derajatnya karena langkahnya itu. Apabila dia mengerjakan sembahyang, Malaikat senantiasa mendo’akannya selama dia masih tetap ditempat sembahyangnya. Dengan do’a : ”Ya Allah berilah kiranya dia kebaikan dan cintailah dia.” Sesungguhnya kamu senantiasa dianggap dalam sembahyang selama dia menunggu buat mengerjakan sembahyang.” (HR. Bukhari) • Rasulullah SAW bersabda : ”Kata Abu Hurairah : ”Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : ”Kelebihan (pahala) sembahyang berkaum-kaum (berjama’ah) dari sembahyang seseorang sendirian 25 (dua puluh lima) bahagian. Berkumpul Malaikat (yang menjaga manusia) malam hari dan malaikat (penjaga) siang hari, di waktu sembahyang fajar (subuh).” Kata Abu Hurairah : ”Bacalah ayat kalau kamu sukai. Sesungguhnya sembahyang fajar (subuh) dihadiri oleh Malaikat malam dan siang. (HR. Bukhari.) Hadist dari Sahabat Abu Darda : ”Kata Ummu Darda’ (istri Abu Darda) : Datang kepadaku Abu Darda dan ia sedang marah. Lalu ku tanyakan kepadanya : Kenapa tuan marah?” Jawabannya : ”Demi Allah, hanya yang aku ketahui dari perbuatan umat Muhammad SAW ialah mereka sembahyang berkaum-kaum (berjama’ah).” (HR. Bukhari). • Nabi Muhammad SAW bersabda : ”Dari Abdullah bin Umar : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : Sembahyang berkaum-kaum (berjama’ah) lebih banyak pahalanya dari sembahyang seorang diri 27 (dua puluh tujuh) derajat (tingkat).” (HR. Bukhari) • Rasulullah SAW bersabda : ”Dari Abu Hurairah ra : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : ”Pada ketika seorang laki-laki berjalan disatu jalan didapatinya sepotong duri terletak di jalan, lalu dibuangnya. Allah berterima kasih kepadanya, lantas diampuni Allah dosanya. Sesudah itu Nabi SAW bersabda pula : Orang mati syahid itu, lima : 1. Orang kena tikam, 2. Orang sakit perut, 3. Orang karam, 4. Orang yang ditimpa tanah runtuh dan 5. Orang yang mati perang dijalan Allah. Kalau sekiranya orang mengetahui kelebihan Bang (Adzan) dan Saf pertama (dari sembahyang berjama’ah) dan mereka tidak bisa mendapat itu hanyalah dengan berundi, niscaya mereka mau berundi untuk mendapatnya (untuk Adzan dan berdidri di saf pertama) Kalau mereka mengetahui kelebihan sembahyang Dzuhur niscaya mereka berlomba-lomba untuk mendapatnya. Dan kalau mereka mengetahui kelebihan sembahyang Isya’ dan Subuh niscaya mereka datang mengerjakannya (ke Masjid berjama’ah) biarpun harus dengan merangkak.” (HR. Bukhari). • Ada diriwayatkan dari Nabi SAW beliau bersabda : ”Barangsiapa shalat Maghrib dan Isya’ dengan berjama’ah maka ia telah mengambil bahagianya yang sempurna dari Lailatul Qadar.” • Dan diriwayatkan pula dari Nai SAW bersabda : ”Barangsiapa shalat Isya’ dengan berjama’ah maka seolah-olah ia berdiri sebahagian malam. Dan apabila dia shalat subuh dengan berjamaah pula maka seakan-akan dia telah berdiri separoh malam lagi.” (Kedua Hadist tersebut diatas dikutip dari buku Pedoman Puasa Oleh : Prof. Dr. Hasbi Ash – Shiddieqy.) Saudaraku ses`1ama muslim, sementara didalam kitab FADHAIL A’MAL dalam edisi revisi bahasa Indonesia Oleh : Syaikhul Hadist Maulana Muhammad Zakariyya rah.a. pada halaman 56, 57, 58, 59 dan 60 setentang ancaman meninggalkan shalat berjama’ah diterangkan dengan sangat mengerikan sebagai berikut : • Dari Sahabat Ibnu Abbas ra berkata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : ”Barangsiapa mendengar seruan Adzan, tetapi tidak memenuhinya tanpa suatu udzur maka shalat yang di kerjakannya tidak akan diterima.” para Sahabat bertanya: ”Apakah udzurnya?” Beliau SAW menjawab : ”Ketakutan atau sakit.” (HR. Abu Daud, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah – At Targhib) Dijelaskan dalam kitab tersebut bahwa maksud dari shalatnya tidak diterima adalah dia tidak akan memperoleh pahala dari shalat yang dikerjakannya, walaupun kewajibannya telah ditunaikan. Dengan kata lain, dia tidak akan memperoleh kemuliaan dan kehormatan yang seharusnya dia terima. Ini adalah menurut para Imam kita, sedangkan para Sahabat dan sebagian Tabi’in mengatakan bahwa meninggalkan shalat berjam’ah tanpa alasan yang kuat adalah haram hukumnya. Jadi shalat berjama’ah hukumnya wajib, sehingga banyak ulama yang mengatakan, meskipun shalatnya syah namun dia tetap berdosa karena meninggalkan berjama’ah. Ibnu Abbas r.a. juga berkata: ”Barangsiapa mendengar suara Adzan, tetapi tidak melaksanakan shalat berjama’ah maka dia tidak menghendaki kebaikan dan tidak mau diberi kebaikan.” Lain lagi Sahabat Abu Hurairah r.a. yang berkata : ”Barangsiapa yang mendengar suara Adzan tetapi tidak shalat berjama’ah maka lebih baik dituangkan cairan timah yang mendidih kedalam telinganya.” • Dari Sahabat Muadz bin Anas r.a. berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda : ”Kebathilan diatas kebathilan, kekufuran dan kemunafikan, yaitu orang yang mendengar panggilan Muadzin untuk mendirikan shalat namun dia tidak memenuhinya.” (HR. Ahmad dan Thabrani, At-Targhib) Diterangkan dalam kitab ini bahwa betapa kerasnya ancaman Hadist ini, sehingga perbuatan seperti ini digolongkan kepada perbuatan orang-orang kafir dan munafik. Sebenarnya umat Islam tidak pantas melakukan perbuatan itu. Dalam Hadist lain dikatakan : ”Jika seseorang mendengar seruan Adzan tetapi tidak melaksanakan shalat berjama’ah maka dia pantas untuk mendapatkan kerugian dan keburukan.” Seorang Sahabat bernama Sulaiman bin Abi Hastmah r.a. adalah sahabat yang disegani. Beliau dilahirkan sebelum Rasulullah SAW wafat. Tetapi ketika itu beliau terlalu muda untuk dapat meriwayatkan Hadist-hadist Rasulullah SAW. Ketika Sayyidina Umar Ibnu Khattab r.a. menjadi Khalifah, beliau (Sulaiman) ditugaskan untuk menjaga pasar. Pada suatu hari, Sayyidina Umar Al – Faruk tidak melihatnya dalam shalat subuh berjamah. Sayyidina Umar Ibnu Khattab r.a. segera pergi ke rumahnya dan bertanya kepada ibu Sulaiman bin Abi Hastmah r.a. : ”Mengapa Sulaiman tidak menyertai shalat subuh ?” sang ibu menjawab : ”Sulaiman melaksanakan shalat sunnat sepanjang malam, sehingga dia tertidur pada waktu subuh.” lalu Sayyidina Umar r.a. berkata : ”Aku lebih menyukai shalat subuh berjama’ah daripada shalat sunnat sepanjang malam.” • Sebuah Hadist dari Sahabat Ibnu Abbas r.a. : ”Sesungguhnya seseorang bertanya kepadanya tentang orang yang berpuasa sepanjang hari dan mendirikan shalat sepanjang malam, tetapi ia tidak pergi ke Masjid untuk shalat berjama’ah dan shalat Jum’at. Ibnu Abbas r.a. menjawab : ”Dia adalah penghuni Neraka Jahanam.” (HR. Turmudzi – At-Targhib) Diterangkan didalam kitab Fadhail A’mal ini, bahwa karena (orang itu) seorang muslim mungkin suatu saat akan dibebaskan dari Neraka, kemudian dimasukkan kedalam Syorga. Tetapi siapa yang tahu berapa lama dia akan disiksa didalam Neraka ? Banyak ahli Sufi dan para Syeikh yanga sangat mementingkan dzikir dan shalat sunnat serta menganggapnya sebagai suatu amal shaleh, tetapi tidak melaksanakan shalat berjama’ah. Hendaknya diingatkan bahwa tidak ada orang yang dapat mencapai derajat kesholehan kecuali dengan mematuhi amalan-amalan kekasih kita, Nabi Muahammad SAW... • Ada diriwayatkan dalam sebuah Hadist bahwa Allah SWT mengutuk 3 (tiga) golongan manusia yaitu : Pertama, seorang Imam yang dibenci oleh makmumnya dengan alasan yang masuk akal. Kedua, seorang wanita yang dimurkai oleh suaminya dan yang ketiga, seorang yang mendengar suara Adzan tetapi tidak pergi ke Masjid untuk melaksanakan shalat berjama’ah. • Hadist dari Sahabat Abu Darda r.a. berkata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : ”Tidaklah terdapat tiga orang dalam satu kampung atau satu pedalaman dan mereka tidak melaksanakan shalat berjama’ah, kecuali Syetan menguasai mereka. Maka hendaklah kalian berjama’ah, karena sesungguhnya seekor Srigala akan memakan Domba yang terpisah dari kelompoknya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Hakim – At-Tharghib.) Saudaraku, Hadist ini menunjukkan orang yang sibuk bertani sekalipun, hendaknya melaksanakan shalat berjama’ah jika terdapat tiga orang atau lebih, bahkan walaupun hanya ada dua orang. Akan tetapi para petani umumnya tidak melaksanakan shalat dengan alasan pertanian mereka. (Dan ironisnya yang memahami agama pun masih shalat sendirian tanpa udzur). Padahal seandainya para petani berkumpul disuatu tempat, tentu akan terbentuk suatu Jama’ah yang lebih besar, dengan demikian akan mendatangkan pahala yang lebih besar pula. Hanya untuk mendapatkan sedikit uang, mereka rela bersusah payah tanpa menghiraukan panas, hujan dan sebagainya dan rela melepaskan pahala yang besar tanpa ada penyesalan sedikitpun. Jika mereka melaksanakan shalat berjama’ah walaupun ditengah hutan, maka akan mendatangkan pahala yang sangat banyak Disebutkan dalam Hadist bahwa pahalanya adalah 50 (lima puluh) derajat pahala shalat. Sebuah Hadist yang lain mengatakan : ”Jika seorang pengembala Kambing di gunung atau di hutan mengumandangkan Adzan dan melaksanakan shalat maka Allah SWT sangat mencintainya dan dengan bangga berfirman kepada para Malaikat : ”Lihatlah hamba-Ku ini. Dia mengumandangkan Adzan dan mendirikan shalat. Semua ini dilakukannya semata-mata karena taqwanya kepada-Ku. Aku mengampuninya dan menjanjikan untuknya tempat dalam Syorga.” • Ibnu Mardawaih rah. a. Meriwayatkan dari Sahabat Ka’ab AL-Akhbar r.a. katanya: ”Demi Dzat yang menurunkan Taurat kepada Musa As dan Injil kepada Isa As serta Zabur kepada Daud As dan Al-Qur’an kepada Muhammad SAW, bahwa ayat-ayat dibawah ini diturunkan mengenai shalat : ”Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil agar bersujud tapi mereka tidak sanggup, pandangan mereka tertunduk kebawah. Mereka diselubungi kehinaan dan sungguh mereka dahulu diseru untuk bersujud, sedangkan mereka dalam keadaan sejahtera.” (QS. Al-Qalam : 42-43) Sidang pembaca, menurut Al-Baihaqi dari Sahabat Sa’ad bin Jubair r.a. dari Sahabat Ibnu Abbas r.a. ayat tersebut berkenaan dengan shalat berjama’ah lima waktu. Juga menurut Al-Baihaqi dari Sahabat Ibnu Abbas r.a. ayat tersebut mengenai orang yang mendengar seruan Adzan untuk shalat berjama’ah tetapi dia tidak memenuhinya. (Durrul Mantsur). Cahaya betis yang disingkapkan merupakan kehebatan khusus Padang Mashar kelak. Pada hari itu seluruh muslim akan bersujud melihat hal itu, tetapi ada sebagian diantara mereka yang tulang punggungnya mengeras sehingga tidak dapat bersujud. Siapakah mereka itu? Beberapa tafsir telah banyak mengemukakan pendapatnya. Sahabat Ka’ab Akhbar r.a. dan Sahabat Ibnu Abbas r.a. menafsirkan : ”Mereka adalah orang-orang yang dipanggil untuk berjama’ah, namun mereka tidak memenuhi panggilan tersebut.” Penafsiran kedua, dalam kitab Bukhari tertulis bahwa Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri r.a. berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : ”Mereka adalah orang yang shalat ketika di dunia dengan riya dan ingin dilihat oleh orang lain.” Penafsiran ketiga, adalah mengatakan bahwa mereka orang-orang kafir yang selama di dunia tidak pernah melaksanakan shalat. Dan penafsiran ke empat, adalah menyatakan bahwa mereka kaum munafik.Wallaahua’lambishawaab! Diterangkan didalam kitab Fadhail A’mal ini bahwa Sumpah Sahabat Ka’ab Akhbar r.a. atas nama Allah SWT, ditambah dengan penafsiran Sahabat Ibnu Abbas r.a. sebagai Imam para Mufassir, demikian jelas mengatakan betapa sengsaranya kehidupan di Padang Mashar. Semua kaum muslimin bersujud dengan perasaan rendah, tetapi orang-orang seperti itu (orang-orang yang diapanggil untuk shalat tberjama’ah namun mereka tidak memenuhi panggilan tersebut) tidak dapat bersujud. Selain itu, masih banyak lagi ancaman bagi orang yang meninggalkan shalat berjama’ah. Namun (sesungguhnyalah) bagi orang beriman, satu saja keterangan (ancaman) sudah cukup untuk menta’ati segala perintah Allah dan Rasul-Nya. Tetapi bagi orang tidak beriman, maka seribu ancaman pun mereka tidak akan berpengaruh. Saudaraku, sidang pembaca yang berbahagia. Sampai disini saya sudahi dulu dakwah saya (lewat tulisan) ini, terima kasih atas segala perhatian dan mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Semoga dengan sebab membaca tulisan (Artikel religius) ini, kita akan menjadi lebih tangkas (dimudahkan menyegerakan) pergi ke Masjid untuk shalat berjama’ah begitu kita mendengar panggilan shalat (Adzan) di kumandangkan. Insya Allah! • • • (Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari FADHAIL A’MAL dalam edisi Revisi Bahasa Indonesia Oleh: Syaikhul Hadist Maulana Muhammad Zakariyya rah. a., buku Konci Ibadah Oleh: S.A. Zainal Abdin, buku Terjemah Hadist Bukhari Peterjemah: H. Zainuddin Hamidy, Fachruddin HS, Nasaruddin Thaha dan Djohar Arifin, Buletin Dewan Dakwah Islamiah Indonesia No : 28 Thn ke XXI Juli 1994 dan buku Pendidikan Agama Islam Oleh: Drs. Ahmad Syafi’i Mufid, MA., Dkk.)
• • • * Tulisan (artikel) Religius ini dapat anda temukan pada website H. Sunaryo A.Y. dengan alamat : http://hajisunaryo.co.nr * • • •
Artikel : Religius Edisi : Istimewa Oleh : H. Sunaryo A. Y.
Saudaraku sesama muslim, sidang pembaca yang berbahagia, Jumpa lagi kita, alhamdulillah kali ini dakwah saya (lewat tulisan) sesuai judul religius ini tersebut diatas. Namun sebelum itu perkenankanlah saya menyampaikan beberapa Hadist shahih setentang pentinganya shalat berjama’ah di Masjid sebagai berikut : • Bersabda Rasulullah SAW : Demi Allah, sungguh Aku telah berniat akan menyuruh mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku menyuruh mendirikan shalat, lau dikumandangkan Adzannya. Setelah itu aku menyuruh seseorang untuk mengimami Jama’ah. Sementara itu aku menyelinap menuju orang-orang yang tidak suka pergi shalat berjama’ah, kemudian aku bakar rumah beserta mereka didalamnya.” (HR. Bukhari – Muslim). • Nabi Muhammad SAW bersabda : ”Sesungguhnya apabila salah seorang diantara kamu berwudhu dengan baik, kemudian pergi ke Masjid dengan tujuan shalat (berjama’ah), maka satu langkahnya akan dihitung satu derajat pahala. Sekaligus dihapuskan satu dosanya.” (HR. Muttafaq ’Alaih) • Hadist shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah r.a. : ”Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW sabdanya : ”Sembahyang berkaum-kaum (berjama’ah) di Masjid melebihi sembahyang dirumah dan di pasar 25 (dua puluh lima) derajat. Sesungguhnya apabila seseorang berwudhu serta di sempurnakannya wudhunya dan dia datang ke Masjid dengan sengaja hanyalah buat mengerjakan sembahyang, setiap langkah yang dilangkahkannya, dinaikkan Allah SWT derajatnya dan dihapuskan kesalahannya, sehingga ia masuk Masjid. Setelah ia masuk Masjid selama ia bertahan mengerjakan sembahyang itu, Malaikat mendo’akannya dengan do’a : ”Ampunilah dosanya dan berilah dia rahmat!” Hal ini selama dia masih duduk dan belum berhadast.” (HR. Bukhari) • Lagi sebuah Hadist Shahih di riwayatkan oleh Imam Bukhari dari Sahabat Abu Hurairah r.a. : ”Kata Sahabat Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda : Sembahyang berkaum-kaum (berjama’ah) di Masjid melebihi sembahyang dirumah dan di pasar 25 (dua puluh lima) kali lipat. Hal ini karena apabila seseorang berwudhu dan disempurnakannya wudhunya sesudah itu dia pergi ke Masjid dengan maksud hanya untuk mengerjakan sembahyang. Dia melangkah barang selangkah ditinggikan oleh Allah SWT derajatnya karena langkahnya itu. Apabila dia mengerjakan sembahyang, Malaikat senantiasa mendo’akan selama dia masih tetap ditempat sembahyangnya. Dengan do’a: ”Ya Allah berilah kiranya dia kebaikan dan cintailah dia.” Sesungguhnya kamu senantiasa dianggap dalam sembahyang selama dia menunggu buat mengerjakan sembahyang.” (HR. Bukhari) • Lantas sebuah Hadist shahih diriwayatkan oleh Muttafaq’alaih : ”Dari Ibnu Umar r.a. bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : Shalat berjama’ah itu lebih baik daripada shalat sendiri dengan 27 (dua puluh tujuh) derajat.” (HR. Bukhari – Muslim) • Dan Hadist masih dari Sahabat Abu Hurairah berikut ini: ”Dari Abu Hurairah r.a. : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : ”Pada ketika seorang laki-laki berjalan distu jalan didapatinya sepotong duri terletak dijalan lalu dibuangnya. Allah SWT berterima kasih kepadanya, lantas diampuni Allah dosanya.” Sesudah itu Nabi SAW bersabda pula : ”Orang mati syahid itu, lima : 1. Orang kena tikam, 2. Orang sakit perut, 3. Orang karam, 4. Orang yang ditimpa tanah runtuh dan 5. Orang yang mati perang dijalan Allah. Kalau sekiranya orang mengetahui kelebihan Bang (Adzan) dan Syaf pertama (dari sembahyang berjama’ah) dan mereka tidak bisa mendapat itu hanyalah dengan berundi, niscaya mereka mau berundi untuk mendapatnya (untuk Adzan dan berdidri di saf pertama) Kalau mereka mengetahui kelebihan sembahyang Dzuhur niscaya mereka berlomba-lomba untuk mendapatnya. Dan kalau mereka mengetahui kelebihan sembahyang Isya’ dan Subuh niscaya mereka datang mengerjakannya (ke Masjid berjama’ah) biarpun harus dengan merangkak.” (HR. Bukhari). Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat beberapa Hadist berpredikat shahih tersebut diatas telah jelas (gamblang) dijelaskan bagaimana pentingnya shalat berjama’ah (sampai-sampai Rasul mengancam akan membakar rumah berserta orangnya bagi mereka yang tidak suka shalat berjama’ah), betapa besar (pahala) yang didapat bagi orang yang menyempatkan diri untuk shalat berjama’ah di Masjid. Dari mulai berlipat ganda 25 (dua puluh lima) derajat sampai 27 (dua puluh tujuh) derajat pahala serta bermacam bentuk pahala lainnya. Seperti di do’akan oleh para Malaikat agar Allah mengampuninya, merahmatinya (Allah memberi kasih sayang-Nya), sepert langkahnya menuju Masjid di hitung satu derajat pahala sekaligus dihapuskan satu dosanya serta pahala-pahala (keutamaan) lainnya yang dikatakan oleh Rasul (Kalau saja oran gtau betapa besar pahala yang didapatnya) mereka datang ke Masjid untuk shalat berjama’ah meskipun harus dengan merangkak. Saudaraku, sidang pembaca yang budiman. Sekarang yang menjadi permasalahan adalah sebuah pertanyaan yaitu : Adakah perintah bagi kaum wanita muslimat mengikuti shalat fardhu yang lima waktu berjama’ah di Masjid ? Sebab sepengetahuan saya, hampir tidak ada saudari-saudari kita (kaum muslimat) yang ikut berjama’ah shalat 5 (lima) waktu di Masjid – masjid atau musholla-musholla (Kecuali di Masjidil Haram di kota (tanah) suci Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawwaroh yang juga biasa disebut Kota Rasul (Madinat al – Rasul), karena penulis (ketika menunaikan ibadah Haji pada tahun 1995) melihat sendiri membludakn (banyak) sekali kaum muslimat shalat fardhu berjama’ah) di kedua Masjid Agung tersebut. Baik, untuk menjawab pertanyaan diatas kita lihat Buletin Dakwah Islamiah Indonesia (DDII) no: 28 Thn ke-XXI Juli 1994 diterangkan bahwa memang ada Hadist yang menyatakan : ”Wabuyuutuhunna khairun lahuna.” yang artinya: ”Rumah – rumah mereka lebih baik bagi mereka.” • Dan sebuah Hadist terdapat dikitab Terjemah Hadist Shahih Buchari dengan penterjemah oleh : H. Zainuddin Hamidy, Fachruddin HS, Nasaruddin Thaha dan Djohar Arifin disebutkan bahwa dari Aisyah r.a. ”Dari Aisyah r.a. katanya: ”Kalau sekiranya didapat (bertemu) oleh Rasulullah SAW apa yang dilakukan oleh perempuan-perempuan (sekarang) niscaya dilarangnya perempuan-perempuan itu (pergi ke Masjid) sebagaimana larangan terhadap perempuan bani Israil (HR. Bukhari). Diterangkan dalam kitab Terjemah Hadist Shahih Buchari tersebut bahwa maksud larangan bagi perempuan-perempuan Bani Israil adalah untuk memelihara kesopanan (etika) dan jangan menjalankan kejahatan. Kembali kita ke Buletin DDII bernomor : 28 Thn ke-XXI Juli 1994 diterangkan disini bahwa berbeda dengan kaum pria, memang kaum wanita lebih mudah menjadi sumber timbulnya fitnah, Dan dengan alasan inilah bahwa ada sementara saudara-saudara kita sesama muslim, yang melarang istri-istri mereka serta putri-putri mereka menghadiri shalat berjama’ah di Masjid. Agar tidak timbul fitnah, kata mereka. Anehnya kaum wanita (para istri, anak-anak perempuan dan sanak famili mereka yang perempuan serta para kemenakan perempuan dilarang pergi shalat berjma’ah di Masjid, tetapi tidak melarang pergi ketempat lain. Misalnya seperti pergi ke rumah teman, ke pasar atau pergi ke Mall (supermarket) dan pergi ke tempat pesta perkawinan. Padahal kalau dibandingkan kehadiran kaum wanita ketempat-tempat tersebut justru lebih mudah menjadi sumber fitnah dan maksiat ketimbang bila mereka pergi ke Masjid. Contohnya saja, sebagian mereka karena tidak memiliki kendaraan pribadi mereka pergi dengan memakai kendaraan umum dan padatnya penumpang di kendaraan umum dapat dibayangkan dan mereka berhimpit-himpitan dengan penumpang lain yang bukan muhrimnya. Sementara alangkah sukarnya mencarai contoh wanita berbuat maksiat di saat pergi ke Masjid untuk mendirikan shalat berjama’ah. Bahkan bukankah justru karena ketaatannya melaksanakan perintah Allah SWT itu maka kaum wanita akan memiliki keimanan yang lebih tangguh (kuat) menghadapi godaan syetan? Selanjutnya Buletin ini menjelaskan bahwa sesungguhnya kaum wanita muslimat dianjurkan untuk mengikuti shalat berjama’ah di Masjid sebagaimana kaum pria. Mereka (kaum wanita) ini dibenarkan mengikuti shalat berjama’ah bukan hanya pada siang hari tapi juga pada malam dan subuh pagi harinya. • Rasulullah SAW pernah mencegah para Sahabat melarang para istri pergi ke Masjid dengan sabdanya : ”Janganlah kamu melarang istri – istri kamu pergi ke Masjid di malan hari.” (HR. Bukhari.) • Dan Siti Aisyah istri Rasulullah SAW pernah meriwayatkan seperti berikut (yang artinya): ”Bahwasanya Nabi SAW shalat subuh di Masjid. Setelah itu nampak kaum wanita ke luar dari Masjid itu masih berpakaian mukena. Mereka belum dapat dikenali lantaran masih gelap.” (HR. Bukhari.) Seterusnya, kata Buletin ini bahwa apabila kepergian (kaum wanita) dapat mendatangkan fitnah memang sebaiknya mereka shlat di rumah masing-masing. Namun kalau fitnah yang ditakutkan itu tidak ada tetaplah mereka dianjurkan pergi ke Masjid untuk shalat berjama’ah. • Sesuai Hadist Nabi SAW : ”Hendaklah kaum wanita pergi ke Masjid dengan pakaian yang sederhana serta tidak memakai wangi-wangian.” (HR. Ahmad dan Abu Daud) Dengan keterangan dari 3 (tiga) buah Hadist tersebut diatas, menjadi sudah terjawab pertanyaan dari judul artikel religius ini. Bahwa ada Perintah bagi kaum wanita muslimat untuk mendirikan shalat berjama’ah di Masjid dan dianjurkan (dibenarkan) tidak saja siang, malam bahkan subuh pagi hari. Ingin tambah yakin? Perhatikan Hadist-hadist berikut berpredikat shahih ini : • Dari Aisyah, katanya : ”Sesunggunya Rasulullah SAW sembahyang subuh dan turut bersembahyang bersama-sama Nabi beberapa oran gdari perempuan Mu’minat (beriman) dengan berselimut kainnya. Kemudian (sesudah sembahyang) mereka kembali kerumahnya masing-masing dan tidak seorang pun yang mengenal mereka.” (HR. Bukhari) • Dari Ummu Salamah r.a., katanya : ”Biasanya Nabi SAW setelah beliau memberi salam (penutup sembahyang), lebih dahulu orang-orang perempuan berdiri sehabis Nabi memberi salam dan Nabi masih tetap duduk barang sebentar sebelum berdiri.” (HR. Bukhari.) • Kembali dari Ummu Salamah r.a., istri Nabi SAW katanya : ”Sesungguhnya perempuan – perempuan di masa Nabi, setelah memberi salam sembahyang yang fardhu mereka lantas berdiri (pergi), sedang Rasulullah SAW masih tinggal bersama laki-laki yang ikut sembahyang. Setelah Nabi SAW berdiri, barulah mereka berdiri pula.” (HR. Bukhari.) • Masih dari Ummu Salamah r.a., istri Nabi SAW katanya (artinya): ”Setelah Nabi SAW memberi salam (selesai sembahyang) berangkatlah orang-orang perempuan dan sampai dirumahnya sebelum Rasulullah SAW berangkat dari Masjid.” (HR. Bukhari) • Sementara didalam buku : Wahai Wanita Merekalah Teladanmu oleh: Frof. Dr. Thal’at Mohammad Afifi terdapat sebuah Hadist sebagai berikut : Diberitahukan dari Ummul Mukminin Aisyah r.a., ia berkata : ”Ketika Rasulullah SAW selesai mengerjakan shalat subuh, para wanita kembali kerumah masing-masing seraya menutupi tubuh mereka dengan kain penutup agar tidak tampak cahaya subuh.” (HR. Bukhari) • Kemudian sebuah Hadist dari kitab : Terjemah Hadist Shahih Buchari sebagai berikut : ”Dari Ibnu Umar r.a. dari Nabi SAW sabdanya : ”Jika istrimu meminta idzin pergi ke Masjid malam hari, hendaklah kamu idzinkan.” (HR. Bukhari) Saudaraku, sidang pembaca yang budiman, saya sudahi dulu dakwah saya (lewat tulisan) kali ini, semoga bermanfa’at serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Terima kasih atas segala perhatian, Wa’afwaminkum wassalumualaikum warahmatullahi wabarakatuh. • • • *(Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari Buletin Dewan Dakwah Islamiah Indonesia no. 28 Thn ke XXI Juli 1994 dan buku :Terjemah Hadist Shahih Buchari Oleh Penterjemah : H. Zainuddin Hamidy, Fachruddin HS, Nasaruddin Thaha dan Djohar Arifin *
• • • * Tulisan (artikel) Religius ini dapat anda temukan pada website H. Sunaryo A.Y. dengan alamat : http://hajisunaryo.co.nr * • • •
Artikel : Religius Edisi : Istimewa Oleh : H. Sunaryo A. Y. Saudaraku sesama muslim (muslimah), kembali saya berdakwah (lewat tulisan) sesuai Judul artikel ini tersebut diatas kali ini materi kita adalah setentang puasa sunnat dan kapan waktu yang diharamkan kita berpuasa. Selain puasa wajib (fardhu) ada puasa yang dikerjakan oleh seseorang (muslim) guna mendapatkan ridho Allah SWT dan mendekatkan diri kepadanNya dan bagi yang melaksanakannya hukumnya sunnat. Inilah yang disebut puasa sunnat, yaitu puasa yang dianjurkan oleh Nabi SAW. Adapun macam-macam puasa sunnat sebagaimana ditentukan Nabi SAW sebagai berikut : · 1. Puasa Nabi Daud : ”Dari Abdullah bin Umar berkata, Rasulullah SAW bersabda : ”Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari, itu puasa Nabi Daud dan itulah seutama – utama puasa. Maka berkatalah aku : ”Saya sanggup lebih dari demikian.” Jawab Rasulullah SAW : ”Tidak ada yang lebih utama dari itu.” (HR. Bukhari dan Muslim) · 2. Puasa 6 (enam) hari dibulan Syawal : ”Puasa ini biasa dinamakan puasa enam (Syawalan) dari Ayub berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : ”Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian ia puasa 6 (enam) hari pada bulan syawal, seperti puasa sepanjang masa.” (HR Muslim) · Puasa Dihari-hari likur pertama dari bulan Dzulhijjah. 3. Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda : ”Tak ada hari pun yang lebih disukai Allah SWT kita mengerjakan amalan-amalan didalamnya atau lebih utama kita beramal – tama dari bulan Dzulhijjah : Bertanya seorang sahabat : ”Apakah lebih utama juga dari Jihad ? Jawab Rasulullah SAW : ”Ya, melebihi jihad juga, kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan hartanya dan tidak membawa pulang apa-apa lagi.” (HR Abdur Razaq.) · 4. Puasa Arafah : ”Yaitu puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah (bulan Haji) orang yang sedang melakukan haji tidak disunnahkan berpuasa Arafah karena mereka sedang wukuf di Arafah. Sesuai Hadist berikut ini : ”Dari Abu Qatadah, Nabi SAW bersabda : ”Puasa dihari Arafah akan menghapus dosa dua tahun, tahun yang telah lalu dan tahun yang akan datang.” (HR Musim) · 5. Puasa Asyura : Yaitu puasa sunnat pada tanggal 10 Muharram (puasa hari ’Asyura) ”Dari Abu Qatadah, Rasulullah SAW telah bersabda : ”Puasa hari ’Asyura itu menghapuskan dosa satu tahun yang telah lalu.” (HR Muslim) · 6. Puasa Sya’ban : (Puasa sunnat yang dilaksanakan dibulan Sya’ban.) ”Dari Aisyah ra ia berkata : ”Saya tidak melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa satu bulan penuh, selain bulan Ramadhan dan saya tidak melihat Rasulullah pada bulan-bulan lain berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim) · 7. Puasa 3 (tiga) hari (setiap bulan yaitu tanggal 13,14, dan tanggal 15 bulan (Qomariah) kecuali bulan Dzulhijjah. ”Dari Abu Dzar, Rasulullah SAW bersabda : ”Apabila engkau hendak berpuasa engkau hanya 3 (tiga) hari dalam satu bulan, hendaklah kamu berpuasa tanggal 13, 14, dan 15.” (HR Ahmad dan Nasa’i) · 8. Puasa Senin Kamis : Bersabda Rasulullah SAW : ”Dari Aisyah ra ia berkata : ”Nabi SAW selalu memilih puasa hari senin dan hari kamis.” (HR Turmudzi) Sementara waktu-waktu yang diharamkan berpuasa adalah seperti berikut, bahwa umat Islam diperbolehkan melakukan puasa kapan saja ia menghendakinya, kecuali pada hari-hari dimana Rasulullah SAW mengharamkan puasa dan hari-hari diharamkan kita (umat) berpuasa adalah : a. Dua Hari Raya, yaitu hari raya Idhul Fitri dan Hari Raya Idhul Adha. Hari raya Idhul Fitri jatuh pada tanggal 1 Syawal dan hari raya Idhul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah. · Hadist Nabi SAW dari Abu Hurairah ra yang (artinya) : ”Rasulullah SAW melarang puasa pada dua hari raya yaitu hari raya Idhul Fitri dan hari raya Idhul Adha.” (HR Muslim) b. Hari-hari Tasrik (tiga hari) yaitu tanggal 11,12 dan tanggal 13 Dzulhijjah” · Sementara Hadist dari Nubaisyah Al Huzail ia berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda : ”Hari-hari Tasyrik itu adalah hari-hari makan dan minum serta menyebut (mengagungkan) Allah Azza wa Jalla.” (HR Muslim) · Dan bersabda Rasulullah SAW didalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Daruqutni : ”Dari Anas, bahwasanya Nabi SAW telah melarang berpuasa pada lima hari dalam satu tahun, yaitu : Hari raya Idhul Fitri, hari raya Idhul Adha dan 3 (tiga) hari Tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.” (HR Daruqutni) Saudaraku sesama muslim, larangan melakukan puasa tersebut adalah merupakan hak Allah yang harus ditaati oleh orang beriman. Karena setiap perintah maupun larangan Allah SWT pasti mempunyai rahasia dan manfaat bagi kita (manusia) · Perhatikan Hadist Nabi SAW berikut ini : ”Bahwasanya Tuhanmu mempunyai hak atasmu yang wajib engkau bayar. Begitu juga keluargamu dan dirimu, semua mempunyai hak yang wajib engkau bayar. Maka dari itu hendaklah engkau berpuasa sewaktu-waktu dan berbuka sewaktu-waktu. Berjaga malam sewaktu-waktu dan tidur diwaktu yang lain. Dekatilah ahlimu dan berikanlah hak mereka satu persatu.” (HR Bukhari) c. Pada hari Syak yaitu tanggal 30 Sya’ban yang tiada terlihat malamnya hilal Ramadhan : Saudaraku, selain waktu-waktu yang diharamkan berpuasa diatas, orang Islam juga dilarang (makruh) berpuasa pada hari Jum’at, kecuali sehari sebelum hari Jum’at atau sehari sesudah hari Jum’at memang sudah berpuasa atau memang akan berpuasa, sesuai Hadist dari Abu Hurairah ra yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim yang isinya melarang orang berpuasa pada hari Jum’at kecuali telah berpuasa sehari sebelumnya (hari Kamis) dan atau akan berpuasa sesudah hari Jum’at (hari sabtu)nya. Sampai disini saya sudahi dulu tulisan (artikel) religius ini. Insya Allah Jumpa lagi kita dengan tulisan saya yang lain dikesempatan lain. Terima kasih atas segala perhatian, mohon maaf sekiranya didalam tulisan ini terdapat kehilafan. Sekali lagi terima kasih, wa afwaminkum wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. • • • ( Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku : Islam Agamaku Oleh : Tim Penyusun Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. ) • • • * Tulisan (artikel) Religius ini dapat anda temukan pada website H. Sunaryo A.Y. dengan alamat http://www.hajisunaryo.co.nr *
Artikel : Religius Edisi : Istimewa Oleh : H. Sunaryo A. Y. Sidang pembaca, alhamdulillah jumpa lagi kita kali ini dakwah saya (lewat tulisan) sesuai judul artikel tersebut diatas. Semoga bermanfaat, semoga bertambah ilmu kita dan dengan izin-Nya semoga kita menjadi tangkas didalam melaksanakan segala perintah-perintah-Nya serta tangkas dalam menjauhkan sejauh-jauhnya segala larangan-laranganNya agar kita mendapat predikat apa yang disebut bertakwa. Sidang pembaca, seseorang baru disebut sebagai muslim jika ia telah memberikan kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad SAW itu adalah utusan Allah, mendirikan shalat, barzakat, berpuasa dan menunaikan ibadah Haji bagi yang mampu. Kelima hal ini disebut sebahai rukun Islam yang lima, salah satunya adalah merupakan kegiatan yang sudah dikenal sejak zaman sebelum Islam, yaitu Puasa. · Nabi Daud berpuasa selama 7 (tujuh) hari sewaktu putranya sakit, sementara orang Yahudi mengenal puasa besar waktu Hari Penebusan Dosa dan sebagai peringatan terlepasnya mereka dari siksaan fir’aun di mesir dengan hari yang mereka namakan Yom Kippur yang jatuh pada tanggal 10 Tishri (kira-kira akhir september awal oktober). Nabi Musa, ketika akan menerima 10 perintah Tuhan (The Ten Commendements) yaitu melakukan puasa selama 40 hari 40 malam, kemudian masyarakat jawa mengenal puasa yang mereka namakan Puasa mutih, puasa wisol. · Maryam, Ibunda Nabi Isa As pada zamannya pernah berpuasa, namanya Puasa Bicara. Maryam adalah perawan suci yang mengabdikan dirinya hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Maka ketika ia mengandung tanpa tersentuh laki-laki, ia merasa malu sekali. Ia pun pergi menjauh dari penduduk, menuju tempat yang sepi tidak berpenghuni. Ketika tiba saatnya melahirkan, Maryam duduk bersandar disebatang pohon Kurma dan melahirkan Nabi Isa disitu. Ingin mati saja maryam, membayangkan caci maki, ejekan dan aib yang bakal menimpanya. Namun, disaat ia tengah dilanda kebingungan mencari – cari alasan yang harus ia siapkan untuk menghadapi masyarakanya, terdengarlah suara yang memberinya jalan keluar. ”Kalau kamu melihat seorang manusia, katakan saja bahwa kamu telah bernazar demi Tuhan yang maha Pemurah untuk puasa bicara. Jadi, kamu tidak perlu bicara apapun kepada siapapun.” kata suara itu. Maka begitulah setiap kali bertemu orang, Maryam hanya memberi isyarat dengan tangannya yaitu menunjuk kearah Nabi Isa yang masih bayi. Dan dengan izin Allah, Nabi Isa AS yang masih bayi bisa berbicara dengan lantang, memberi penjelasan mengenai siapa dirinya. Dengan berpuasa bicara, Maryam telah dapat keluar dari kesulitan, karena izin Allah SWT. Saudaraku, sekarang kajian kita setentang Puasa Dalam Islam, tetapi sebelumnya terlebih dahulu kita akan membahas pengertian Puasa menurut bahasa dan menurut istilah. Menurut Bahasa (Arab) puasa adalah Shaum atau Shiyam artinya sikap pasif atau usaha menahan diri. Sedangkan menurut istilah, puasa adalah menahan diri dari makan dan minum serta segala yang membatalkan ibadah tersebut, sejak terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. · Firman Allah SWT didalam kitab suci Al-Qur’an : ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqaroh : 183) Puasa yang diwajibkan oleh Allah SWT dalam ayat ini adalah puasa Ramadhan, orang-orang beriman yang dipanggil untuk berpuasa Ramadhan adalah bagi mereka yang telah memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1. Beragama Islam 2. Baligh 3. Berakal Sehat (tidak gila atau mabuk) 4. Suci dari hadid dan nifas bagi wanita 5. Berdomisili (berada di kota, desa, kampung) sebab tidak wajib bagi musafir, sesuai FirmanNya : ”Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah SWT menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqaroh : 185) 6. Sanggup berpuasa. Bila tidak sanggup karena sakit atau sudah tua, tidak wajib atasnya puasa. Tetapi harus menggantinya dihari lain (mengqodho) atau membayar Fidyah yaitu memberi makan fakir miskin selama tidak berpuasa. Orang-orang yang digolongkan kedalam golongan orang yang tidak sanggup (tidak mampu) berpuasa ialah : a. Wanita hamil dan wanita yang sedang menyusui anak b. Orang yang sudah sangat tua atau lemah c. Para pekerja berat. · Seperti yang diisyaratkan Allah SWT didalam FirmanNya : ”Dan wajiblah bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar Fidyah. (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah : 184) Tetapi bagi seseorang yang telah memenuhi persyaratan (syarat-syarat) tersebut diatas maka wajib bagi mereka melaksanakan puasa. · Rukun puasa ada 2 (dua) yaitu : 1. Berniat dan dilakukan niat itu pada malam hari sebelum puasa, tanpa niat puasa seseorang tidak syah, sesuai sabda Rasulullah SAW dari Hafsah ra : ”Siapa yang tidak berniat puasa pada malam hari sebelum terbit fajar, tidak syah puasanya.” (HR. Abu Daud, Turmudzi dan nasa’i) Tetapi kalau untuk puasa Sunnat, dibolehkan niatnya siang hari dengan syarat waktunya sebelum matahari condong kebarat (zawal) dan ketika itu sama sekali belum makan dan minum apa-apa. · Perhatikan Hadist dari Aisyah ra ia berkata : ”Pada suatu hari Rasulullah SAW datang kerumah saya, beliau bertanya : ”Apakah ada makanan?” saya menjawab : ”Tidak ada.” Beliau (Nabi SAW) berkata: ”Kalau begitu saya puasa hari ini.” Kemudian pada hari lain beliau datang lagi, lalu kami berkata : ”Ya Rasulullah, ada kue (haisun) dihadiahkan kepada kita.” Beliau (Nabi SAW) berkata : ”Coba perlihatkan kepadaku sebenarnya saya sejak pagi puasa.” Lalu beliau memakan kue itu.” (HR. Jama’ah kecuali Bukhari) 2. Menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa, sejak terbit hingga tebenamnya matahari. · Sidang pembaca, ada hal-hal yang membatalkan puasa seperti berikut : 1. Makan atau minum yang dilakukan dengan sengaja. Sebab makan atau minum yang dilakukan tanpa sengaja tidaklah membatalkan puasa, sesuai Hadist Nabi SAW dari Abu Hurairah ra berikut ini : ”Siapa yang makan dan atau minum karena lupa, tidaklah dia berbuka (tidak batal puasanya) karena hal itu semata-mata suatu rezeki yang diberikan Allah kepadanya.” (HR. Turmudzi dan Baihaqi) 2. Bersetubuh atau berhubungan kelamin 3. Keluar air mani dengan sengaja (marstubasi) (tetapi air mani yang keluar karena mimpi tidak membatalkan puasa). 4. Muntah dengan sengaja. Berdasarkan Hadist dari Abu Hurairah ra, bersabda Rasulullah SAW : ”Siapa yang terpaksa muntah sedang dia berpuasa, tidaklah dia wajib mengqodhonya. Tetapi siapa yang sengaja muntah, wajib dia mengqodhonya. (HR Lima Ahli Hadist) 5. Hilang akal (gila, mabuk) 6. Keluar haid atau nifas (khusus bagi wanita) 7. Membatalkan niat untuk berpuasa. Apabila seseorang membatalkan niatnya untuk berpuasa, puasanya menjadi batal meskipun ia tidak makan ataupun minum, karena niat merupakan salah satu rukun puasa. · Secara garis besar puasa didalam Islam terbagi menjadi dua, yaitu puasa wajib (puasa fardhu) dan puasa sunnat (puasa tathawwu) Dalam artikel ini, sengaja penulis akan membahas setentang puasa fardhu saja sedangkan kajian setentang puasa sunnat akan penulis sajikan tersendiri dengan judul lain dan tulisan lain dikesempatan lain. Insya Allah! · Yang termasuk puasa fardhu adalah : 1. Puasa Ramadhan 2. Puasa Qodho (membayar puasa wajib ketika berbuka dibulan Ramadhan disebabkan udzur, sakit dan lain-lain.) 3. Puasa Kafarat (membayar denda) untuk menutupi sesuatu keteledoran yang dilakukan pada puasa wajib (Ramadhan) 4. Puasa Nazar pengertian puasa Nazar adalah Janji tentang kebaikan yang asalnya menurut syara’ tidak wajib dan kemudian sesudah di nazarkan (dan nazarnya telah dikabulkan Allah SWT) hukumnya menjadi wajib. · Perhatikan Hadist dari Aisyah ra, Rasulullah SAW bersabda : ”Siapa bernazar akan mentaati Allah hendaklah ia mentaatinya dan siapa bernazar akan mendurhakai Allah maka janganlah mendurhakainya.” (HR Abu Daud) Hadist tersebut diatas menerangkan apabila seseorang bernazar terhadap hal-hal yang baik maka ia wajib melaksanakan dan memenuhinya. Adapun nazar terhadap hal-hal yang dilarang agama (kemaksiatan) maka tidak boleh nazar itu dipenuhi, seyogyanya ia beristighfar, memohon ampunan dari kesalahannya bernazar yang sia-sia. • • • (Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku Islam Agamaku oleh Tim Penyusun Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.) • • • * Tulisan (artikel) Religius ini dapat anda temukan pada website H. Sunaryo A.Y. dengan alamat : http://hajisunaryo.co.nr * • • •
Artikel : Religius Edisi : Istimewa
“TIGA HAL PENYEJUK HATI BAGI NABI SAW, KHULAFAUR RASYIDIN DAN MALAIKAT JIBRIL AS. ” Oleh : H. Sunaryo A. Y.
Saudaraku sesama muslim, untuk agama yang benar, yang kita cintai, yang mendapat ridho (diterima) disisi Allah SWT, yaitu agama Islam, kembali saya berdakwah (lewat tulisan) dan kali ini dakwah saya sesuai judul tersebut diatas dimaksudkan semata-mata untuk syiar dakwah Islam. Sebelum membahas materi, ingin saya menyampaikan sebuah maqalah setentang tanda-tanda seorang hamba yang dikehendaki Allah SWT menjadi baik. • Dikatakan sebagai berikut : ”Apabila Allah SWT menghendaki hamba-Nya menjadi orang baik, maka Dia (Allah SWT) menjadikan hamba itu mengerti agama, menjadikan dia zuhud terhadap dunia dan menjadikan dia menyadari aib-aib dirinya.” (Dikutip dari kitab Nashaihul Ibad, karya tulis Syekh Muhammad Nawawi Ibnu Umar Al-Jawi. Dalam edisi berbahasa Indonesia buku ini berjudul : Nasihat Buat Hamba Allah dengan penterjemah : Moh. Syamsi Hasan. Oleh penulisnya (Syekh Muhammad Nawawi Ibnu Umar AL-Jawi) buku Nasihat Buat Hamba Allah ini untuk mejelaskan sebuah kitab yang berisi berbagai nasihat adalah karya seorang ulama besar yang populer dengan gelar Ibnu Hajar Al-Asqalami bernama : Al-Alamah Al-Hafizh As-Syekh Syihabuddin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad As-Syafi’i) Subhanallah! Ketika Allah SWT mengehendaki seorang hamba menjadi manusia yang sempurna, maka Allah menjadikannya sebagai orang yang mengerti persoalan agama, mulai dari masalah – masalah yang pokok sampai ke cabang – cabangnya. Hatinya tetap tenang, sekalipun tangannya hampa tidak menghasilkan rezeki yang dibutuhkan dan mampu melihat aib-aib yang ada pada dirinya. Saudaraku, kita berharap semoga kita menjadi (Insya Allah) hamba-hamba yang dikehendaki Allah SWT menjadi baik, menjadi insan yang sempurna, yang dijadikan (dengan kehendak Allah) menjadi sebagai orang yang mengerti persoalan agama, Amin ! Ya Robbal Alamin. Beralih kita kepada materi utama kita, bahwa ada tiga hal yang menyejukkan hati, menyenangkan hati, junjungan kita, Nabi termulia, Rasul paling Agung, yaitu baginda Nabi Besar Muhammad SAW, kemudian para Sahabat terkemuka yang populer dengan sebutan Khulafaur Rasyidin, mereka adalah Sayyidina Abu Bakar Sidiq ra, Sayyidina Umar Ibnu Khatab ra, Sayyidina Utsman bin Affan ra dan Sayyidina Ali Bin Abu Thalib ra. Dan seorang malaikat yang sangat populer, si pembawa wahyu, dia adalah malaikat Jibril As. Apa tiga hal yang sangat menyenangkan (sebagai sarana ibadah) serta penyejuk hati insan – insan dan makhluk pilihan Allah ini ? • Dalam sebuah maqalah, dikatakan bahwa dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : ”Ada tiga hal dari dunia anda ini yang dititahkan menyenangkan kepadaku, yaitu bau harum, wanita, dan dibuat kesejukkan mataku justru dalam sholat.” (Dikutip dari buku Nasihat Buat Hamba Allah, penterjemah : Moh. Syamsi Hasan) Saudaraku, dalam kitab Majaalisi Ar-Raaiqah oleh : Syekh Khalil Ar-Rasyidi dikatakan bahwa hal tersebut yang terjadi pada Rasulullah SAW bukanlah semata-mata dunia, bahwa sesungguhnya setiap perkara yang dilakukan karena Allah SWT bukanlah dunia semata, seperti sarana yang menjadi sebuah keniscayaan dan tidak bisa tidak, misalnya makanan pokok sebagai sumber kekuatan, tempat tinggal dan pakaian yang diperlukan (yaitu sandang, pangan dan papan). Ketika Nabi SAW menyampaikan sabda tersebut, beliau berada dalam satu majlis bersama para Sahabat terkemuka (Khulafaur Rasyidin). • Lantas saja Sayyidina Abu Bakar Sidiq berkata : ”Benar, ya Rasulullah, didunia ini ada tiga hal yang menyenangkan hatiku, yaitu : Melihat wajah Rasulullah, membelanjakan hartaku untuk Rasulullah dan putriku menjadi istri Rasulullah SAW.” • Mendengar itu, Sahabat Umar Ibnu Khatab pun berkata : ”Anda benar, Wahai Abu Bakar! Di dunia ini ada tiga hal yang menyenangkan hatiku, yaitu Amar makruf (perintah pada yang ma’ruf), nahi mungkar (mencegah dari yang mungkar) dan pakaian yang usang.” Ket.: Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada pakaian Sayyidina Umar Ibnu Khatab terdapat empat belas tambalan. • Sementara Sahabat Utsman bin Affan ikut berkata : ”Anda benar, Wahai Umar! Di dunia ini ada tiga hal yang menyenangkan aku, ialah : Memberi makan orang yang kelaparan sampai kenyang, memberi pakaian orang yang tidak berpakaian dan membaca Al-Qur’an.” Ket.: Didalam sebuah riwayat di terangkan bahwa Sayyidina Utsman bin Affan ra telah menghatamkan Al-Qur’an dalam dua rakaat shalat sunnat dimalam hari. • Selanjutnya Sahabat Ali bin Abu Thalib ra juga berkata : ”Anda benar, wahai Utsman! Didunia ini ada tiga hal (perkara) yang menyenangkan hatiku, yaitu : Melayani tamu, puasa pada waktu cuaca panas dan menghunus pedang menghajar musuh-musuh Allah dimedan perang.” • Ketika mereka sedang berdialog mengenai hal tersebut, tiba-tiba datang Jibril As kepada Nabi SAW seraya malaikat Jibril As berkata : ”Allah SWT yang maha Suci lagi Maha Tinggi mengutus aku ketika Dia (Allah SWT) mendengar ucapan anda semua. Dia (Allah SWT) memerintahkan kepadamu, agar bertanya kepadaku tentang perkara (hal) yang aku senangi, seandainya aku menjadi penduduk bumi.” • Maka Nabi SAW bertanya kepada malaikat Jibril As : ”Wahai Jibril, apakah yang anda senangi seandainya anda menjadi penduduk dunia ? ” • Malaikat Jibril As menjawab : ”Menunjukkan orang-orang yang tersesat pada Jalan yang lurus, bersikap ramah dan menyenangkan terhadap orang-orang yang mengembara yang taat kepada Allah SWT dan khusu’ dalam beribadah kepada-Nya serta menolong kerabat yang sengsara, kesulitan ekonomi (fakir).” • Seterusnya malaikat Jibril As berkata : ”Tuhan, pemilik keagungan, mencintai tiga perkara dari hamba-hamba-Nya, yaitu : Mengerahkan seluruh kekuatan untuk berbakti kepada Allah SWT, menangis ketika sedih karena telah melakukan maksiat dan bersabar ketika tidak punya sesuatu buat memenuhi kebutuhan.” (Dikutip dari buku : Nasihat Buat Hamba Allah. Penterjemah : Moh. Syamsi Hasan.) Saudaraku sidang pembaca yang berbahagia. Sebelum saya akhiri dakwah saya (lewat tulisan) ini, ingin saya menyampaikan beberapa maqalah nasehat (man’izhah) berupa Akhbar dan Atsar sebagai berikut yaitu setentang kebaikan Sayyidina Umar Ibnu Khattab ra dan Sayyidina Abu Bakar Sidiq ra. • Diriwayatkan dari Umar ra, yang dinukil (dikutip) dari Syekh Abdul Mu’thi As-Samlawi, bahwa Nabi SAW bertanya kepada Malaikat Jibril As : ”Jelaskanlah kepadaku tentang kebaikan Umar.” Lalu Jibril menjawab : ”Seandainya lautan menjadi tinta dan pohon-pohon menjadi penanya, niscaya aku tidak akan mampu menghitungnya.” Lalu Nabi SAW bertanya lagi kepadanya : ”Jelaskan pula kepadaku tentang kebaikan Abu Bakar.” Jibril berkata : ”Umar adalah salah satu kebaikan dari kebaikan-kebaikan Abu Bakar.” • Sementara Sayyidina Utsman bin Affan ra berkata setentang : Antara kegelisahan duniawi dan ukhrawi, katanya : ”Bersedih dalam urusan duniawi, membuat hati menjawab gelap sedangkan gelisah dalam urusan akhirat merupakan cahaya hati.” • Lantas apa kata Sahabat Ali bin Abu Thalib ra setentang menuntut ilmu dan berbuat maksiat (durhaka) ? Ujarnya : ”Barangsiapa menuntut (mencari) ilmu, maka syorga mencari dirinya dan barangsiapa berusaha berbuat durhaka (maksiat), maka merekalah yang memburunya.” (Dua maqalah (Atsar) tersebut diatas dikutip dari buku : Nasihat Buat Hamba Allah Penterjemah : Moh. Syamsi Hasan.) Saudaraku sesama muslim, saya akhiri tulisan ini sampai disini. Semoga artikel religius ini bermanfaat sebagai tambahan ilmu bagi kita semua. Terima kasih atas segala perhatian wabilahi taufik wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. • • • (Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku Nasihat Buat Hamba Allah Penterjemah : Moh. Syamsi Hasan.) • • • * Tulisan (artikel) Religius ini dapat anda temukan pada website H. Sunaryo A.Y. dengan alamat : http://hajisunaryo.co.nr * • • •
Artikel : Religius Edisi : Istimewa “SEBUAH RUMAH DI SYORGA TERBUAT DARI MUTIARA UNTUK UMMUL MUKMININ SAYYIDAH KHADIJAH BINTI KHUWAILID RA.” Oleh : H. Sunaryo A.Y.
Saudaraku sesama muslim, sidang pembaca yang budiman. Kembali saya berdakwah (lewat tulisan) sesuai judul artikel religius ini tersebut diatas sungguh sebuah kehormatan luar biasa bagi istri pertama Rosulullah SAW, Sayyidah Khadijah Binti Khuwailid ra yang oleh Nabi SAW sendiri diberi gelar Ummul Mukminin itu, oleh Allah SWT (ketika sayyidah Khadijah ra) masih hidup didunia sudah dijanjikan (diinformasikan lewat Jibril) sebuah rumah di syorga terbuat dari mutiara (untuk Khodijah) yang tiada keributan didalamnya. Masya Allah! Allahu Akbar. Saudaraku, ada pepatah mengatakan bahwa dibalik laki-laki sukses pasti terdapat wanita yang hebat. Rosulullah SAW tercatat sebagai pemimpin yang handal dan sukses. Kiranya siapakah wanita dibalik sukses tugas kenabiannya? Jawabnya adalah : Ummul Mukminin Sayyidah Khadijah binti Khuwailid ra adalah wanita dibalik sukses dakwah Rosulullah SAW. Betapa tidak saudaraku, dari catatan sejarah kita tahu tatkala Nabi SAW mengalami rintangan dan gangguan dari kaum Quraisy, maka disampingnya berdiri dua orang wanita. Kedua wanita itu berdiri dibelakang dakwah Islamiyah, mendukung dan bekerja keras mengabdi kepada pemimpinnya, Sayyidina Muhammad SAW. Keduanya adalah Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah binti Asad. Peran penting Khadijah menjadikannya berhak menyandang predikat waniata terbaik. Betapa tidak, kalau Nabi saja memberinya gelar Ummul Mukminin ? Khadijah menyiapkan sebuah rumah yang nyaman bagi Nabi sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika merenung di Goa Hira. Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepada Nabi SAW. Khadijah menolong Nabi dengan jiwa, harta dan keluarga. Peri hidupnya harum, dan jiwanya sarat dengan kebaikan. Dialah teladan bagi kaum ibu, muslimah sedunia. Khadijah binti Khuwailid, Ummul Mukminin yang setia dan taat, yang bergaul secara baik dengan suami, dan membantunya diwaktu berkhalwat sebelum diangkat menjadi Nabi, dan meneguhkan serta membenarkannya. Khadijah mendahului semua orang dalam beriman kepada risalahnya, dan membantu beliau (Nabi SAW) serta kaum muslimin dengan jiwa dan harta. Maka Allah SWT membalas jasanya terhadap agama dan Nabi-Nya dengan sebaik-baik balasan dan memberinya kesenangan dan kenikmatan didalam istananya, sebagaimana yang diceritakan Nabi SAW, kepadanya pada masa hidupnya.: • Ketika Malaikat Jibril as datang kepada Nabi SAW, dia berkata : “Wahai Rosulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan dari aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di Syurga dari mutiara yang tiada keributan didalamnya dan tidak ada kepayahan.” (HR. Bukhari dalam “Fadhaail Ashhaabin Nabi SAW.” Dan Imam Adz-Dzahabi berkata : Kesahihannya telah disepakati.) • Sayyidah Khadijah ra adalah wanita pertama yang bergabung dengan rombongan orang mukmin dan orang pertama yang beriman kepada Allah di bumi sesudah Nabi SAW. Khadijah ra membawa panji bersama Rosulullah SAW sejak saat pertama, berjihad dan bekerja keras. Dia habiskan kekayaannya dan memusuhi kaumnya. Dia berdiri dibelakang suami dan Nabinya hingga nafas terakhir, dan patut menjadi teladan tertinggi bagi para wanita. Betapa tidak, karena Khadijah ra adalah pendukung Nabi SAW sejak awal kenabian. Kita perhatikan Hadist setentang datangnya kebenaran (permulaan wahyu) sewaktu Nabi SAW berada di Goa Hira seperti berikut : “Datang kepadanya Malaikat lantas berkata: “Bacalah!” Djawab Nabi : “Aku tidak bisa membaca” Kata Nabi selanjutnya: “Aku ditariknya dan dipeluknya sampai aku kepayahan. Kemudian aku dilepaskan nya dan katanya lagi: “Bacalah!” Jawabku: “Aku tidak bisa membaca.” Aku ditarik dan dipeluknya untuk kedua kalinya, sampai aku kepayahan. Kemudian aku dilepaskannya kembali dan katanya lagi: “Bacalah !” Jawabku: “Aku tidak bisa membaca.” Aku ditarik dan dipeluknya untuk ketiga kalinya, Kemudian dilepaskannya dan katanya : “Membacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Dia menjadikan manusia dari segumpal darah. Membacalah dengan nama Tuhanmu yang lebih mulia.” Maka Nabi pulanglah membawa ayat itu dengan hati yang berdebar-debar. “Maka datanglah Nabi kepada Khadijah binti Khuailid, lalu berkata: “Selimuti aku, selimuti aku! Lantas diselimuti oleh Khadijah sehingga hilang takutnya. Kata Nabi kepada Khadijah, setelah dikabarkan kejadian itu, begini : Sesungguhnya saja cemas atas diriku (akan binasa). Jawab Khadijah : Tidak mengapa! Demi Allah, Tuhan selamanya tidak akan menghinakan tuan. Tuan akan memperhubungkan tali persaudaraan, membantu orang melarat, mengusahakan barang yang perlu, memuliakan tamu menolong orang kesusahan yang tersebab menegakkan kebenaran.” “Maka berjalanlah Khadijah bersama-sama dengan Nabi Muhammad menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uza, yaitu anak paman Khadijah, yang telah memeluk agama Kristen dimasa jahiliah. Ia bisa menulis kitab bahasa Ibrani dan ditulisnya dari kitab Injil dalam bahasa Ibrani itu seberapa kehendak Allah dapat dituliskannya. Dan ia seorang yang sangat tua dan telah buta matanya. Kata Khadijah kepada Waraqah : “Hai anak pamanku! Dengarlah kabar dari anak saudara tuan ini (Muhammad).“ Kata Waraqah kepada Nabi : “Wahai anak Saudaraku! Apakah yang tuan lihat?” Lalu diceritakan oleh Rasulullah SAW semua hal yang telah dialaminya tadi. Dijawab Waraqah : “Inilah utusan yang telah pernah ditunkan (diutus) oleh Allah kepada Nabi Musa. Wahai, hendaknya dimasa itu saya masih hidup, dimasa kaum tuan. ini mengusir tuan.” Rasulullah berkata: “Apakah mereka akan mengusir aku?” Dijawab Waraqah: “Betul ! Belum pernah seseorang juapun diberi wahyu sebagai tuan, yang tidak dimusuhi orang. Apabila saya masih mendapati hari tuan itu niscaya saya akan menolong dengan sekuat-kuatnya.” Tidak berapa lama kemudian, Waraqah meninggal dunia, dan wahyupun putus – buat sementara.” Kata Ibnu Sihab : “Abu Salamah bin Abdi Rahman, mengabarkan kepadaku : Bahwa sesungguhnya Jabir bin Abdullah telah menceritakan tentang putus wahyu itu. Kata Nabi dalam Hadistnya : Seketika aku sedang berjalan-jalan, kedengaran olehku suara dari langit, dan aku melihat keatas, kelihatan malaikat yang datang kepadaku di Gua Hira’ dahulu, duduk diatas kursi antara langit dan bumi. Aku terperanjat dan terus pulang dan mengatakan: “Selimuti aku!” Lalu diturunkan ayat yang maksudnya: “Hai orang yang berselimut! Bangunlah dan berilah peringatan (kepada manusia)! Besarkanlah Tuhanmu! Bersihkanlah pakaianmu! Dan jauhilan berhala!.” Sesudah itu banyaklah wahyu yang turun dan berturut-turut datangnya.” (Hadist-hadits tersebut diatas diambil dan dikutip dari buku : Terjemah Hadist Shahih Buchari Penterjemah : H Zainuddin, Fahrudin HS, Nasarudin Thaha dan Djohar Arifin.) Saudaraku sesama muslim, sidang pembaca yang berbahagia. Dari Hadist-hadist setentang datangnya permulaan wahyu, adalah sangat arif serta bijakasananya jawaban (kata-kata) Khadijah sebagai seorang istri didalam menjawab pertanyaan suami yang sedang cemas dilanda ketakutan yang teramat sangat sehubungan dengan apa yang baru saja didengar dan dilihat oleh Nabi SAW ketika berada di Goa Hira itu. Karena apa yang dikatakan Khadijah benar-benar mampu melapangkan dada melenyapkan kesedihan, mendinginkan hati dan meringankan beban (urusan) suaminya. Apa kata istri Rosulullah SAW yang mendapat gelar Ummul Mukminin ini ? • Sayyidah Khadijah ra berkata : “Gembiralah dan teguhlah, wahai putra pamanku. Demi Allah yang menguasai nyawaku, sungguh aku berharap engkau menjadi Nabi umat ini.” (Hadist ini dikutip dari : Fikri Edisi 8 Tahun I, 19-25 Oktober 2001.) • Dan dalam Hadist yang terdapat pada Terjemah Hadist shahih Bukhari Penterjemah : H Zainuddin Hamidy, Fahrudin HS, Nasaruddin Thaha dan Djohar Arifin. Sayyidah Khadijah binti Khuwailid ra berkata : “Tidak mengapa! Demi Allah, Tuhan selamanya tidak akan menghinakan tuan. Tuan akan memperhubungkan tali persaudaraan, membantu orang miskin, mengusahakan barang yang perlu, memuliakan tetamu, menolong orang kesusahan yang tersebab menegakkan kebenaran.” (HR. Bukhari) • Kecemasan dan keperdulian Khadijah tidak sampai disitu saja terbukti ketika suaminya datang dalam keadaan takut akibat yang didengar dan dilihat sewaktu berada di Goa Hira. Sepenuh perhatian Khadijah berkata : “Dari mana engkau wahai Abal Qasim? Demi Allah aku telah mengirim beberapa orang utusan untuk mencarimu hingga mereka tiba di Mekkah, kemudian kembali kepadaku.” Ini adalah gambaran sebuah sikap keperdulian terpuji atas keselamatan seorang suami dari seorang istri ideal. Itulah Sayyidah Khadijah ra. • Saudaraku sesama muslim, Subhanallah! Sungguh sebuah Karunia Illahi yang tidak ternilai, Allah SWT pencipta langit dan bumi, Rabbul Alamin pemelihara alam semesta berkenan menyampaikan salam kepada Sayyidah Khadijah ra. Maka turunlah Jibril As menyampaikan salam itu kepada Rosul SAW seraya berkata kepadanya : “Sampaikan kepada Khadijah salam dari Tuhannya.” Kemudian Rosulullah SAW bersabda : “Wahai Khadijah, ini Jibril yang menyampaikan salam kepadamu dari Tuhanmu.” Maka Khadijah ra menjawab : “Allah yang menurunkan salam (kesejahteraan), dari-Nya berasal salam (kesejahteraan), dan kepada Jibril semoga diberikan salam (kesejahteraan).” (Hadist ini dikutip dari Fikri Edisi 8 Tahun I, 19-25 Oktober 2001). Sesungguhnya ia adalah kedudukan yang tidak diperoleh seorangpun diantara para Sahabat yang terdahulu dan pertama masuk Islam serta Khulafaur Rasyidin. Hal itu disebabkan sikap Khadijah ra pada saat pertama lebih agung dan lebih besar dari pada semua sikap yang mendukung dakwah itu sesudahnya. Sesungguhnya Khadijah ra merupakan nikmat Allah yang besar bagi Rosulullah SAW. Khadijah mendampingi Nabi SAW selama seperempat abad, berbuat baik kepadanya disaat beliau gelisah, menolongnya diwaktu-waktu yang sulit, membantunya dalam menyampaikan risalahnya, ikut serta merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad dan menolongnya dengan jiwa dan hartanya. • Imam Ahmad didalam sebuah Hadist meriwayatkan, dikatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkari. Dia (Khadijah) memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah SWT mengaruniai aku anak darinya (Khadijah) dan mengaharamkan dariku anak dari selain dia.” (HR. Ahmad dalam “Musnad” nya.) • Sementara dalam buku karya Iman Nawawi : TERJEMAH RIYADHUS SHALIHIN Jilid I perhatiakan Hadist Muttafaqun Alaih setentang istri pertama Nabi SAW yang sangat dihormati, Sayyidah Khadijah ra : “Dari Aisyah ra, ia berkata : “Saya tidak pernah merasa cemburu terhadap isti –istri Nabi SAW yang lain kecuali terhadap Khadijah ra, padahal saya tidak pernah berjumpa dengannya, tetapi karena Nabi sering menyebut-nyebutnya, dan beliau sering menyembelih kambing kemudian memotong beberapa bagian dan dikirimkan kepada kenalan-kenalan baik Khadijah, saya sering berkata kepadanya : “Seolah-olah didunia ini tidak ada wanita selain Khadijah.” Maka beliau menjawab : ”Sesungguhnya Khadijah itu begini dan begitu, dan hanya dengan dialah aku dikaruniai anak.” (HR Bukhari dan Muslim). • Dalam riwayat lain dikatkan : ”Apabila beliau menyembelih kambing, beliau memberi kenalan-kenalan baik Khadijah apa yang mereka inginkan.” • Dalam riwayat yang lain dikatakan : “Apabila beliau menyembelih kambing, beliau bersabda : “Kirimlah daging ini kepada kenalan-kenalan Khadijah.” • Dalam riwayat yang lain dikatakan : “Halah binti Khuwailid saudari Khadijah pernah meminta izin untuk masuk kerumah Rosulullah SAW, kemudian beliau teringat cara Khadijah meminta izin, maka terharulah beliau seraya bersabda : “Ya Allah, inilah Halah binti Khuwailid.” (Muttafaqun Alaih) • Didalam sebuah Hadist setentang kelebihan Ummul Mukminin sebagai seorang wanita dan seorang istri Rosul, bersabda Rosulullah SAW : “Dialah wanita yang dianugerahi sebuah rumah di syorga (terbuat) dari mutiara yang tiada suara ribut didalamnya dan tiada kepayahan.” (HR. Bukhari.) Saudaraku, saya sudahi dakwah saya ini (lewat tulisan), jumpa lagi kita Insya Allah dikesempatan lain. Terima kasih atas segala perhatian, mohon maaf apabila ada kekhilafan dan kesalahan. Kebenaran datangnya dari Allah SWT, kesalahan dan kehilafan dari saya dan untuk itu saya memohon ampunan-Nya. Sekali lagi terima kasih, waafwa minkum wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. • • • (Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari majalah FIKRI edisi 8 Tahun I, 19-25 Oktober 2001, buku Terjemah Riyadhus Shalihin jilid 1 karya : Imam Nawawi, judul Kitab aslinya berbahasa Arab, Riyadhus Shalihin, karya Al Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, terbitan Darul Fikr, Beirut, tt, dan buku : Terjemah Hadist Shahih Buchari. Penterjemah : H. Zainuddin Hamidi, Fachruddin HS, Djohar Arifin dan Nasaruddin Thaha.) • • • * Tulisan (artikel) Religius ini dapat anda temukan pada website H. Sunaryo A.Y. dengan alamat : http://hajisunaryo.co.nr *
Artikel : Religius Edisi : Istimewa
"JANGAN LEPAS JILBAB KARENA JILBAB LAMBANG KESUCIAN DIRI SEORANG WANITA"Oleh : H. Sunaryo A. Y. Saudaraku sesama muslim. Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, saya gerakan pena di tangan saya untuk menulis artikel religius, kali ini dakwah saya (lewat tulisan) setentang jilbab (hijab) sesuai judul artikel ini tersebut di atas, semoga tulisan ini bermanfaat, sekaligus mendapat tempat di hati saudari-saudariku (kaum muslimah), para wanita (anak-anakku, kemenakan-kemenakanku, cucu-cucuku) seiman, seaqidah. Semoga ! Kenapa ketika akan menulis, saya mengucap Bismillah ? Saya ingin pekerjaan saya (menulis) artikel ini mendapat barokah (bermanfaat), sesuai Hadist dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Semua pekerjaan yang berfaedah yang tidak dimulai dengan Bismillahirrahmanirrahim putus (hilang berkatnya)." (HR. Rahawi) Saudaraku, dalam kitab suci Al-Qur'an dan Hadist Nabi SAW terdapat perintah yang menerangkan tentang pentingnya seorang wanita muslimah mengenakan jilbab agar terhindar dari segala macam bentuk fitnah. • Misalnya dalam surat Al Ahzab : "Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu'min : hendaknya mereka menutupi badan mereka dengan jilbabnya atas (seluruh tubuh) mereka. Demikian itu (supaya) lebih dekat (mudah) dikenal, (bahwa mereka adalah wanita-wanita yang baik pekertinya), lalu mereka tidak akan diganggu (oleh orang-orang munafik). Dan Allah senantiasa Maha Pengampun lagi Maha Pengasih." (QS. Al-Ahzab : 59) Firman Allah SWT tersebut memerintahkan kepada Nabi SAW untuk mengajak istri-istri, anak-anak gadis dan wanita-wanita mukminin lainnya untuk memakai jilbab. Kalau kita renungkan arti dari ayat-ayat itu maka akan kita dapatkan bahwasanya perintah memakai jilbab tidak dibedakan antara keluarga Nabi SAW maupun keluarga orang-orang mukmin lainnya. Karena jilbab merupakan lambang kesucian diri seorang wanita. • Potongan ayat : (yang artinya) "Demikian itu (supaya) lebih dekat (mudah) dikenal (bahwa mereka adalah wanita-wanita yang baik budi pekertinya) lalu mereka tidak akan diganggu (oleh orang-orang munafik)" adalah jelas menjelaskan kepada kita bahwa para wanita yang memakai jilbab dapat terjaga kehormatan dirinya. Kemudian potongan ayat : (yang artinya) "Lalu mereka tidak akan diganggu." Ayat ini menerangkan bahwasanya orang-orang munafik, fasik, dan orang-orang fajir tidak akan mampu untuk mengganggu (menyakiti) mereka lantaran jiwa dan hati (gadis yang menggunakan jilbab) telah terlindungi. • Perhatikan surat An Nur, Allah SWT berfirman : "Dan katakanlah kepada kaum mu'min wanita, agar mereka menahan pandangan mereka dan mengekang nafsu birahi mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan (memamerkan kecantikan) mereka, kecuali sebagian yang kelihatan. Dan hendaknya mereka memakai kerudung sampai menutupi dada mereka. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka (memamerkan kecantikan mereka) kecuali untuk suami mereka atau anak mereka sendiri atau anak-anak dari anak-anak saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita yang lain atau budak-budak yang dimiliki oleh mereka atau orang-orang yang menyertai mereka yang tidak mempunyai lagi hajat keperluan pada wanita lagi atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Janganlah mereka berjalan sambil menggoyangkan kakinya supaya dapat diketahui orang sebagian perhiasan yang mereka sembunyikan. Bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, agar kamu mendapat kebahagiaan." (QS. An-Nur : 31) Saudaraku, dengan memperhatikan surat An-Nur, ayat 31 tersebut dapatlah kita mengetahui bahwa perintah yang terkandung di dalamnya itu ditujukan kepada wanita-wanita mukminat dan itu menunjukkan bahwa menggunakan hijab (jilbab) merupakan tanda orang beriman. Lalu Allah SWT mengaitkan antara perintah tersebut dengan perintah untuk menahan pandangan dan memelihara kemaluan, disusul dengan perintah untuk memakai jilbab. Hal itu menunjukkan bahwa jilbab dapat membantu dan mengantarkan seseorang untuk sampai pada keutamaan-keutamaan ini : • Seperti pada akhir ayat disebutkan (yang artinya) : "Agar kamu mendapat kebahagiaan." Ungkapan ini menekankan bahwa kebiasaan memakai jilbab merupakan jalan menuju kesuksesan (kebahagiaan dan keberuntungan). • Sementara dalam surat Al-Ahzab ayat 33, berfirman Allah SWT : "Dan (hendaklah) kamu tetap di rumah-rumahmu (melainkan jika ada keperluan, jika demikian bolehlah kamu keluar dari rumah). Dan janganlah kamu memperlihatkan dirimu (seperti) orang-orang jahiliyah yang dulu. Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan RasulNya. Sesungguhnya Allah hanya menghendaki untuk menghilangkan dosa-dosa dan kamu (hai ahlul-bait), dan Allah (hendak) membersihkan kamu dengan sebersih-bersihnya." (QS. Al-Ahzab : 33) Saudaraku, sidang pembaca yang budiman. Jangan lupa bahwa ambisi musuh-musuh Islam adalah mewujudkan (menjadikan) para wanita muslimah sebagai sarana perusak dan penghancur di tengah-tengah lingkungan orang-orang muslim itu sendiri. Langkah pertama mereka adalah mengajak dengan berbagai cara (methode) agar kaum wanita (muslimah) gemar melakukan tabarruj. Apa itu tabarruj ? Tabarruj adalah memperlihatkan perhiasan atau mempertontonkan wajah dan kecantikan yang dimilikinya serta menampakkan sesuatu yang dapat menimbulkan fitnah (seperti aurat tubuhnya) dihadapan laki-laki, yang bukan muhrimnya. Dan dalam surat Al-Ahzab ini Allah SWT menyinggung tentang larangan (bertabarruj) - adalah lawan dari perintah berjilbab (berhijab). Lewat tulisan religius ini penulis mengingatkan kepada saudari-saudari ku (kaum muslimah) untuk lebih (wajib) extra berhati-hati lagi di dalam mengantisipasi fitnah keji ini tentu saja begitu pun bagi kaum prianya. • Rasulullah SAW pun pernah mengingatkan kita untuk menghindari diri dari bencana semacam ini, dengan sabdanya : "Berhati-hatilah kalian terhadap dunia, berhati-hatilah kalian terhadap wanita. Karena sesungguhnya fitnah (bencana) pertama yang dialami oleh Bani Israil bersumber dari wanita." (HR. Muslim) Ket : Hadist ini terdapat dalam kitab Adz-Dzikir Wa Ad-Du'a Wa At-Taubat Wa al-Istigfar, diriwayatkan oleh Imam Muslim pada bab Aktsaru Ahli al-Jannah al-Fuqara' wa Aktsaru Ahli an-Nar an-Nisa (Mayoritas penghuni Syurga adalah kaum fakir dan mayoritas penghuni neraka adalah kaum wanita). • Di dalam Hadist yang lain, Rasulullah SAW bersabda : "Aku tidak meninggalkan cobaan apapun sesudahku yang lebih mendatangkan mudharat (bahaya) bagi kaum laki-laki selain wanita." (HR. Bukhari) Saudaraku, gencarnya serangan-serangan mereka (yang memusuhi Islam) yang datang dari luar dan masuk ke dalam dengan segala macam cara dan dengan berbagai macam cara pula mereka berusaha untuk menyebarluaskan perbuatan hina, mendorong kaum wanita agar melakukan perbuatan tercela minimal melepaskan jilbabnya. Membanjirnya toko-toko pakaian yang mengundang birahi dengan berbagai model dan corak. Sehingga terjadilah fitnah dimana-mana, mereka (kaum wanita kita) mulai memperlihatkan semua keindahan tubuhnya, melalui televisi, satelit dan parabola, baik itu berupa tayangan sinetron, video, vcd, Hp genggam yang sudah dapat merekam gambar secara otomatis atau majalah atau media lainnya berlomba-lomba, aurat tubuh wanita dipertontonkan. Naudzubillah ! Summa naudzubillah. • Saudaraku, kembali kepada surat Al-Ahzab ayat 33 (yang artinya) : "Dan (hendaklah) kamu tetap di rumah-rumah mu (melainkan jika ada keperluan, jika demikian bolehlah kamu keluar dari rumah). Dan janganlah kamu memperlihatkan dirimu (seperti) orang-orang jahiliyah yang dulu." Seperti dikatakan di atas, Allah SWT melarang bertabarruj lawan dari berjilbab. Karena perbuatan tabarruj dianggap sebagai perbuatan orang-orang jahiliyah dengan maksud untuk memberi dorongan kepada kaum muslimin untuk menjauhinya. Dalam sebuah kaidah fikih disebutkan : An Nahyu 'ani asy-Syay'i amrun bi ahiddihi (larangan terhadap sesuatu, berarti perintah mengerjakan sesuatu yang menjadi lawannya). Artinya bahwa ayat tersebut (surat Al-Ahzab : 33) merupakan ajakan untuk menggunakan (memakai) hijab (jilbab), kemudian ayat ini di akhiri dengan Firman Nya yang berbunyi, (artinya) : "Dan Allah (hendak) membersihkan kamu dengan sebersih-bersihnya." Ini artinya menunjukkan bahwasanya hijab atau berjilbab (begitu pula dengan perintah-perintah Allah SWT lainnya) merupakan jalan menuju kesucian serta sarana untuk menjaga kehormatan diri seseorang. Kalau menggunakan jilbab dapat melahirkan nilai-nilai positif maka sebaliknya perbuatan tabarruj dapat menyebabkan kerusakan moral (kerusakan akhlak) seorang wanita (gadis) yang melakukan tabarruj, ia dapat merusak dirinya sendiri, begitu pula merusak akhlak laki-laki yang ada di sekitarnya. Hal ini merupakan tanda-tanda dari sedikitnya rasa malu yang dimiliki oleh seorang wanita, berkurangnya semangat beragama dan matinya sensitifitas seseorang. • Saudaraku, siksaan (azab) bagi wanita-wanita pelaku perbuatan tabarruj, seperti yang diterangkan Nabi SAW berikut ini : • Bersabda Rasulullah SAW : "Ada dua jenis penghuni neraka yang belum pernah aku melihat sebelumnya. Kaum lelaki yang memegang sebuah cemeti yang berbentuk seperti ekor-ekor sapi lalu digunakan untuk memukul manusia lain, wanita-wanita yang berpakaian tetapi mereka terlihat seperti telanjang, mereka berlenggang lenggok, dan kepala-kepala mereka seperti punuk seekor unta. Mereka tidak dapat masuk ke dalam syurga dan tidak dapat mencium baunya (aroma syurga). Sesungguhnya bau syurga harumnya dapat dirasakan dari jarak ini dan ini (jarak yang sangan jauh)." (HR. Muslim) Ket : Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab : Al-Libas wa az-Zinah, pada bab 'An-Nisa al-Kasiyat al Ma'ilat al-Mumilat (wanita yang berpakaian seperti telanjang, berlenggang-lenggok, kepala mereka seperti punuk seekor unta). Sebuah Hadist yang sama, juga diriwayatkan oleh Imam Muslim tetapi dengan sedikit perbedaan redaksi setentang siksaan wanita-wanita yang melakukan perbuatan tabarruj. • Dari Abu Hurairah ra, bersabda Rasulullah SAW : "Dua golongan penduduk Neraka yang tidak sudi diperlihatkan kepadamu : Kaum zalim yang buas yang memegang senjata ditangannya yang selalu digerakkannya untuk membunuhi manusia. Kaum wanita yang berpakaian setengah telanjang yang memiringkan diri kiri kanan (untuk menggiurkan nafsu laki-laki) sedangkan rambut di kepalanya ditinggikan bagaikan pundak di punggung unta. Mereka tidak masuk syurga bahkan tidak dapat mencium harumnya bau syurga yang sangat jauh jaraknya daripada mereka." (HR. Muslim) • Dan Hadist berikut ini : "Nabi SAW bersabda : Wahai Asma, sesungguhnya seorang perempuan apabila sudah datang waktu haid tidak boleh memperlihatkan tubuhnya, melainkan ini dan itu sambil menunjuk muka dan dua telapak tangannya." (Dikutip dari buku : Dosa-Dosa Besar dan Ayat-Ayat Allah Yang Dilupakan Umat Islam. Oleh : Hasnul Ahmad. Penerbit : Yayasan Dakwah Islamiyah Amar Ma'ruf Nahi Munkar) Saudaraku, kaum muslimah yang berbahagia. Beralih dakwah saya (lewat tulisan) ini kepada setentang bagaimana kehidupan para sahabat wanita di zaman Rasulullah SAW bagaimana kesungguhan mereka memakai kerudung (berjilbab). • Dari Aisyah ra berkata : "Sesungguhnya wanita-wanita Quraisy memiliki beberapa kelebihan. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak pernah melihat wanita lain yang lebih baik daripada wanita kaum Anshar dalam hal keimanannya terhadap kitabullah dan apa-apa yang diturunkan-Nya. Ketika turun surat An-Nur, pada potongan ayat (yang artinya) : Dan hendaknya mereka memakai kerudung sampai menutupi dada mereka. Maka saat itu pula para suami membacakan ayat tersebut kepada istri-istrinya, sebagaimana mereka juga membacakan kepada anak-anak perempuan, saudara-saudara perempuan dan kerabat-kerabatnya setelah dibacakan, maka tidak ada satu wanita pun kecuali mereka memakai kerudung (jilbab), lalu mereka melipatkannya di atas kepala mereka. Hal itu dilakukan karena kepercayaan dan keimanan mereka terhadap apa yang telah diturunkan Allah dalam kitab-Nya. Kemudian tatkala mereka berada di belakang Nabi SAW, mereka terlihat sudah mengenakan jilbab. Seolah-olah di atas kepala mereka ada seekor burung ghirban." (Hadist ini disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir, kemudian disandarkan kepada : Ibnu Abu Hatim) Ket : Hadist ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, dalam kitab Al-Libas pada bab Firman Allah yang berbunyi : Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung di dada mereka. • Dan Hadist yang bersumber dari Urwah dan Aisyah ra, ia berkata : "Semoga Allah SWT mengasihi wanita-wanita Muhajirin generasi pertama ketika Allah menurunkan ayat yang berbunyi, (artinya) : Dan hendaknya mereka memakai kerudung sampai menutupi dada mereka. (An-Nur : 31), mereka dengan segera menutup kepalanya dengan kain yang dililitkan." (HR. Bukhari) Ikhtilath ialah melakukan pergaulan (berkumpul) wanita-wanita di tengah-tengah kelompok laki-laki (tanpa risih) tanpa ada batasan atau ikatan apapun, telah hilang batasan-batasan syariat yang mengatur agar dua makhluk berlainan jenis tidak berada dalam suatu tempat secara terbuka. Sikap tabarruj dan ikhtilath ini sengaja senantiasa didorong dan diupayakan oleh musuh-musuh Islam (orang-orang yang tidak senang) terhadap Islam dan oleh orang-orang yang mendukungnya. Saudaraku sesama muslim, wabil khusus kaum muslimah. Sekali lagi penulis mengingatkan , jangan sekali-kali kita lengah, artinya kita selalu siap dengan Istiqomah mengantisipasi sewaktu-waktu datangnya fitnah keji mereka. Untuk lebih menegaskan penjelasan di atas, perhatikan komentar seorang Ulama besar yang tertulis di dalam kitab Ath-Thuruq al-Hukah ditohqiq. Oleh : DR. Mohammad Jamil Ghazi, setentang dampak buruk yang ditimbulkan akibat perbuatan ikhtilath. • Berkata Imam Ibnu Qoyyim : "Tidak diragukan lagi, bahwa ikhtilath seorang wanita ditengah-tengah kaum laki-laki adalah sumber dari segala perbuatan buruk dan tercela. Hal ini merupakan salah satu penyebab terbesar turunnya 'azab Allah kepada suatu bangsa. Sebagaimana juga hal tersebut akan berdampak buruk bagi orang lain. Sedangkan ikhtilath yang dilakukan kaum wanita hanya akan menimbulkan perzinahan dan perbuatan keji lainnya." • Perhatikan juga bagaimana perilaku (kehidupan) terpuji, karena perasaan (hati) yang sudah terlandasi dengan manisnya iman para Sahabat Wanita berikut ini : • Diberitakan oleh Hamzah bin Abu Al-Anshari dari ayahnya. Disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW keluar dari pintu Masjid. Di luar pintu Masjid itu beliau mendapatkan beberapa laki-laki sedang bercengkerama dengan beberapa wanita. Melihat hal tersebut beliau berkata kepada kaum wanita itu : "Perlambatlah jalan kalian ! Sesungguhnya kalian tidak berhak berjalan di tengah-tengah kaum laki-laki. Langkah terbaik yang kalian tempuh adalah dengan menyamping ke sisi jalan." Kemudian para wanita itu merapat ke tembok hingga baju yang mereka kenakan tersangkut, karena rapatnya tubuh mereka dengan tembok." (HR. Abu Daud) • Dan Hadist di dalam kitab Shahih Al-Bukhari, bahwa Ummul Mukminin Aisyah ra pernah melakukan thawaf dengan dikelilingi oleh beberapa orang laki-laki. Lalu Nabi SAW bersabda : "Janganlah engkau bercampur dengan mereka." (HR. Bukhari) Maksud dari Hadist ini adalah, bahwa yang seharusnya dilakukan oleh kaum wanita adalah memisahkan diri dari tempat dimana kaum laki-laki berkumpul. • Kemudian Hadist berikut ini : Diberitakan dari Ummul Mukminin Aisyah ra, ia berkata : "Ketika Rasulullah SAW selesai mengerjakan shalat Subuh, para wanita kembali ke rumah masing-masing seraya menutupi tubuh mereka dengan kain penutup agar tidak tampak cahaya subuh." (HR. Bukhari) Sekarang sudah jelas bahwa ikhtilath itu dilarang ditempat-tempat ibadah ataupun ditempat-tempat lain. Untuk menjaga kesucian diri kita yang mungkin saja dapat terpengaruh oleh lingkungan, didalam kitab Al- Mar’ah Muta’al Al – Jabri disebutkan bahwa seorang ulama yang bijak pernah berkata : “ Kesucian diri merupakan hijab yang dapat menjaga seseorang dari perbuatan ikhtilath “. Sementara Syekh Ibrahim Izzat, berkata : “ Seorang wanita apabila terbiasa keluar dari rumahnya menuju lingkungan yang bercampur baur (antara laiki-laki dan perempuan ), maka sesungguhnya perasaan suci dalam dirinya telah hancur.” Saudariku, kaum muslimah yang berbahagia. Saya berharap dari beberapa Hadist tersebut diatas kita mendapat pelajaran . Itu artinya kalian harus cepet-cepat hijrah ( dari melakukan pergaulan (berkumpul) dengan laki-laki tanpa batasan ), bercampur, berbaur ditengah-tengah kelompok laki-laki tanpa risih, padahal mereka bukan muhrim hijrah kepada perilaku, kehidupan terpuji wanita-wanita solehah terdahulu, para sahabat wanita-wanita di zaman Rosulullah yang keimanannya terhadap Kitabullah tidak diragukan. Sampai disini saya sudahi dulu tulisan (artikel) religius ini, saya berharap setelah membaca artikel ini, tidak ada lagi saudariku (kaum muslimah) yang tidak mempergunakan (memakai) hijab (jilbab) yaitu kerudung yang menutupi kepala sampai ke dada yaitu seolah-olah di atas kepala mereka ada seekor burung ghirban. Terima kasih atas segala perhatian, wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. *** (Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku : Wahai Wanita Merekalah Teladanmu. Oleh : Frof. DR. Thal'at Mohammad Afifi) *** *Tulisan (artikel) religius ini dapat anda temukan pada website H. Sunaryo A. Y. dengan alamat : http://hajisunaryo.co.nr *
Artikel : Religius Edisi : Istimewa “DO’A-DO’A PARA RASUL YANG TERDAPAT DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADIST. ” Oleh : H. Sunaryo A. Y. ”Saudaraku sesama muslim, seiman seaqidah, Jumpa lagi kita kali ini dakwah saya (lewat tulisan) setentang do’a para Nabi dan Rasul. Saudaraku, do’a-do’a orang-orang terdahulu saja (Seperti do’a para Sahabat, tabi’in, tabiit, para Wali, Anbiya diijabah (dikabul) oleh Allah SWT, apatah lagi do’a para Nabi dan Rasul? Sebenarnya pada hakikatnya do’a para Nabi dan Rasul itu mereka contohkan untuk kita (umat) sebagai amaliyah, wabil khusus do’a-do’a manusia pilihan, kekasih Allah SWT, Nabi termulia, Rasul paling Agung, yaitu Baginda Nabi Besar Muhammad SAW agar kita (umat beliau) berdo’a seperti yang dicontohkan oleh beliau sesuai dengan kepentingan, problema (keinginan) kita masing-masing. Sesuai dengan kemajuan zaman, teknologi yang semakin canggih, dimana komputer, Internet masuk Desa, Hp genggam dapat merekam gambar secara otomatis dan sederet nama (barang-barang elektronic) lainnya yang serba canggih dan serba otomatis ada dimana-mana dan sudah bukan merupakan barang mewah yang langka. Ironisnya, setiap orang jadi dihadapkan kepada kehidupan yang serba bervariasi sehingga kegagalan serba kegagalan kesulitan serba kesulitan dan pahitnya kehidupan pun jadi sering dialami. Lantas yang pada gilirannya dapat menimbulkan kegundahan hati defresi, stress pun tidak bisa lagi dihindari. Padahal kita menginginkan hidup sukses, berbahagia, menginginkan ketentraman jiwa, ketentraman hati, kesejukkan dan kesemuanya itu hanya bisa di dapat (dirasakan) kalau ada perasaan nyaman di dada ini. Dan jalan satu-satunya untuk dapat meraih semua itu , bagi insan beriman adalah dengan berdo’a kepada Sang Maha Pemberi (kesuksesan, kebahagiaan, ketentraman jiwa, hati, kesejukkan, kenyamanan dan lain-lain lagi.) yaitu Allah SWT : Didalam kitab suci Al-Qur’an, misalnya surat Al-Mukmin : • Perhatikan Firman – Nya : ”Dan Tuhanmu berfirman : Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina.” (QS. Al-Mukmin : 60) • Sementara didalam Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda : (yang artinya) ”Do’a itu adalah otaknya ibadah.” • Dan Hadist riwayat Imam Hakim dan Abu Ya’la, bersabda Rasulullah SAW : (yang artinya) ”Do’a itu adalah senjata orang yang beriman dan tiangnya agama serta cahaya langit dan bumi.” Berdo’a atau memohon kepada Allah SWT adalah merupakan amal ibadah bagi seorang muslim yang mempercayai adanya kekuatan batin disamping kekuatan lahir yang selama ini dialaminya. Kita memang diperintahkan oleh Tuhan (Allah SWT) untuk selalu memohon (berdo’a) kepada-Nya, sebagaimana kita diperintahkan juga untuk selalu mendayagunakan nikmat (Anugerah) yang telah kita terima selama ini, baik itu berupa akal (fikiran), tubuh yang sehat, kekayaan (harta benda) dan lain sebagainya. Memang sudah seharusnya do’a dan ikhtiar itu berjalan seiring dan berimbang dan tidak boleh terjadinya ketimpangan antara keduanya. Kita tidak boleh hanya berdo’a saja (melulu berdo’a) tanpa mau berusaha dan berikhtiar. Sebaliknya kita juga tidak boleh hanya berikhtiar saja (berusaha saja) tanpa mau berdo’a. Dan jangan sekali – kali kita mempunyai fikiran bahwa berdo’a itu tidak perlu, alergi berdo’a, do’a itu nonsens, berdo’a itu omong kosong. Nau’udzubillah ! Summa nau’udzu billah. Demikian sunnah Allah telah menetapkan bahwa ada kekuatan lahir dan juga ada kekuatan bathin, juga ada yang namanya ikhtiar lahir dan juga ikhtiar bathin. Sebagai misal, diturunkan untuk hamba-Nya ini bahan ramuan obat-obatan, agar dipergunakan untuk berobat, disamping jangan lupa berdo’a (memohon) kepada Allah supaya segera sembuh dari penyakitnya Do’a bukan saja sebagai sarana bagi keberhasilan usaha dan ikhtiar seseorang, tetapi adalah lebih dari itu. Karena didalam do’a seolah –olah seorang hamba sedang bermunajat (berbicara) dengan Tuhannya, mengaku bahwa diri kita ini lemah, dhoif, tidak ada kekuatan, tidak ada daya, butuh bantuan, butuh pertolongan-Nya. Dengan do’a kita (seseorang mukmin) akan timbul keberanian kita, akan kembali percaya kepada diri kita sendiri, karena kita yakin, bahwa kita tidak berdiri sendiri. Melainkan Tuhan beserta kita, Allah SWT mendengar apa yang kita mohonkan dan menyertai (bersama) kita dan Dia, Rabbul Alamin pasti Insya Allah mengabulkan apa yang kita mohon kan, Do’a bagi diri kita adalah merupakan perisai, merupakan kekuatan yang tersembunyi, sebagai senjata ampuh, terkuat dan tak tertandingi. Do’a itu menyinari hati, membersihkan diri dari kekotoran jiwa, penuntun insan beriman kearah jalan yang lurus kearah jalan yang benar dan do’a adalah merupakan benteng dari perasaan was-wasnya syetan. Artikel : Religius Edisi : Istimewa “DO’A-DO’A PARA RASUL YANG TERDAPAT DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADIST. ” Oleh : H. Sunaryo A. Y. ( Sambungan dari hal. 2 ) Saudaraku sesama muslim, berdo’a adalah sebuah perintah, bahkan dikatakan bahwa hanya orang-orang yang sombong sajalah yang tidak mau berdo’a. Berangkat dari penjelasan ini, seyogyanya kita simak Firman –firman Allah SWT berikut ini : • Allah SWT berfirman : ”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah : 186) • Firman Allah SWT : ”Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu. (QS. Al-Mukmin : 60) • Firman Allah SWT : ”Bedo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (QS. Al-A’raaf : 55) • Firman Allah SWT : ”Maka serulah (sembahlah) Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya” (QS. Al-Mukmin : 65) Saudaraku sesama muslim, Jelas sudah, bahwa berdo’a itu perintah dari yang Maha Kuasa, Al-Muqtadir, Adh-Dhaahir, yang sangat Berkuasa dan yang Nyata Kekuasaan-Nya yaitu Allah SWT. Sekarang perkenankan penulis menyampaikan beberapa kumpulan Do’a-do’a para Rasul yang termaktub didalam kitab suci AL-Qur’an dan Al-Hadist seperti berikut ini : • Do’a – do’a Nabi Ibrahim As : “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami) sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 128-129) Ket.: Menurut riwayat Al-Baghawy, bahwa Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As membaca do’a ini dikala membina Ka’bah. • ”Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami perkenankanlah do’aku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (QS. Ibrahim : 40 - 41) Att.: Menurut keterangan ahli tafsir, Nabi Ibrahim As mengucapkan do’a ini sesudah beliau (telah) memperoleh anak Ismail dan Ishaq. • ”(Ibrahim berdo’a): Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukanlah aku kedalam golongan orang-orang yang shaleh. Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai Syorga yang penuh kenikmatan.” (QS. Asy-Syu’ara : 83-85). Att.: Dan menurut keterangan ahli tafsir do’a inilah yang selalu diucapkan oleh Nabi Ibrahim As. • ”Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku (seorang anak) dari anak-anak yang shaleh.” Att.: Menurut keterangan ahli tafsir, Nabi Ibrahim memohon dengan do’a ini sebelum memperoleh anaknya Ismail. Artikel : Religius Edisi : Istimewa “DO’A-DO’A PARA RASUL YANG TERDAPAT DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADIST. ” Oleh : H. Sunaryo A. Y. ( Sambungan dari hal. 4 ) • ”Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Tuhan kami janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Mumtahanah :4-5) Att.: Menurut keterangan ahli tafsir Nabi Ibrahim As dan pengikut – pengikutnya selalu berdo’a dengan do’a ini. • Do’a - Do’a Nabi Nuh : ”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakekatnya). Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Hud : 47) Att.: Menurut Al-Qur’an sendiri, do’a inilah yang diucapkan oleh Nabi Nuh As sesudah ditolak Allah, karena memohon dilepaskan anaknya (Kan’an) yang kafir dan yang tenggelam. • ”Ya Tuhanku tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.” Att.: Menurut ahli tafsir, do’a inilah yang diucapkan Nabi Nuh As sesudah diselamatkan Allah dari bahaya taufan. • ”Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk kerumahku dengan beriman dan semua orang beriman yang laki-laki dan yang perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang dzalim itu selain binasaan.” (QS. Nuh :28) Att.: Menurut keterangan ahli tafsir, Nabi Nuh As dikala hendak meminta dibinasakan kaumnya lantaran ingkar, beliau memohon dengan do’a ini untuk diselamatkan beserta pengikut-pengikutnya. • Do’a Nabi Zakaria As : ”Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a.” (QS. AL-Imron :28) Att.: Menurut keterangan ahli tafsir, Nabi Zakaria As setelah masuk kedalam mihrabnya dan menguncikan segala pintu, memohon kepada Allah SWT supaya diberikan kepadanya seorang anak yang diterangkan dalam Al-Qur’an dengan do’a ini. • ”Ya Tuhanku, Janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkau lah waris yang paling baik.” (QS. Al-Anbiya : 89) Att.: Menurut keterangan ahli tafsir, do’a inilah yang diucapkan Nabi Zakaria As ketika beliau belum memperoleh anak. • Do’a-do’a Nabi Musa As : ”Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku.” Att.: menurut keterangan ahli tafsir, Nabi Musa As dikala merasa takut menghadapi Fir’aun memohon kepada Allah dengan do’a ini. Artikel : Religius Edisi : Istimewa “DO’A-DO’A PARA RASUL YANG TERDAPAT DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADIST. ” Oleh : H. Sunaryo A. Y. ( Sambungan dari hal. 6 ) • ”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.” (QS. Qashas : 16) Att.: Menurut keterangan ahli tafsir, do’a ini yang diucapkan oleh Nabi Musa As setelah membunuh orang Kurby. • ”Wahai Tuhan kami, lepaskanlah aku dari kaum yang dzalim.” Att.: Do’a inilah yang diucapkan Nabi Musa As ketika meninggalkan Mesir dan menuju ke Mad-yan. • ”Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. AL-Qashash :24) Att.: Do’a inilah yang diucapkan Nabi Musa As ketika sampai di Mad-yan dan menderita kelaparan. • ”Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukanlah kami kedalam Rahmat Engkau dan Engkau adalah Maha Penyayang diantara Para Penyayang.” (QS. Al-A’raaf : 151) • ”Engkaulah yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami Rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya. Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan didunia ini dan akherat. Sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau.” (QS. AL-A’raaf :155-156) • Do’a Nabi Isa As : ”Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu kehidupan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, beri rezeki kami dan Engkaulah Pemberi rezeki yang paling utama.” (QS. AL-Maaidah :114) Att.: Menurut keterangan ahli tafsir, Nabi Isa As sesudah bersembahyang dua rakaat, kemudian menundukkan kepalanya sambil berdo’a dengan do’a ini serta sambil menangis. • Do’a Nabi Syu’aib As : ”Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan yang hak (adil) dan Engkaulan Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.” (QS. Al-A’raf : 89) Att.: Menurut ahli tafsir, Nabi Syu’aib setelah putus asa mengajak beriman kaumnya beliau berdo’a dengan do’a ini. • Do’a Nabi Adam As : ”Ya Tuhan kami, kami telah dzalimkan diri kami sendiri, Jika Engkau tidak mengampuni kami dan Engkau rahmatkan kami, tentulah kami menjadi orang yang rugi.” Att.: Menurut keterangan AL-Qur’an sendiri do’a inilah yang diucapkan Nabi Adam dan Hawa sesudah beliau dikeluarkan dari Syorga dan diusir oleh Tuhan kedunia, dengan memohon ampun terhadap dosanya dengan do’a ini. • Do’a Nabi Ayyub As : ”Ya Tuhanku, bahwasanya aku telah ditimpa bencana, dan Engkaulah Tuhan yang paling rahim dari segala yang rahim.” Att.: Menurut keterangan ahli tafsir, Nabi Ayyub As dikala mendapat cobaan dari Allah lalu berdo’a dengan do’a ini. • Do’a Nabi Sulaiman As : ”Ya Tuhanku, berikanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhoi dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu kedalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh.” (QS. An-Naml : 19) Att.: Menurut keterangan ahli tafsir, do’a inilah yang diucapkan Nabi Sulaiman As, sesudah memperoleh kerajaan yang besar dari Allah SWT. Artikel : Religius Edisi : Istimewa “DO’A-DO’A PARA RASUL YANG TERDAPAT DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADIST. ” Oleh : H. Sunaryo A. Y. ( Sambungan dari hal. 8 ) • Do’a – Do’a Nabi Luth As : (Luth berdo’a) : “Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan.” (QS. Asy-Syu’araa :169) Att.: Menurut keterangan ahli tafsir, do’a inilah yang diucapkan Luth untuk memohon supaya beliau dan keluarganya dipelihara Allah dari tindakan kaumnya yang buruk itu. • “Tuhanku, tolonglah aku terhadap kaum yang berbuat kerusakan.” Att.: Menurut keterangan ahli tafsir, Nabi Luth berdo’a dengan do’a ini sesudah kaumnya meminta supaya mereka beri bencana oleh Allah sekiranya kalau Luth benar-benar seorang Nabi. • Do’a Nabi Yusuf As : ”Ya Tuhan kami, Pencipta Langit dan Bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shaleh.” (QS. Yusuf :101) Att.: Menurut keterangan ahli tafsir, Nabi Yusuf memohon kepada Allah dengan do’a ini dikala beliau dijadikan wazir Negara Mesir. • Do’a Nabi Yusuf As : ”Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau Maha Suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Anbiya :87) Att.: Menurut keterangan ahli tafsir, inilah tasbih yang diucapkan Nabi Yusuf As dikala beliau ditelan ikan. • Do’a – Do’a Nabi Muhammad SAW : ”Wahai Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan dunia dan kebaikan di akhirat dan periharalah kami dari adzab neraka.” Att.: Menurut riwayat Al-Baghawy dari Anas ra, do’a inilah yang selalu diucapkan Nabi Muhammad SAW (lihat tafsir Al-Baghawy I :158) • ”Ya Tuhan kami, Janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, Janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. (QS. Al-Baqarah : 286) Att.: Menurut riwayat Al-Baihaqy, Nabi Muhammad SAW bersabda : ”Dua ayat dari akhir AL-Baqarah, apabila seseorang membacanya dimalam hari, maka terpeliharalah ia dari segala bencana.” • ”Ya Allah, Janganlah Engkau palingkan hati kami setelah menerima petunjuk Engkau, dan berilah kami akan Rahmat dari Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang banyak pemberiannya.” (QS. Al-Imran : 8) Att.: Menurut riwayat AL-Baghawy, Nabi SAW bersabda : ”Segala jiwa manusia terletak antara dua tangan Tuhan, Tuhan memerengkan dan Tuhan melempangkannya. Karena itu Nabi SAW berdo’a selalu mengucapkan : Allahumma ya muqallibal qulubi tsabit qulubana ’ala diinika. • ”Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan) pada hari yang tak ada keraguan padanya.” Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. (QS. Al-Imran : 9) Artikel : Religius Edisi : Istimewa “DO’A-DO’A PARA RASUL YANG TERDAPAT DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADIST. ” Oleh : H. Sunaryo A. Y. ( Sambungan dari hal. 10 ) • ”Katakanlah : Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau Cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Ditangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam kesiang dan Engkau masukkan siang kedalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisap. (QS. Ali Imran : 26-27) Att.: Menurut riwayat Al-Baghawy bahwa Rasulullah SAW bersabda : Fatihatul Kitab dan dua ayat dari Al – Imron yaitu dari ayat 26-27 bila dibaca dibelakang shalat, niscaya Tuhan menjanjikan Syorga untuknya. • ”Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara yang baik dan keluarkanlah aku dengan cara yang baik dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (QS. Al-Israa : 80) Att.: Menurut keterangan ahli tafsir, Nabi SAW berdo’a dengan do’a ini memohon kepada Allah supaya beliau dapat mengalahkan musuh-musuhnya sesudah berkediaman di Madinah. • ”Tuhanku! Tambahkanlah ilmu untukku.” Att.: Menurut keterangan ahli tafsir, do’a inilah yang diucapkan Nabi untuk memperoleh faham yang luas dalam memahamkan ayat-ayat Allah. • ”Ya Tuhanku, berilah keputusan dengan adil. Dan Tuhan kami ialah Tuhan Yang Maha Pemurah lagi yang dimohonkan pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu katakan.” (QS. Al-Anbiyaa : 112) Att.: Menurut keterangan ahli tafsir, do’a inilah yang diucapkan Nabi Muhammad SAW sebelum beliau memperoleh kemenangan perang Badar. (Lihat : Al-Khazim 4 : 264) • . ”Ya Tuhanku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada diantara orang-orang yang dzalim.” (QS. Al_Mukminun : 94) Att.: Menurut keterangan ahli tafsir do’a inilah yang diucapkan Nabi Muhammad SAW supaya dipelihara Allah dari bencana yang mungkin menimpa kaum yang dzalim. • . ”Ya Tuhanku aku berlindung kepada-Mu dari bisikan – bisikan syaithan. Dan Aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku dari kedatangan mereka kepadaku.” (QS. Al-Mukminun : 97-98) Att.: Menurut keterangan ahli tafsir inilah salah satu do’a yang dipeintahkan supaya Nabi SAW membacanya : Karena do’a ini sering sekali meminta perlindungan dengan membaca do’a ini, yang tersebut dalam Iftitah shalat. (Lihat Al-Khazim, 5 : 36) Saudaraku, sesungguhnya masih terlalu banyak do’a-do’a Nabi Muhammad SAW yang terdapat didalam Kitab Suci AL-Qur’an dan Al-Hadist namun, saya (penulis) membatasi sampai disini saja contoh – contoh do’a dari Junjungan kita, Nabi termulia, Rasul paling Agung ini, tetapi sidang pembaca, dikesempatan tulisan saya yang lain, saya berjanji, Insya Allah saya akan menulis khusus do’a-do’a Rasulullah SAW yang lebih banyak lagi. Insya Allah ! Terima kasih atas segala perhatian, wabilahi taufik wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. • • • (Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku Kumpulan Shalawat Nabi. Lengkap dengan khasiatnya. Oleh : M. Ali Chasan Umar, buku Khasiat Dan Fadhilah Asmaul Husna disusun oleh : Abdul Muhaimin As’ad, buku Risalah Do’a Pilihan. Oleh : Ust Labib MZ dan buku : Ulasan Tuntas Tentang Tiga Prinsip Pokok Siapa Rabbmu? Apa Agamamu? Siapa Nabimu? Oleh : Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.) • • • * Tulisan (artikel) Religius ini dapat anda temukan pada website H. Sunaryo A.Y. dengan alamat : http://hajisunaryo.co.nr * • • • ___________________________________________________________ Want ideas for reducing your carbon footprint? Visit Yahoo! For Good http://uk.promotions.yahoo.com/forgood/environment.html
Artikel : Religius Edisi : Istimewa“DELAPAN MACAM NERAKA (AN-NAR)” Oleh : H. Sunaryo A.Y.
Bismillahirrohmanirrohim Alhamdulillahirobbil alamin Allahumma Shali Wassalim Sayyidina Muhammad.Saudaraku sesama muslim, Ada pantun, yaitu kalau ada sumur di ladang, bolehlah kita menumpang mandi. Kalau masih diberi umur panjang, Insya Allah berjumpa lagi. Saudaraku, alhamdulillah dengan kerahmatan Allah kita masih diberi (dikaruniai) umur panjang sehingga kita (saya sebagai penulis) dan antum sebagai pembaca dapat berjumpa lagi lewat tulisan (artikel) religius bacaan untuk syiar dakwah islam ini. Tulisan saya kali ini seperti judulnya tersebut diatas akan membicarakan tentang nama-nama Neraka (An-Nar). Baiklah saudaraku, seperti kita semua sudah tahu (memaklumi) bahwa di akhirat nanti itu ada dua macam tempat yang jauh berbeda keadaan dan sifatnya. Yang sebuah berupa tempat yang penuh kesenangan dan menggembirakan hati, sedang yang sebuah lagi merupakan tempat yang penuh siksa dan menyedihkan. Tempat kesenangan itu dinamakan Syurga (Al-Jannah) yakni yang merupakan tempat pembalasan bagi semua manusia yang baik – baik amal perbuatannya, sangat berbakti serta taatnya kepada Allah SWT. Adapun tempat yang penuh siksa, kesusahan dan kesengsaraan itu di namakan Neraka (An-Nar) yang berwujud api yang menyala-nyala dahsyat sekali dan inilah yang akan merupakan tempat pembalasan bagi semua manusia yang buruk amal perbuatannya, durhaka dan tidak mau mentaati serta tidak berbakti kepada Allah SWT, enggan mengikuti perintah-Nya, malahan menerjang apa-apa yang dilarang oleh-Nya. Kedua macam pembalasan itu kiranya sudah patut dan sudah semestinya, karena yang segolongan berlelah-lelah dan membanting tulang untuk mencari keridhoan dan pengampunan Allah SWT yaitu golongan kaum muslimin (mukminin). Sedang yang segolongan lainnya tidak henti-hentinya memupuk dan menambah-nambah dosa serta keburukan amal, yaitu golongan selain kaum mukminin. Jadi apabila segolongan dibalas dengan keselamatan, kebahagiaan dan kesenangan sedang yang segolongan lainnya dibalas dengan kesengsaraan hidup di akhirat, kesusahan dan penderitan, maka kedua hal diatas itu memang sudah layak sekali. Ringkasnya bahwa kedua golongan tersebut tidak perlu disamakan tempat kembali atau pembalasannya. Saudaraku, Neraka (An-Nar) adalah tempat penyiksaan dan ini mempunyai nama yang bermacam-macam, sebagaimana yang tertulis ini dan tertera didalam kitab suci Al-Qur’an : 1. Jahanam“Apakah orang-orang itu tidak mengerti bahwa sesungguhnya siapa saja orang yang membantah (yakni berani durhaka) kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan memperoleh siksa Neraka Jahanam, kekal didalamnya dan yang sedemikian ini adalah suatu kehinaan yang besar sekali.” ( QS. At-Taubah : 63 )2. Al - Jahim“orang – orang ahli Syurga itu tidak akan merasakan kematian lagi, selain kematian yang pertama (ketika didunia itu) dan mereka itu terjaga dari siksa Neraka Jahim.” ( QS. Ad – Dukhan : 56 )3. Al - Hawiyah“Adapun orang yang ringan timbangan amalnya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Adakah engkau mengetahui, apakah Hawiyah itu? Hawiyah adalah api yang amat panas sekali.” ( QS. Al – Qori’ah : 8 – 11 ) 4. Wail“Jurang Neraka Wail adalah diperuntukkan orang-orang yang mengurangi takaran (timbangan) yaitu orang yang apabila menerima takaran (timbangan) dari orang lain selalu meminta penuh, sedang apabila menakar (menimbang) untuk orang lain lalu menguranginya.” ( QS. Al – Muthaffifiin: 1-3 )5. As –Sa’ir“Dan niscayalah Kami telah memperhias langit didunia ini dengan bintang-bintang bagaikan pelita dan semuanya itu Kami gunakan untuk melempar Syaithan – syaithan. Kami telah menyediakan untuk Syaithan-syaithan ini siksa Neraka Sa’ir.“ ( QS. Al – Mulk : 5 )
6. Ladha“Jangan demikian, Sesungguhnya Neraka itu disebut Neraka Ladha (yang artinya ialah api yang dahsyat sekali nyalanya), yang dapat melenyapkan kulit kepala, itulah yang menyeret orang-orang yang membelakangi kebenaran dan memalingkan mereka (yakni orang-orang kafir), juga orang yang gemar mengumpulkan serta menyimpan harta (dan tidak menetapi kewajiban zakatnya). ( QS. Al-Ma´aarij: 15-18 )7. Saqar“Orang yang durhaka itu akan Kami masukan kedalam Neraka Saqar. Adakah engkau mengetahui, apakah Saqar itu? Saqar adalah Neraka yang tidak meninggalkan bekas apapun dan tidak ada yang tidak disukai olehnya (terhadap apapun uang diberikan padanya) Neraka Saqar ada beberapa malaikat yang menjaganya, Jumlahnya sembilan belas. “ ( QS. Al – Muddatsir : 26 – 30 )8. Al -Huthamah“Jangan demikian, niscayalah orang yang durhaka itu pasti akan delemparkan ke dalam Neraka Huthamah, Adakah engkau mengetahui apakah Huthamah itu? Huthamah itu ialah api Neraka kepunyaan Allah yang dinyalakan, menyambar naik sampai ke ulu hati. Sesungguhnya orang-orang kafir dlam Neraka huthamah itu ditutup rapt-rapt serta di ikatlah mereka itu pada tiang-tiang yang dimalangkan letaknya.” ( QS. Al – Humazah:4-9 ) * * *
( Bahan – bahan materi diambil dan dikutip dari kitab Hadza Yaumuddin atau Inilah Hari Pembalasan ( Kiamat) Oleh : Moh. Abday Rathomy. )
* * *
Tulisan (artikel) religius ini dapat anda temukan pada website pribadi H. Sunaryo A.Y. dengan alamat : http://hajisunaryo.co.nr
Artikel : Religius Edisi : Istimewa“Apa itu Akhlak Mahmudah Dan Apa itu Akhlak Madzmumah?” Oleh : H. Sunaryo A. Y.
Saudaraku sesama muslim. Alhamdulillah, jumpa lagi kita kali ini dakwah saya (lewat tulisan) seperti judul tersebut diatas semoga dapat menjadi penawar yang menyejukkan dan menjadi sebagai tambahan ilmu bagi sidang pembaca. Dengan demikian nilai-nilai Islam menjadi dapat tersebar luaskan. Insya Allah! Saudaraku, sebagaimana kita ketahui bahwa Allah SWT mengutus para Rasul antara lain untuk menjadi suri teladan yang baik (uswatun hasanah), yaitu untuk mengajarkan budi pekerti (akhlak) yang luhur. Rasulullah SAW pernah bersabda : “Aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan budi pekerti yang luhur.” (HR. Ahmad). Akhlak yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW ini disebut akhlak mahmudah (akhlak yang terpuji) yang tentu saja harus kita teladani, kita harus memiliki akhlak yang mahmudah ini dan menjadikannya sebagai penghias hidup kita. Saudaraku, sidang pembaca yang budiman, sengaja saya tidak akan membahas secara khusus setentang akhlak mahmudah, tetapi yang akan kita bersama pelajari ini adalah justru lawan dari akhlak mahmudah itu, yakni yang disebut akhlak madzmumah. Tahukah antum (pembaca) apa itu akhlak madzmumah? Akhlak madzmumah adalah akhlak yang dikendalikan oleh Syetan dan kita sama sekali tidak boleh memiliki akhlak yang demikian, karena akhlak madzmumah adalah akhlak yang tercela dan sangat-sangat harus kita jauhi. Kenapa? Karena ia bisa membuat hati kita membusuk dan sulit disembuhkan. Tubuh kita mungkin saja akan tetap terlihat sehat ketika kita berakhlak madzmumah ini, tetapi hati dan jiwa kita menderita dan tersiksa. Sebab ia bukanlah penyakit fhisik, melainkan penyakit hati! Lalu, seperti apa sih penyakit hati itu ? Seberapa besar bahaya yang dibawanya? Dan bagaimana cara menanggulanginya? Wabah penyakit hati lebih berbahaya dari penyakit apapun. Saudaraku (sidang pembaca), jangan sampai terjangkit oleh wabah penyakit hati yang sangat ganas ini, Na’udzubillah. Summa na’udzubillah! Untuk itu mari sedikit kita simak apa yang menjadi materi kita ini. • Bersabda Rasulullah SAW : “Ketahuilah, didalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, seluruhnya baik dan apabila daging itu buruk, buruklah seluruhnya Ketahuilah olehmu bahwa segumpal daging itu adalah kalbu (hati).” (HR. Bukhari)Pernah dengar kisah putra Nabi Adam as yang bernama Qabil dan Habil ? Qabil adalah sosok manusia pertama didunia yang terkena penyakit hati (madzmumah). Ketika ia hendak dikawinkan dengan saudara kembar Habil yang tidak cantik, sementara saudara kembarnya sendiri (Qabil) yang cantik yang bernama Iqlima akan dikawinkan dengan Habil, ia merasa iri. Kemudian Qabil protes kepada ayahnya sehingga akhirnya Nabi Adam as menyuruh kedua anaknya itu untuk berkurban dengan catatan siapa yang kurbannya diterima oleh Allah SWT maka dialah yang berhak mengawini Iqlima. Kemudian ketika ternyata kurban Habil yang diterima, Qabil merasa dengki sehingga ia membunuh adiknya sendiri. Penyakit hati yang diderita oleh Qabil telah menobatkan dirinya menjadi manusia pertama didunia yang melakukan kejahatan yaitu membunuh. Kita tentu tidak ingin menjadi pengikut Qabil bukan? Untuk itu mari kita mulai mempersiapkan diri menghadapi penyakit hati, wabil khusus didalam kita yang saat ini sedang menjalankan ibadah puasa dibulan suci Ramadhan 1427 H ini : • Penyakit hati antara lain disebabkan karena ada perasaan iri : 1. Pengertian Iri :Iri adalah sikap kurang senang melihat orang lain mendapat kebaikan atau keberuntungan. Sikap ini kemudian menimbulkan prilaku yang tidak baik terhadap orang lain, misalnya sikap tidak senang, sikap tidak ramah terhadap orang yang kepadanya kita iri atau menyebarkan isu-isu yang tidak baik. Jika perasaan ini dibiarkan tumbuh didalam hati, maka akan muncul perselisihan, permusuhan, pertengkaran, bahkan sampai pembunuhan, seperti yang terjadi pada kisah Qobil dan Habil. 2. Sebab-sebab Timbulnya sifat Iri :Kalau kita cermati dari kisah Qabil dan Habil, kita dapat melihat bahwa sifat iri ini muncul karena : a. Adanya rasa sombong didalam diri seseorang b. Kurang percaya diri c. Kurang mensyukurui nikmat Allah d. Tidak merasa cukup terhadap sesuatu yang telah dimilikinya. e. Tidak percaya kepada qadha dan qadar. 3. Akibat (berbahayanya) sifat Iri :Sifat iri tidak pernah membawa kepada kebaikan, bahkan pasti membawa akibat buruk. Akibat dari sifat iri tersebut antara lain : a. Merasa kesal dan sedih tanpa ada manfaatnya bahkan bisa dibarengi dosa. b. Merusak pahala ibadah c. Membawa pada perbuatan maksiat, sebab orang yang iri tidak bisa lepas dari perbuatan menyinggung, berdusta, memaki, dan mengumpat. d. Masuk Neraka e. Mencelakakan orang lain f. Menyebabkan buta hati g. Mengikuti ajakan syetan h. Meresahkan orang lain i. Menimbulkan perselisihan dan perpecahan j. Meruntuhkan sendi-sendi persatuan masyarakat k. Menimbulkan ketidaktentraman dalam diri, keluarga, masyarakat, atau orang lain. 4. Cara menghindari sifat Iri :Diantara cara-cara menghindari sifat iri sebagai berikut : a. Menumbuhkan kesadaran didalam diri bahwa kenikmatan itu pemberian Allah SWT, sehingga wajar apabila suatu saat Allah memberi nikmat kepada seseorang dan tidak memberikannya kepada orang lain. b. Membiasakan diri bersyukur kepada Allah SWT dan merasa cukup terhadap segala sesuatu yang telah diterimanya. c. Menjalin persaudaraan dengan orang lain, sehingga terhindar dari perasaan benci dan tidak senang apabila orang lain mendapatkan keberuntungan (kesenangan). d. Membiasakan diri ikut merasa senang apabila orang lain mendapat keuntungan (kesenangan). • Penyakit hati disebabkan karena perasaan dengki.1. Definisi Dengki.Dengki artinya merasa tidak senang jika orang lain mendapatkan kenikmatan dan berusaha agar kenikmatan tersebut cepat berakhir dan berpindah kepada dirinya, serta merasa senang kalau orang lain mendapat musibah. Sifat dengki ini berkaitan dengan sifat iri. Hanya saja sifat dengki sudah dalam bentuk perbuatan yang berupa kemarahan, permusuhan, menjelek-jelekkan, menjatuhkan nama baik orang lain. Orang yang terkena sifat ini bersikap serakah, rakus, dan zalim. ia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya, bahkan tidak segan-segan berbuat aniaya (zalim) terhadap sesamanya yang mendapatkan kenikmatan agar cepat kenikmatan itu berpindah kepada dirinya. Setentang sikap buruk yang namanya dengki ini, simak Hadist tersebut ini : • Bersabda Nabi SAW : “Dengki itu memakan kebaikan, sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Daud) • Dan Nabi SAW juga bersabda :“Menimpa kepadamu suatu penyakit umat-umat sebelum kamu, yaitu benci-membenci dan dengki. Dialah pencukur agama, bukan sekedar pencukur rambut.” (HR. Turmudzi) Saudaraku, Hadist yang pertama menjelaskan bahwa dengki itu memakan kebaikan seperti api yang memakan kayu bakar. Disini jelas bahwa dengki itu suatu hal yang berlawanan dengan kebaikan, bahkan menjadi musuhnya. Sedangkan Hadist yang kedua menjelaskan bahwa jika suatu masyarakat telah terjangkiti penyakit dengki, maka agama akan hancur, tatanan dan hukum yang ada tidak akan berguna. Oleh karena itu, jika sifat ini tidak dihindari, tatanan kehidupan bermasyarakat akan kacau dan rusak, bahkan agama tidak lagi dijadikan pedoman hidup. 2. Penyakit DengkiDiatas sudah dijelaskan bahwa penyakit dengki berpangkal dari iri dan marah, sehingga penyebab dari iri juga merupakan penyebab dari penyakit iri, ditambah hal-hal sebagai berikut : a. Kalah bersaing dalam merebut simpati orang atau dalam usaha. b. Sifat kikir yang berlebihan c. Cinta dunia dan sejenisnya. d. Merasa sakit jika orang lain memiliki kelebihan e. Tidak beriman kepada qadha dan qadar. 3. Bahaya Penyakit DengkiSemua penyakit, apapun namanya, pasti mendatangkan bahaya bagi orang yang dihinggapinya. Demikian juga penyakit hati yang dibawa oleh penyakit dengki ini antara lain sebagai berikut : a. Mendorong untuk berbuat maksiat seperti menggunjing, berbohong, marah, senang jika orang lain mendapat musibah.• Rasulullah SAW bersabda :“Manusia akan senantiasa mampu berbuat kebajikan selama tidak saling hasud satu sama lain.” (HR. Thabrani) b. Mencelakakan orang lain c. Merugikan diri sendiri dan orang lain d. Kebutaan hati dalam menerima kebenaran, karena sibuk memikirkan bagaimana cara mencelakakan orang lain. e. Tidak akan diakui sebagai umat Rasulullah SAW dan tidak akan mendapat syafaatnya pada hari Kiamat nanti. • Bersabda Rasulullah SAW “Bukanlah dari golonganku orang yang memiliki kedengkian.” (HR. Thabrani). f. Masuk Neraka tanpa dihisab terlebih dahulu. • Nabi SAW Bersabda : “Ada 6 (enam) kelompok orang yang akan masuk Neraka sebelum dihisab amalnya, disebabkan oleh enam perkara. Yaitu : 1. Penguasa karena ke zalimannya 2. Orang Arab (atau ras lainnya) yang fanatik dengan kesukuannya 3. Para tokoh, karena kesombongannya 4. Para pedagang karena kecurangannya 5. Orang-orang awam karena kebodohannya 6. Para ulama karena hasudnya.” (HR. Dailami)4. Bagaimana Cara Menghindari Penyakit Dengki ?Adapun cara yang bisa ditempuh untuk menghindari penyakit dengki, antara lain : a. Menjauhi semua penyebabnya. b. Mewaspadai bahayanya. c. Membiasakan diri untuk memberikan dukungan positif terhadap apa yang dialami saudara kita. d. Mempererat tali persaudaraan sehingga terjalin kerukunan dan persaudaraan. e. Selalu berdzikir, sehingga hati merasa dekat dengan Allah SWT. f. Ilmu dan amal. • Hasud.1. Pengertian HasudHasud adalah sikap suka menghasud dan mengadu domba terhadap sesama. Menghasud adalah tindakan yang jahat dan menyesatkan, karena mencemarkan nama baik dan merendahkan derajat seseorang dan juga karena mempublikasikan hal-hal jelek yang sebenarnya harus ditutupi. Saudaraku (sidang pembaca) tahukah antum, bahwa iri, dengki dan hasud itu adalah suatu penyakit. Pada mulanya iri yaitu perasaan tidak suka terhadap kenikmatan yang dimiliki orang lain. Kemudian, jika dibiarkan tumbuh, iri hati akan berubah menjadi kedengkian. Penyakit kedengkian jika dibiarkan terus akan berubah menjadi penyakit yang lebih buruk lagi, yaitu hasud. 2. Akibat Penyakit HasudPenyakit hasud adalah penyakit hati sama berbahanya dengan penyakit iri dan dendam. Sehingga dalam bahasa Arab iri, dengki dan hasud mempunyai arti kata yang sama yaitu hasad. Perbuatan iri dapat menghancurkan persatuan dan persaudaraan. Orang yang bertetangga dan bersaudara dapat bertengkar dan berselisih bahkan sampai pecah, bila termakan hasutan. Sehingga putuslah persaudaraan mereka. • Nabi SAW pernah bersabda : “Jauhilah sifat hasad, karena sesungguhnya hasad itu dapat memakan (menghabiskan) kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Daud) • Dan Bersabda Rasulullah SAW : “Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Tahukah kalian orang yang muflis (pailit/bangkrut) itu? Para Sahabat menjawab :”Orang yang tidak mempunyai harta sama sekali.” Lalu Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling pailit dari umatku ialah orang yang datang pada hari Kiamat kelak dengan membawa shalat, puasa dan zakat, tetapi ia telah mencaci maki orang lain, menuduh orang ini, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Maka orang-orang yang telah dianiaya ini diberi kebaikannya. Apabila amal kebaikannya habis sebelum dilunasi semua dosa-dosanya, maka diambillah kesalahan-kesalahan orang-orang (yang pernah dianiaya) dan ditumpahkan semuanya kepada dia, kemudian dia dilempar kedalam Neraka.” (HR. Muslim) Dengan demikian, kalau kita rinci akibat penyakit hasud ini kurang lebih sebagai berikut : a. Merugikan diri sendiri dan orang lain. b. Menimbulkan perpecahan dan perselisihan. c. Meruntuhkan sendi-sendi persatuan dan kerukunan dalam masyarakat. d. Mencelakakan orang lain. e. Menghilangkan amal perbuatan baik. f. Masuk Neraka 3. Penyebab Penyakit Hasud.Penyebab penyakit hasud tidak jauh berbeda dengan penyakit iri dan dendam, ditambah hal-hal sebagai berikut : a. Permusuhan dan Kemarahan. b. Sikap tidak rela orang lain lebih baik darinya. c. Sombong d. Tamak dan rakus dunia. e. Lemahnya iman. f. Mudah diprovokasi orang lain. 4. Bagaimana Cara Menghilangkan Penyakit Hasud?Untuk menghilangkan penyakit ini, cara yang bisa dilakukan antara lain sebagai berikut : a. Menumbuhkan kesadaran bahwa permusuhan dan kemarahan akan membawa petaka dan kesengsaraan baik lahir maupun bathin. b. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. c. Jadilah orang yang mempunyai pendirian tidak mudah di provokasi. d. Mengamalkan ajaran agama.
Saudaraku sesama muslim, saya sudahi dulu tulisan saya ini, sekali lagi saya berharap semoga dakwah (lewat tulisan) ini dapat menjadi penawar yang menyejukkan dan menjadi sebagai tambahan ilmu bagi sidang pembaca, tentu saja kesemuanya ini tidak terlepas dari sebuah keinginan yaitu nilai-nilai islam menjadi kian dapat tersebar luaskan. Terima kasih atas segala perhatian. Wabilahi taufik wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. *** (Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku “Islam Agamaku” Oleh : Tim Penyusun Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.) *** Tulisan (artikel) Religius ini dapat anda temukan pada website H. Sunaryo A.Y. dengan alamat : http://hajisunaryo.co.nr***
 | Guestbook | |
 |
abusandy wrote on Dec 8, '11, edited on Dec 8, '11 السلام عليكم ورحمة اللة وبركا تة Wa Haji gimana kabar Uwa beserta Keluarga di Jakarta ? Sukron katsir atas tulisannya yang membuat hati lebih cerah dan lebih giat dan Khusuk beribadah, lanjutkan terus bersyi'ar walau lewat tulisan. Insya Alloh mendapat pahala yang berlipat dari Alloh swt. Amin..... Salam untuk Keluarga besar di Jakarta. واسلام عليكم ورحمة اللة وبركا تة ( H.A Solihin Jeddah KSA ) |
 | Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Hidup adalah perjalanan antara adzan (saat lahir) dan sholat (sholat jenazah ketika wafat), oleh sebab itu pergunakan hidup ini untuk khusyu' semata-mata menuju Allah Swt.
Met Milad ya dan Met Tahun Baru 1430 H/2009 M Moga sisa umur tambah berkah
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Udo Yamin Majdi Founder milis wordsmartcenter@yahoogroups.com |
 | Assalamu'alaikum wr. wb... salam perkenalan Pak :) smoga Allah SWT Memberkati para pencintaNya dan Melapangkan jalan syiar bagiNya, aamien.. |
 | Assalaamu'alaikum WR WB,
Bang Haji,semoga Allah Ta'ala karuniakan anda wawasn keagamaan yang luas,ilmu yang bermanfaat buat anda maupun orang lain dan Alloh panjangkan umur Bang Haji dalam Tho'at......
Aaaamiiiinnnnn Allohumma AAAAmiiiiinnn |
 | salamalaikum bang aji,syabas atas usaha bang,saya doakan Allah merahmati bang aji dan famili. |
 |
adit9 wrote on May 11, '08 Ass.Wr.Wb. ana lihat alamatnya .co.nr diakhir tidak multiply, bagaimana caranya? mohon infonya. Syukran |
 |
adit9 wrote on May 11, '08 Ass.Wr.Wb. numpang baca artikelnya |
 | Assalamualaikum, salam kenal pak haji |
 | Masya Allah, kalau memang sebanyak itu, apa tidak lebih baik di blog anda sendiri ?? |
 | DI EDARKAN OLEH :
HIMPASS
DEWAN PIMPINAN PUSAT
HIMPINUN PEMUDA SINAR SYHID
DEPARTEMEN DAKWAH
MEDAN
EKO HARIYANTO 081396906649
KHUTBAH SHALAT ‘IDUL FITHRI TAHUN 1428 H/13 OKTOBER 2007 M
Oleh AL JABIR
Allaahu Akbar ….9 x, Allaahu akbar kabira, walhamdulillaahi katsiira, wa subhaanallaahi bukratan wa ashiila, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, allaahu akbar wa lillaahil hamd Alhamdulillaahilladzii arsala rasuulahu bil hudaa wa diinil haq, liyuzhhirahuu ‘alad diini kullihii walau karihal musyrikuun. Ashhadu an laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalah wa ashhadu anna muhammadan ‘abduhuu wa rasuuluh. Allahumma shalli wa sallim wa baarik ’alaa saiyyidinaa Muhammad, wa ’alaa aalihii wa shahbihii ajma’iin.
Amma ba’du, fayaa ‘ibaadallaah, ittaqullaaha haqqa tuqaatih wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun. Yaa aiyyuhalladziina aamanuu, athii’ullaaha wa athii’ur rasuula wa ulil amri minkum; fa in tanaaza’tum fii syai-in farudduuhu ilallaahi war rasuuli inkuntum tu`minuuna billaahi wal yaumil aakhir; dzaalika khairun wa ahsanu ta`wiila. Qaalallaahu ta’aala fii kitaabihil kariim, A’uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim. Bismillaahir rahmaanir rahiim
ALI IMRAN
183. Orang-orang yang mereka mengatakan: "Sesungguhnya Allah Telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seseorang rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami korban yang dimakan api". Katakanlah: "Sesungguhnya Telah datang kepada kamu beberapa orang Rasul sebelumku membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, Maka Mengapa kamu membunuh mereka jika kamu adalah orang-orang yang benar".
Shadaqallaahul ’azhiim.
Allaahu Akbar … 3 x walillaahil hamd
Segala puji tertentu hanya bagi Allah, yang sentiasa mengutus utusanNya dengan petunjuk dan agama yang benar; supaya Dia menzahirkan agamaNya di atas agama yang di agama-agama kan selama ini. Walau tidak disukai oleh orang-orang musyrik,
Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang Esa yang tidak ada syarikat bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan pesuruhNya. Shalawat dan salam keharibaan nabi besar Muhammad SAW yang bertambah jua kasih Allah kepadanya sehingga kita kelimpahan syafa’at di dunia ini sebagai cerminan di akhirat.
Kemudian dari pada itu, wahai hamba-hamba Allah sekalian; taqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kamu mati sebelum kamu Islam. Hai orang-orang yang beriman taat patuhlah kamu kepada Allah dan taat patuhlah kamu kepada rasul dan pemimpin yang dari kamu, maka jika kamu berselisih tentang sesuatu kembalilah kamu kepada Allah dan Rasul jika kamu benar percaya kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus kesudahannya bagimu.
Berkata Allah melalui utusannya yakni pemimpin yang dari kamu; orang-orang yang mereka itu berkata "sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kami supaya kami jangan percaya kepada seorang rasul, sehingga ia mendatangkan kepada kami kurban yang dimakan api, katakanlah "sungguh telah datang kepada kamu rasul-rasul sebelum aku dengan keterangan yang nyata dan dengan apa yang kamu katakana, maka Mengapa kamu membunuh mereka jika kamu adalah orang-orang yang benar".
Allaahu Akbar … 3 x walillaahil hamd
Beginilah !.. kalimat orang-orang selama ini, yang setiap didatangkan seorang utusan maka serta merta mereka tidak mempercayainya, dengan segala dalil dan ilmu yang ada pada mereka padahal Allah tidak tergagah dengan Ilmu yang ada pada mereka, yang Allah berkehendak dengan sekehendaknya tidak tergagah dengan kehendak mereka.
Perkataan jangan percaya kepada seorang rasul ini, sudah melanda bukan hanya kepada orang bodoh akan tetapi kepada orang pintar, bukan hanya kepada yang miskin akan tetapi kepada orang kaya, bukan hanya kepada rakyat jelata akan tetapi kepada penguasa negri. Yang pada sebenarnya ini adalah propaganda alias fitnah "Al Masihud Dajjal ", yang aku mengartikan Al Masihud Dajjal adalah seorang penceramah yang bohong (Pendusta).
Fitnah Dajjal ini telah ditelan mentah-mentah oleh segenap golongan, yang memang Dajjal sangat mengetahui bahwa musuh bebuyutannya akan datang di akhir zaman ini, sehingga propagandanya sudah berurat berakar didalam hati manusia, maka ketika aku mengumandangkan kalam Tuhan saat ini, berdalihlah orang-orang yang mengikuti Dajjal, pewaris-pewaris dajjal, ulama pewaris dajjal, dengan mengatakan "bahwa Allah memerintahkan kepada Mereka agar tidak percaya kepada Rasul" alias Rasul tidak ada lagi.
Allaahu Akbar … 3 x walillaahil hamd
Orang yang menyangkal dan menjiddal aku selama ini adalah sama seperti layaknya orang-orang yang menyangkal dan menjiddal rasul-rasul sebelum ini, yakni yang berjabat sebagai Ulama kah, Kiai kah, Tuan Syeikh kah, Ustadz kah, Da`i kah, Penceramahkah, atau apapun sebutannya, yang disangka mereka dengan ilmu, amal dan ibadah yang telah mereka tuntut, yang telah mereka usahakan, yang telah mereka Khitmadkan, dapat mengkoreksi Al Qur’an, Kalam Allah, Wahyu Ilahi yang aku sampaikan kepada mereka. Makanya yang menentang aku dalam menyampaikan Kalam Tuhan bukanlah orang bodoh tetapi adalah orang-orang yang menyangka mereka mengetahui tentang agama karena memang mereka sekolah agama bahkan sampai ke negri ‘arab, orang-orang yang menyangka bahwa ‘amalnya shalih, dan orang-orang yang menyangka bahwa ‘ibadahnya diterima oleh Tuhannya. Padahal tidaklah berfaedah ilmu, amal dan ibadah mereka melainkan Taqwa, namun kembali Al Masihud Dajjal membuat propaganda dengan mengatakan bahwa Taqwa harus dengan ilmu, amal dan ibadah. Inilah salah satu plesetan (Play-Setan = Permainan Setan) yang disangka benar oleh kebanyakan manusia.
Sudah menjadi kenyataan umum bahwa orang yang ilmunya sudah dituntut dari ibtidaiyah tsanawiyah, Aliyah, bahkan sampai keluar negeri; ke kairo, ke Arab Saudi, yang disangka mereka itu merupakan pusat Islam; orang yang ilmunya sudah dituntut sampai ke alam bathin (thariqat, hakikat, dan ma’rifat), itulah yang dikatakan mereka Ulama, ustadz, kiai, shekh dan lain-lain sebutan.
Namun aku ingatkan kepada kamu sekalian ‘Ulama` itu adalah pewaris Nabi-nabi. Sebagaimana Nabi didatangkan oleh tuhannya maka ‘ulama` pun didatangkan Tuhannya. Sebagaimana Nabi didatangkan sesuai atau tidak sesuai dengan ilmu, amal dan ibadah yang menurut fikiran manusia ketika itu begitu pula ‘Ulama` pewaris nabi-nabi, juga apakah sesuai atau tidak sesuai menurut fikiran manusia di zaman ini (saat ini) sesungguhnya Allah tidak tergagah atas segala sesuatu, bahkan ia berkuasa atas segala sesuatu. Allah tidak tergagah kehendaknya dengan kehendak manusia saat ini dan saat itu, bahkan Allah Maha berkehendak dengan siapa yang dikehendakinya.
Ulama yang dikatakan Ulama oleh manusia dengan kriteria ilmu, amal dan ibadah lebih cenderung menentang ‘Ulama` Pewaris Nabi, ulama yang menentang ‘ulama` pewaris nabi inilah yang dinamakan ulama dunia (Ulama Suu`).
Allaahu Akbar … 3 x walillaahil hamd
30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Allah ciptakan pemimpin yaitu Adam As di muka bumi; ketika itu ditentang keras oleh orang yang sudah sangat berilmu tinggi, beramal shaleh dan beribadah yang tidak sejengkal bumi yang tidak bekas sujudnya sampai hitam keningnya, yang ketika ramadhan ini takkan shalat tarawih 8 raka’at, yang 20 raka’atpun tiada satu malam ramadhan yang absen. Itulah ulama ketika itu yang akhirnya bergelar dengan Iblis (Pembangkang).
Aku ingatkan kepadamu hai manusia semuanya, karena aku hanyalah seorang pemberi peringatan kepada kamu sekaliannya, jangan ikuti olehmu langkah seperti ini, kalau kamu ikuti langkah seperti ini pasti kau lah yang menantang aku saat ini dan penantang para pewaris nabi sebelum aku.
Allaahu Akbar … 3 x walillaahil hamd
Setelah itu didatangkan Nuh As sebagai ‘Ulama` Pewaris Nabi ketika itu, yang mengajak kepada manusia untuk Taqwa kepada Allah serta taatilah aku, maka Nuh As sebagai ‘ulama` pewaris nabi ketika itu ditentang oleh Ulama dunia ketika itu, yang mana Ulama dunia ketika itu mengatakan taqwalah kepada Allah dan ikutilah yang dulu. Namun tetap si ulama pewaris Iblis mengatakan jangan percaya pada si Nuh karena si Nuh gila, bodoh, lagi sesat. Beginikah tingkahmu hai ulama, kerjamu hanya menyesat-nyesatkan orang?!
Allaahu Akbar … 3 x walillaahil hamd
Kemudian didatangkan Ibrahim As sebagai ‘ulama` pewaris nabi-nabi ketika itu yang mengajak manusia hanya kepada Allah dengan mengikutinya, bukan mengajak sembahyang seperti sembahyang nenek moyang mereka juga bukan puasa seperti nenek moyang mereka berpuasa. Ditentang oleh ulama ketika itu yaitu ulama Wadd, Suwa’, Yaguts, Ya’uq dan Nasr, yang kelima-limanya ini adalah ulama pengikut ajaran Nuh As. Ibrahim As mengajak manusia hanya kepada Allah dengan mengikutinya, manusia ketika itu menyombongkan diri dengan waddiyah, suwa’iyah, yaghutsiyah, ya’uqiyah dan nasriyah yaitu pengikut wadd, pengikut suwa’, pengikut yaguts, pengikut ya’uq dan pengikut nasr.
Aku mengajak kamu kepada Allah atas hujjah yang nyata, kebanyakan kamu menyombongkan ustadzmu, kiaimu, shekhmu, gurumu, MUI mu. Yang kamu katakan pengikut Imam Malik (Malikiyah), Hambali (Hambaliyah), Hanafi (Hanafiyah), Syafi’i (syafi’iyah), Asy’ari (Asy’ariyah). Maka adakah kamu yang berfikir …?!
Lalu diutus Musa As selaku ‘ulama` ketika itu kepada kaumnya yang mengajak kepada tuhan yang satu dengan mengikuti rasulNya. Maka sangat sedikit yang percaya (mukmin). Yang mukmin ketika Musa As berkata: "taqwalah kamu sekalian kepada Allah dan rasulNya", maka orang yang beriman yang mengikuti Musa As sangat mengetahui siapa Allah dan rasulNya yang dikatakan Musa As. Dengan mengikuti Musa As itulah mengikuti rasul serta di jalan Allah.
Ulama yang berdiri di samping Fir’aun, di samping raja, di samping presiden, di samping pemerintah, tetap bersenandungkan laguuUUlama nya bahwa: "tidak ada Rasul lagi setelahnya". Ini lagu ulama dunia, ulama suu` yang pewaris dajjal dengan gigihnya sebagai senjatanya untuk menyerang ‘ulama` pewaris nabi. Dan kalimat ini sebagai bangunan benteng yang sangat kokoh yang telah dipersiapkan Al masihud dajjal jauh sebelum kedatanganku menyampaikan kalam tuhan.sekarang ini.
Maka ketika aku kumandangkan didepan Majelis Ulama Indonesia tkt. I Sumatera Utara tahun 2004 sebelum terjadinya peristiwa yang menggemparkan dunia yaitu tsunami di Aceh, setelah mereka menyerang kediamanku yang Alhamdulillaah aku dan pengikutku dimenangkan oleh tuhanku, sepotong ayat, sepotong kalam Allah, sepotong wahyu ilahi yang dalam bahasa kaumnya: "Maka setelah ia mati kamu berkata, tidak akan dibangkitkan oleh Allah Ta’ala satu orang rasulpun setelahnya, padahal ini adalah kalimat orang yang disesatkan Allah karena mereka melampaui batas dan ragu-ragu". Lalu si MUI menjiddal, membantah dengan katanya, ini dulu pak Jubir. Karena memang pangkal ayat ada kalimat Yusuf. Maka aku sampaikan lagi satu ayat yang bahasa kamunya: "Dan apabila kamu bacakan kehadapannya ayat-ayat kami, ia berkata: ini cerita dulu". Lalu mereka terdiam, namun entah apa hubungannya mereka menanyakan aku lulusan apa. Mungkin kalau aku lulusan Kairo dsb, jadi benar kalam tuhan yang kubacakan kehadapannya. Tapi aku orang ummi yang tak pandai bahasa ‘arab, orang a’jam, maka mereka menyombongkan diri. Dan mereka biarkan selebaran dengan mengatas namakan MUI, bahwa aku sesat tersebar seluas-luasnya dikalangan masyarakat. Walau kalau mereka ditanya, mereka saling mengelak dengan mengatakan bahwa kami tidak memfatwakan sesat. Maha benar Allah dengan segala firmannya. Maka adakah kamu yang mendapat pelajaran … ?!
Allaahu akbar 3 x walillaahil hamd
Didatangkan ‘Isa Almasih anak Maryam, selaku ‘ulama` pewaris nabi ketika itu, juga ditentang hebat bahkan hendak dibunuh oleh ulama dunia ketika itu. Ulama dunia belahan Timurkah atau Barat, ulama belahan Timur Tengahkah atau Asia Tenggara, ulama Indonesiakah atau Kairo, ulama Sumatera bagian Utarakah atau Medan, ulama yahudikah namanya, jika ia menentang ‘ulama` pewaris nabi, inilah ulama suu`, ulama jahat. Yang apabila dikatakan pada mereka: "jangan buat kerusakan di muka bumi", mereka berkata: "kami orang shalih". Inilah Almasihud dajjal, mereka hendak menipu Allah dengan ilmunya yang tinggi, dengan amalnya yang baik-baik, dengan ibadah shalat puasa yang tak tinggal, berinfaq, bahkan berhajji berkali-kali; mereka hendak menipu orang yang benar imannya, bukan hanya beriman kepada yang dulu tapi sudah beriman kepada yang akhir yang didatang Allah kini, padahal tidaklah mereka menipu melainkan mereka sedang menipu diri mereka sendiri, namun mereka tak sadar. Adakah kamu mau menyadari wahai orang-orang yang berkemul dengan ilmu, amal dan ibadah … ?!
Lebih dari 1400 tahun yang lalu telah didatangkan pula Muhammad SAW anak ‘abdullah, bapak si Qasim, suami khadijah, keponaan Abu Thalib selaku pewaris nabi-nabi terdahulu. Jikalah seandainya ‘Abdullah mengatakan Muhammad adalah anakku, benar! tapi belum Islam; si Qasim mengatakan Muhammad adalah ayahku, benar! tapi belum Islam, Khadijah mengatakan Muhammad suamiku, benar! tapi belum Islam, Abu Thalib mengatakan Muhammad keponaanku, benar! maka api neraka masuk melalui rambut dan kukunya. Juga ditentang oleh ulama ketika itu sampai diperangi. Ulama ketika itu tetap dengan laguuUlamanya (tidak ada lagi rasul setelahnya). Mereka enggan dan menyombongkan diri tidak mau mengatakan Muhammad utusan Allah apalagi mengi’tiqadkannya. Mereka hanya mau mengatakan dan mengi’tiqadkan bahwa Muhammad anak ‘Abdullah, Muhammad bapak si Qasim, Muhammad suami khadijah, Muhammad keponaan Abu Thalib dan berbagai macam Muhammad. Kalau sekarang mereka mengi’tiqadkan Muhammad 1400 yang lalu. Setipis kulit bawang propaganda Almasihud dajjal.
Allaahu akbar 3 x walillaahil hamd
Wahai orang-orang yang telah beriman, demikianlah disampaikan kepada kamu kisah-kisah para rasul semoga menjadi pelajaran bagimu sekalian. Ketahuilah olehmu, benarnya kamu percaya kepada Allah, Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dan pengatur alam semesta itu, terbukti ketika datang rasul Allah kepadamu yang menjelaskan ayat-ayatnya pada masa dan zamannya kamu mengikutinya dan berjuang bersamanya, karena dialah Muhammad yang bukan Bapak dari salah seorang lelaki diantara kamu akan tetapi dia adalah Utusan Allah dan pengesah dari semua pembawa berita besar.
Maka pada khuthbah ini, aku kumandangkan kepada kamu sekalian satu Kalam Tuhan.
128. Sungguh Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin
.
Wahai orang-orang yang beriman bershabarlah kamu dan kuatkanlah keshabaranmu dan tetaplah bersiap siaga, dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.
Baarakallaahu lii wa lakum fil qur`aanil ‘azhiim. Wanafa’anii wa iyyakum bimaa fiihi minal aayaati wadzdzikril hakiim. Wataqabbala minnii wa minkum tilaawattahu, innahu huwas samii’ul ‘aliim. Aquulu qauli hadzaa, fastagfiruuh, innallaaha gafuurur rahiim.
KHUTBAH ke-2
Allaahu akbar ...7 x kabiira, walhamdulillaahi katsiira, wa subhaanallaahi bukratan wa ashiila. Alhamdulillaahilladzii anzala ‘alaa ‘abdihil kitaaba wa lam yaj’allahu ‘iwaja.
Asyhadu an laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhuu rasuuluh.
Allaahumma shallii wa sallim wa baarik ‘alaa saiyyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihii wa ashhaabihii ajma’iin.
‘amma ba’du fa yaa ‘ibaadallaah : ittaqullaaha mastatha’tum, wa saari’uu ilaa magfiratir rabbil ‘aalamiin.
Fa qaala ta’aala : innallaaha wa malaa-ikatahuu yushalluuna ‘alannabiyy, yaa aiyyuhalladziina aamanuu shalluu ‘alaihi wa sallimu tasliimaa.
Allaahumma shallii wa sallim wa baarik ‘alaa saiyyidinaa Muhammad, saiyyidil mursaliin, wa ‘alaa aalihii wa ashhaabihii wa azwaajihii wa dzurriyyatihii ajma’iin. Wardhallaahumma ‘alaa arba’atihil khulafaa-ir raasyidiin, Abii bakrin wa ‘umara wa ‘utsmana wa ‘aliy, wa ‘alaa baqiyyatish shahaabati wattaabi’iin, wa taabi’it taabi’iin waman tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin, wa ‘alainaa birahmatika yaa arhamar raahimiin.
Allaahummashlih wulaati jamii’il muslimiin, wanshuril islaama wal muslimiin, wa ahlikil kafarati wal musyrikiin, wa a’li kalimatika ilaa yaumid diin.
Allaahummagfir lil muslimiina wal muslimaat, walmu`miniina wal mu`minaat, al ahyaa-i minhum wal amwaat, innaka samii’un qariibun mujiibud da’waat, wa yaa qaadhiyal haajaat. Rabbanaa aamannaa bimaa anzalta wattaba’nar rasuula faktubnaa ma’asy syaahidiin.
Yaa tuhan kami, kami telah beriman dan mengikuti Rasul yang telah engkau turunkan sekarang ini dan teguhkanlah kami sebagai saksi-saksi.
Akaana linnaasi ‘ajaban an auhaina ilaa rajulin minhum an andzirin naasa wabasysyirilladziina aamanu annalahum qadama shidqin ‘inda rabbihim. Qaalal kaafiruuna inna hadzaa lasaahirun mubiin.
Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa kami mewahyukan kepada seorang laki-laki diantara mereka, bahwa ia memperingatkan pada manusia dan memberi kabar gembira untuk orang-orang yang beriman bahwa bagi mereka kedudukan yang tinggi disisi tuhan mereka. Yang kafir malah mengatakan sesungguhnya dia mengada-ada.
Yaa Allah telah kami sampaikan apa yang telah engkau wahyukan kepada kami berupa Alqur`an kepada khalayak ramai; maka ampunkanlah kami atas kebodohan kami menyampaikan ayat-ayatmu sehingga manusia sekeliling kami mengolok-olok kami.
Yaa Allah telah kami sampaikan apa yang telah engkau wahyukan kepada kami berupa Alqur`an kepada khalayak ramai; maka ampunkanlah kami atas kelemahan kami menyampaikan ayat-ayatmu sehingga manusia sekeliling kami menyerang kami.
Yaa Allah telah kami sampaikan apa yang telah engkau wahyukan kepada kami berupa Alqur`an kepada khalayak ramai; maka ampunkanlah kami karena mereka menyangka bahwa engkau tidak berkehendak dengan kehendak mereka.
Tolonglah kami yaa Allah, karena setiap didatangkan kepada mereka seorang Rasul, tapi tidak sesuai dengan keinginan mereka maka mereka menyombongkan diri terhadapnya dan mendustakannya bahkan mereka berhasrat membunuhnya yang disangka mereka itu adalah perbuatan yang mulia. Tolonglah mereka yaa Allah, karena mereka mamandang mulia perbuatan yang hina disisimu, mereka memandang baik perbuatan yang buruk.
Yaa Allah kami telah mengikuti pemimpin yang telah engkau datangkan diakhir zaman ini, sedang mereka mengikuti langkah syaithan yang nyata, dengan mengatakan tidak wajib taat kepada pemimpin.
Yaa Allah terimalah syukur kami pada hari ini yang telah engkau turunkan Alqur`an kapada kami sehingga engkau berikan kekuatan kepada kami untuk mengumandangkannya secara jelas dan terang kekhalayak ramai. Sehingga dengan Alqur`an yang engkau turunkan kepada kami menjadi senjata sekaligus tameng untuk meruntuhkan bangunan kokoh yang dibangun Almasih addajjal.
Yaa Allah lindungi kami dari godaan syaithan yang terkutuk, dari Almsih addajjal, dari ulama suu` yang sentiasa membuat kesamaran, yang mereka mengatakan seperti apa yang aku dan pembawa berita besar sebelum aku katakan "taqwalah kamu kepada Allah dan Rasul". Orang yang beriman kepadaku dan kepada pembawa berita sebelumku nyata mengikutiku; sedang orang yang meragukanku dan memusuhiku disamarkan oleh ulama, dajjal, syaithan sehinga mereka memandang baik perbuatan yang buruk membunuh para pembawa berita besar sebelumku.
Yaa Allah tolonglah kami dalam berjuang pada agamamu, menangkan kami dari syaithan yang nyata, dari almasih yang pembohong, dari ulama yang menjahati ‘ulama` pewaris nabi.
Yaa Allah seandainya kami kalah dalam perjuangan ini maka tidak ada lagi orang yang mengumandangkan Kalammu yaa Allah. Yang ada hanya orang-orang yang melagukan alqur`an dengan lagu sikah, rass, dan sebagai macam lagu yang mereka menyangka itu adalah alqur`an.
Yaa Allah kami telah beriman dengan apa yang engkau turunkan sekarang ini, maka jadikan kami syuhada` yang tidak hanya menunggu iming-iming syaithan, dajjal, dan ulama bahwa Imam Mahdi nanti, entah kapan, datangnya; ‘isa turun dari langit seperi layaknya mereka menunggu engkau yaa Allah turun dalam naungan awan disertai para malaikat lalu engkau putuskan perkara, entah didunia ini, dimahsyar atau disurga nanti; pada hal kepada Allah dikembalikan segala perkara.
Yaa Arhamar raahimiin, irhamnaa… Yaa Arhamar raahimiin, irhamnaa… Yaa Arhamar raahimiin, irhamnaa…
Rabbanaa aatinaa fiddunya hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qina ‘adzaaban naar.
‘ibaadallaah. Innallaaha ya`murukum bil ‘adli wal ihsaan, wa iitaa-idzil qur`baa wa yanhaa ‘anil fahsyaa-i wal munkari wal bagy. Ya’iizhukum la’allakum tadzakkaruun, fadzkurullaaha yadzkurkum wad’uuhu yastajiblakum wa ladzikrullaahi akbar. Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. |
 | beri artikel beserta foto donk.......... |
 | wa'alaikum salam. amiin, terima ksih doanya pak Rahmat
salam kenal juga dari kami. |
 | Assalamualaikum WR WB Pa Haji
Semoga kesehatan dan keberkahan selalu menyertai, salam kenal dari saya
|
 | masih semangatkan pak haji,,?? |
 | Assalaamu alaikum! Pak Haji, Salam kenal dari saya Dicky. Terima kasih sudah mengisi buku tamu saya. Alhamdulillahi jaza kallohu khoiron. |
| |